Apa pun situasi politiknya, tradisi halalbihalal saat Lebaran terpelihara dari presiden ke presiden. Selain elite politik, silaturahmi juga dijalin dengan warga.
01 Apr 2025 16:05 WIB · Politik & Hukum
Pintu gerbang Istana Merdeka terbuka. Pintu gerbang ini khusus untuk presiden, wakil presiden, ataupun mantan presiden-wapres. Pasukan Cordon sudah berjajar memberi hormat. Musik penyambut pun terdengar berderap.
Sebuah mobil hitam berpelat nomor hitam diikuti mobil hitam lain berpelat nomor merah Markas Besar TNI melintas. Di samping teras Istana Merdeka, mobil berhenti dan tampak Jusuf Kalla, Wapres kesepuluh dan kedua belas RI, bersama Nyonya Mufidah, serta putra mereka, Solihin Kalla.
Wapres Gibran Rakabumingraka yang tiba tak lama sebelumnya langsung menyambut di ujung tangga. Dia menyalami sembari membungkuk.
Jusuf Kalla atau lebih dikenal sebagai JK bersilaturahmi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (31/3/2025). Ini dilakukan seusai menunaikan shalat Idul Fitri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/f731b8f1-0371-432b-abd3-ef4459255c9b_jpg.jpg)
Berselang sekitar setengah jam, derap musik penyambutan kembali terdengar. Kali ini, Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono yang tiba di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.
SBY, demikian lebih akrab dipanggil, hadir bersama putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono yang juga Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, serta putra bungsunya, anggota DPR Edhie Baskoro Yudhoyono. Keduanya membawa serta istri dan anak-anak mereka. Semua mengenakan kostum lebaran berwarna biru elektrik.
Silaturahmi juga dilakukan Presiden Prabowo kepada Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri. Kendati tak hadir langsung, putra tunggalnya Ragowo Hediprasetyo atau lebih dikenal sebagai Didit Hediprasetyo tampak menyambangi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta, bersama Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/656cb97c-1175-45c5-8305-21af864a97bb_jpg.jpg)
Putri Megawati, Puan Maharani yang kini menjabat Ketua DPR, segera mengunggah foto-foto pertemuan tersebut. Puan tampak mengenakan kebaya biru berbordir. Putrinya, Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari atau dikenal sebagai Pinka Haprani, menggunakan kebaya hijau, sedangkan Megawati berkebaya merah dengan bordiran bunga. Adapun Didit mengenakan bajo koko berwarna hijau muda dan berpeci hitam.
”Silaturahmi,” tulis Puan di media sosialnya sembari berterima kasih atas kehadiran Didit, Muzani, serta Ketua DPD Sutan Najamudin.
Ahmad Muzani pun di media sosialnya menuliskan, momen silaturahmi dan halalbihalal ini penuh kebersamaan, kehangatan, dan keberkahan. ”Semoga silaturahmi ini membawa berkah dan kebaikan untuk kita semua, serta dapat mempererat tali persaudaraan antarkita semua. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin,” tulisnya.
Pertemuan ini, menurut Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ahmad Basarah, menunjukkan hubungan pribadi antara Megawati dan Prabowo yang sangat baik sejak lama. ”Itu dibuktikan dengan silaturahmi Pak Didit hari ini ke kediaman beliau (Megawati). Dan saya kira silaturahmi antara Ibu Mega dan Pak Prabowo itu hanya tinggal menunggu waktu,” tuturnya, Senin sore.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/25cd0199542f4907f2a6666f4ae2a5d0-cropped_image.jpg)
Tak hanya itu, Didit disebutnya berhubungan baik dengan Pinka Haprani. Basarah pun berharap kunjungan Didit semakin memperkuat hubungan antara Prabowo dan Didit.
Semoga silaturahmi ini membawa berkah dan kebaikan untuk kita semua, serta dapat mempererat tali persaudaraan antarkita semua. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.
Muzani sendiri menyebut sudah menyambangi rumah Wapres JK, Wapres keenam RI Try Sutrisno, dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut dia, tak ada pembahasan politik sepanjang anjangsana Lebaran ini. Semua fokus pada suasana yang fitri dan bermaafan. Prabowo pun, disebutnya, tak menitipkan pesan apa pun.
Sorenya, Didit terpantau mengunjungi kediaman Presiden ketujuh RI Joko Widodo di Sumber, Surakarta. Pada momen ini, dia sudah berganti busana batik biru dengan corak bunga merah.
Pada masa kepemimpinan Presiden sebelumya, Idul Fitri juga menjadi momen silaturahmi. Presiden Jokowi, misalnya, tak pernah absen ke kediaman Megawati, Ketua Umum PDI-P, seusai menggelar gelar griya atau open house di Istana.
Namun, setelah Jokowi menentukan sikap politiknya mendukung Prabowo yang berpasangan dengan putra sulungnya, Gibran, dalam Pemilu Presiden 2019, pertemuan Jokowi-Megawati tak lagi terjadi. Saat itu Megawati dan PDI-P mendukung pasangan calon presiden Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/31/7b769002-9d94-439e-bd54-7e0ce9206202_jpg.jpg)
Selain itu, Presiden ketiga RI BJ Habibie menjadi pemimpin yang memanfaatkan momentum halalbihalal ini untuk memperkuat silaturahmi dan kerja sama. Presiden Habibie tak menggelar open house karena kepemimpinannya berlangsung di masa krisis. Karena itu, Habibie hanya bersilaturahmi dengan karyawan Sekretariat Negara dan wartawan selain mengunjungi beberapa tokoh.
Para tokoh itu antara lain Jenderal Besar (Purn) Abdul Haris Nasution di Jalan Teuku Umar Nomor 43 Jakarta, mantan Direktur Utama Pertamina Mayor Jenderal (Purn) Ibnu Sutowo, mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Suroro, mantan Wapres Umar Wirahadikusumah, dan kerabatnya Kolonel (CPM-Purn) Roesli. Habibie juga mengunjungi ibu mertuanya, S Moh Besari, di Bandung, Jawa Barat.
Merujuk arsip Kompas, tradisi halalbihalal disebut mulai populer sejak Soekarno menggelar halalbihalal nasional. Ketika itu, dia mengadakan hajatan tersebut untuk menjalin rekonsiliasi antarelite yang tengah mengalami perbedaan aliran politik semasa kabinet parlementer. Kebetulan saat itu sedang muncul pemberontakan dan terdapat wacana Belanda bercokol kembali meski Indonesia baru berdiri tiga tahun (Kompas, 16/1/2021).
Segala kondisi itu membuat Soekarno cemas. Dia khawatir akan terjadi disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, diundanglah KH Abdul Wahab Hasbullah, Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), untuk berdiskusi. Tema pembahasannya adalah meningkatnya tensi perseteruan antargolongan dan aliran politik masa itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/30/64eef08db364c6bb5545c79b461297f2-WhatsApp_Image_2025_03_30_at_10.15.36.jpeg)
Sebagaimana tertulis dalam buku Mbah Wahab Hasbullah, Kiai Nasionalis Pendiri NU, yang ditulis KH Saifuddin Zuhri, Mbah Wahab kemudian mengusulkan agar digelar silaturahmi nasional demi mempertemukan para elite. Momentumnya kebetulan berdekatan dengan perayaan Idul Fitri.
Hanya saja, usulan tak langsung diterima. Soekarno keberatan menggunakan diksi silaturahmi. Menurut dia, istilah itu terlalu umum. Lantas, Wahab menawarkan kata lain, yakni ”Halalbihalal”.
Kepada Soekarno, Wahab menjelaskan, alasan yang melatari enggan bertemunya para elite politik gegara satu sama lain saling menyalahkan. Tindakan saling menyalahkan termasuk perbuatan dosa sehingga tergolong haram. Untuk itu, mereka mesti duduk bersama, saling memaafkan, dan menghalalkan.
Namun, untuk merawat hubungan yang sudah mencair ini, diperlukan komitmen untuk merawat demokrasi dan menata pemerintahan yang bersih sehingga proses ini akan mendapat legitimasi publik.
Soekarno menerima penjelasan itu dan menyetujuinya. Alhasil, para elite lintas golongan dan aliran politik saling bertemu dalam satu ruang bersama. Mereka duduk satu meja dalam bingkai halalbihalal pada Lebaran 1948.
Sejak saat itu, halalbihalal terus berlangsung dalam setiap perayaan Idul Fitri. Sayangnya, situasi politik dalam negeri tetap memanas hingga akhirnya Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan menandai era dimulainya Demokrasi Terpimpin.
Istilah halalbihalal ini sudah muncul dalam majalah Soewara Moehammadijah edisi Nomor 5 Tahun 1924. Direktur Suara Muhammadiyah Deni As’ary pernah menyebutkan istilah chalal bichalal berisi anjuran umat Islam untuk saling mengunjungi dan saling memaafkan.
Adapun tahun 1926 di majalah SM, muncul advertorial mengajak masyarakat memasang iklan ucapan selamat Idul Fitri. Kali ini, digunakan istilah alal bahalal.
Pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya Airlangga Pribadi menilai kehadiran tokoh dalam halalbihalal memang bisa mencairkan suasana, apabila ada ketegangan. ”Namun, untuk merawat hubungan yang sudah mencair ini, diperlukan komitmen untuk merawat demokrasi dan menata pemerintahan yang bersih sehingga proses ini akan mendapat legitimasi publik,” tuturnya, Selasa (1/4/2025).
Penulis:
Nina Susilo, Nino Citra AnugrahantoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari