Belum habis masanya Emilia Nova, nomor 100 lari gawang putri sudah punya jagoan lain, Dina Aulia. Emas SEA Games Thailand 2025 jadi pembuktiannya.
13 Des 2025 13:14 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Indonesia patut berbangga. Belum habis masanya Emilia Nova, cabang atletik nomor 100 lari gawang putri sudah punya jagoan lain, Dina Aulia. Medali emas SEA Games Thailand 2025 pun jadi penegasan kehebatannya.
Dina Aulia dan Emilia Nova hanya terpaut waktu 0,06 detik saat finis dalam perlombaan final di Stadion Suphachalasai, Bangkok, Thailand, Jumat (12/12/2025) malam. Dina finis lebih dulu dalam waktu 13,21 detik, sedangkan Emilia menyusul dengan catatan 13,27 detik.
Selisih waktu yang bahkan lebih cepat dari kedipan mata itu bermakna banyak. Selain penegasan Emilia yang masih mampu meraih perak meski berkali-kali dihadang cedera, ini juga menunjukkan regenerasi pelari gawang putri berjalan mulus dengan emas dari Dina.
Dina dan Emilia sejak sebelum SEA Games Vietnam 2021 sudah digadang-gadang akan menjadi dua amunisi Indonesia ketika dikirim ke ajang multicabang. Namun, di SEA Games Kamboja 2023, ketika keduanya dikirim bersama, Emilia tanpa medali setelah finis di peringkat keempat, sedangkan Dina harus puas dengan perunggu.
Medali ini untuk mengapresiasi diriku, aku menjawab tantangan setelah di Kamboja peringkat ketiga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/884a5d731630bb42ddc186b4122dfbc0-20251212FAK04.jpg)
”Kalau di Kamboja, aku peringkat ketiga, peringkat satu dan duanya Vietnam. Sekarang gantian kami yang peringkat satu dan dua, Vietnam-nya ketiga,” kata Dina. Pelari Vietnam, Thi My Tien Hynh, cuma bisa membuntuti Dina dan Emilia dengan catatan waktu 13,42 detik.
Dina mengatakan, medali emas adalah tantangan yang ia berikan kepada diri sendiri setelah hasil tidak memuaskan di Kamboja. Pada edisi sebelumnya itu, pelari 22 tahun ini sebenarnya punya bekal rekor catatan waktu pribadi yang melampaui para calon pesaingnya.
Dengan rekor pribadi 13,44 detik, Dina di atas kertas bisa unggul atas Bu Thi Nguyen, yang meraih emas SEA Games Vietnam 2021, dengan rekor pribadi 13,51 detik. Pelari asal Kalimantan Selatan ini juga melampaui catatan waktu terbaik pelari Vietnam lainnya, Thi My Tien Huynh, pada 2021 dengan 13,59 detik.
Namun, hasil di perlombaan sering kali tidak sesuai dengan catatan di atas kertas. Ketika semua pelari melambat pada final, Dina juga. Ia finis dengan 13,59 detik ketika peraih emas, Thi My Tien Hynh, finis dengan 13,50 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/11357d556d0460c46016d0c1c25e9961-FAK_2753.jpg)
”Medali ini untuk mengapresiasi diriku, aku menjawab tantangan setelah di Kamboja peringkat ketiga,” ucap Dina.
Kali ini, Dina membuktikan bahwa keunggulannya bukan hanya di atas kertas. Dina juga membuktikan optimisme pelatihnya, Fitri ”Ongky” Haryadi. Ongky yakin, SEA Games Thailand adalah waktunya Dina meraih emas.
Optimisme Ongky bukan tanpa alasan. Performa Dina di nomor spesialisasinya, lari gawang 100 meter, terbukti melejit. Catatan waktunya bahkan meningkat tajam pada 2025. Pada Kejuaraan Asia Atletik di Gumi, Korea Selatan, pada Mei lalu, Dina memecahkan rekor nasional dengan 13,11 detik.
Dina juga melampaui dua pelari Vietnam itu. Dalam Kejuaraan Asia Atletik, ketika Dina memecahkan rekor, Thi My Tien Huynh hanya menempati peringkat ketujuh dengan catatan waktu 13,51 detik. Catatan waktu ini juga menjadi rekor terbaik Tien Hynh tahun ini. Sementara itu, Bui Thi Nguyen mencatatkan 13,43 detik di Kejuaraan Atletik Hong Kong 2025 sebagai catatan waktu tercepatnya tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/7ee043248159570c855b6774f16a4047-20251212FAK05.jpg)
Keputusan Ongky untuk tidak menurunkan Dina di nomor lari 100 meter pun terbukti tepat. Karena digelar lebih dulu pada Kamis (11/12/2025), Ongky khawatir Dina justru tidak bisa maksimal di nomor spesialisasinya, lari gawang 100 meter, ataupun nomor lari 100 meter. Alhasil, peluang emas pun bisa terancam.
Dina sudah menunjukkan potensinya sejak tampil gemilang dalam Kejuaraan Dunia Atletik U-20 2022. Ia memang belum berhasil meraih medali, tetapi mampu menembus semifinal dengan mencetak rekor pribadi 13,44 detik. Perkembangannya pun signifikan sejak pertama kali terjun di lari gawang 100 meter pada 2019.
Dengan emas di Thailand, Dina bisa fokus pada target dan tantangan lain untuk dirinya, yaitu menembus Olimpiade lewat jalur kualifikasi. Untuk bisa lolos ke Olimpiade, Dina harus mencapai limit yang ditentukan. Pada Olimpiade Paris 2024, limitnya adalah 12,77 detik.
”Aku ingin mewujudkan mimpi aku, main di Olimpiade Los Angeles 2028. Tidak cuma main, tetapi juga ingin medali,” ujar Dina.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/56fc43e7d2c288f124e99dd5e3564a09-20251212FAK08.jpg)
Adapun perak menjadi penegasan Emilia bahwa meski sudah berusia 30 tahun dan berkali-kali dihadang cedera, ia masih mampu bersaing di Asia Tenggara. Terlebih, catatan waktu yang ditorehkannya merupakan rekor pribadi setelah dua kali operasi dan pascapemulihan panjang.
Catatan waktu terbaik Emilia sebelumnya adalah 13,33 detik, yang dibuat dalam Asian Games 2018. Torehan ini juga menyamai hasil pada SEA Games Vietnam 2021. Adapun di SEA Games Filipina 2019, Emilia meraih emas.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah dan Fakhri Faddlurrohman dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti