PIALA DUNIA 2026

Haiti Menguji Keyakinan Ancelotti

Haiti akan menjadi ujian berikutnya bagi Brasil di Piala Dunia 2026. Melihat jarak peringkat kedua tim, laga ini ibarat Daud melawan Goliath.

18 Jun 2026 15:25 WIB · Olahraga

Getty Images via AFP/Justin Setterfield

Oleh Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika Serikat

Ditahan imbang Maroko 1-1 pada laga perdana Grup C Piala Dunia 2026 cukup membuat pendukung Brasil kelimpungan. Aura kegembiraan ”Samba” yang mereka perlihatkan sebelum laga kini sedikit lebih muram. 

Namun, tidak demikian dengan Pelatih Carlo Ancelotti. Pelatih asal Italia ini tetap tenang dan yakin bahwa perjalanan Brasil di Piala Dunia akan mulus. ”Anda tidak memenangi Piala Dunia pada laga pertama,” kata Ancelotti. 

Meski sempat meminta maaf karena permainan timnya yang kurang maksimal pada laga pertama, Ancelotti tampak yakin Brasil bisa mengulang sejarah 1994. Ketika itu, Brasil menjadi juara setelah mengalahkan Italia lewat adu penalti.

”Inilah hasil yang kami dapatkan. Ini tidak buruk, tetapi kami akan terus bangkit mulai dari pertandingan kedua dan seterusnya,” ujar Ancelotti. 

Keyakinan Ancelotti tersebut akan diuji oleh Haiti, peserta dengan ranking FIFA terendah di Piala Dunia 2026 pada laga kedua Grup C di Stadion Philadelphia atau Stadion Lincoln Financial di Philadelphia, Sabtu (20/6/2026) pukul 07.30 WIB.

Saat turnamen dimulai, Haiti berperingkat ke-83 dunia atau hanya dua posisi saja di atas Selandia Baru yang memegang rekor tim dengan peringkat terendah di turnamen ini. 

Haiti—negara termiskin di belahan Bumi barat—lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974 dengan kegigihan yang menginspirasi. Mereka menjungkirbalikkan prediksi dengan mengalahkan rival-rival yang lebih terkenal.

Haiti fans watch the 2026 FIFA World Cup match between Haiti and Scotland, in Petion-ville, Port-au-Prince, Haiti, on June 13, 2026. (Photo by Clarens SIFFROY / AFP)

Karena geng bersenjata menguasai sebagian besar ibu kota negara tempat stadion kandang tim berada, Haiti harus memainkan laga kualifikasi kandang mereka di Pulau Karibia, Curacao, tanpa dukungan dari penggemar lokalnya.  

Kekalahan 0-1 dari Skotlandia pada laga perdana membuat Haiti kini berada di posisi buncit Grup C. Akibat kekalahan itu pula, ranking Haiti merosot ke-85. Adapun Selandia Baru yang menahan imbang Iran, 2-2, melonjak ke peringkat ke-82. 

Goliath vs Daud

Pertandingan Brasil lawan Haiti pun ibarat duel antara Goliath melawan Daud. Kedua negara ini telah bertemu empat kali sebelumnya. Selecao meraih kemenangan telak dengan selisih enam gol dalam dua pertemuan terakhir, yaitu menang 7-1 di Piala America Centenario 2016 dan 6-0 dalam laga uji coba pada 2004. 

Akan tetapi, Brasil harus menyadari bahwa pertandingan Piala Dunia jarang sekali berjalan seperti naskah diinginkan. Sudah ada sejumlah kejutan di Amerika, yaitu ketika Spanyol ditahan imbang 0-0 oleh Tanjung Verde dan Portugal yang ditahan imbang 1-1 oleh Republik Demokratik Kongo. 

Quote

Endrick diperlukan karena penyerang senior Neymar kemungkinan bakal masih absen.

Menurut Ancelotti, pemainnya tidak bisa mengembangkan permainan saat melawan Maroko karena terlalu tegang dan gugup menghadapi laga pertama. Melawan Haiti yang di atas kertas jauh di bawah Maroko, Ancelotti seharusnya tidak perlu meminta pemainnya bermain terlalu berhati-hati. Hal itu bisa dicerminkan dari susunan pemain yang akan diturunkannya nanti. 

Berkaca pada laga perdana, Carlo Ancelotti menghadapi pekerjaan rumah yang cukup besar untuk mengembalikan efisiensi lini serang Brasil. Saat ditahan imbang Maroko 1-1, Selecao terlihat terlalu tegang sehingga aliran bola dari lini tengah ke depan sering kali tersendat dan mudah diantisipasi. 

Infografik Prediksi Final dan Juara Piala Dunia 2026

Di sisi lain, meski kalah 0-1 dari Skotlandia, ”Les Grenadiers” menunjukkan bahwa mereka bukanlah tim yang mudah menyerah. Kegigihan dan kedisiplinan organisasi pertahanan yang mereka perlihatkan saat meredam serangan Skotlandia bisa menjadi batu sandungan serius jika Brasil kembali bermain dengan tempo lambat dan monoton. 

Untuk membongkar pertahanan berlapis Haiti, Ancelotti harus menepikan Igor Thiago yang tampil tidak efektif pada laga pertama. Menurunkan Matheus Cunha sebagai ujung tombak bisa menjadi solusi taktis karena karakteristiknya yang lebih dinamis dan gemar bergerak melebar atau menjemput bola. Alternatif itu penting untuk menarik keluar para pemain bertahan Haiti yang bakal bermain rapat menumpuk di dalam kotak penalti.    

Selain itu, desakan suporter untuk memainkan Endrick layak dipertimbangkan sejak menit awal atau sebagai impact sub awal di babak kedua. Kelincahan dan ketajaman penyerang muda ini bisa memberikan dimensi kejutan yang tidak dimiliki Brasil saat melawan Maroko.

Pemain muda

Endrick diperlukan karena penyerang senior Neymar kemungkinan bakal masih absen karena belum sepenuhnya pulih dari cedera. Terlebih, pada turnamen kali ini, sejumlah pemain muda terlihat mampu memberikan kejutan.

Pemain berusia 18 tahun Senegal, Ibrahim Mbaye, mampu mencetak gol ke gawang Perancis, sedangkan pemain Ghana berusia 20 tahun, Caleb Yirenkyi, menjadi penentu kemenangan atas Panama. 

Haiti dipastikan akan bermain defensif, mengandalkan blok rendah, menumpuk para pemain di lini pertahanan, dan menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik cepat memanfaatkan ruang di belakang bek sayap Brasil.

Sejumlah pendukung asal Brasil menyanyikan lagu-lagu dukungan untuk tim nasional mereka di kawasan Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Rabu (10/6/2026). Pada sehari menjelang pembukaan Piala Dunia 2026 para pendukung dari sejumlah tim nasional telah memadati sejumlah titik kawasan di Azteca baik mencari tiket pertandingan maupun sekadar meramaikan suasana Piala Dunia 2026.ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

Oleh karena itu, peran gelandang berpengalaman, seperti Casemiro, akan krusial dalam memotong transisi Haiti sebelum memasuki wilayah sepertiga akhir. Hanya saja, Casemiro dan juga Lucas Paqueta bermain buruk saat laga lawan Maroko yang membuatnya digantikan oleh Fabinho pada awal babak kedua.  

Meski demikian, fokus utama Brasil harus ada pada kreativitas lini tengah-lini serang. Alih-alih terlalu berhati-hati, Ancelotti perlu menginstruksikan para gelandangnya untuk berani melepaskan umpan-umpan progresif langsung ke jantung pertahanan lawan dan memaksimalkan situasi one-on-one di sektor sayap.  

Ancelotti harus berani memanfaatkan keunggulan talenta yang mereka miliki, terutama di sektor sayap, yaitu Vinicius Junior dan Raphinha. Keunggulan individu itu terbukti ketika Vinicius mampu mencetak gol penyama kedudukan lawan Maroko setelah menggocek Achraf Hakimi. 

Kecepatan sirkulasi bola akan menjadi kunci utama. Jika Brasil bermain terlalu lambat, Haiti akan memiliki waktu yang cukup untuk merapatkan barisan pertahanan mereka. Tim asuhan Sebastien Migne ini mengandalkan ketangguhan lini belakang, keunggulan fisik, duel-duel udara, dan serangan balik sporadis.

Lini belakang Brasil, terutama bek kanan Roger Ibanez yang terlambat menutup gerakan pencetak gol Maroko, Ismael Saibari, harus lebih waspada terhadap serangan balik cepat dari penyerang sayap Haiti yang bisa memanfaatkan kelengahan pertahanan lawan.

Di atas kertas, laga ini tetap menempatkan Brasil sebagai favorit untuk menang. Namun, agar tidak menjadi korban kejutan berikutnya di tanah Amerika, Brasil wajib bermain lebih lepas. Mereka harus bermain lebih berani dengan gocekan individu sesuai ciri khas mereka sebagai tim Samba.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika Serikat
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto