Hamas Bebaskan Tiga Sandera, Israel Lepas 183 Tahanan Palestina

Pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina ini merupakan yang kelima kalinya sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari 2025.

08 Feb 2025 17:15 WIB · Internasional

Oleh Muhammad Samsul Hadi

Catatan Editor:

Artikel ini telah diperbarui dari versi awalnya dengan menambahkan detail-detail peristiwa pertukaran sandera dan tahanan, sesuai laporan dari lokasi.

_________

DEIR AL-BALAH, SABTU — Kelompok Hamas kembali membebaskan tiga sandera warga Israel, Sabtu (8/2/2025), untuk ditukar dengan pembebasan 183 tahanan Palestina dari penjara Israel. Pertukaran tahanan ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan antara Hamas dan Israel, yang diharapkan bisa membuka jalan penghentian perang di Jalur Gaza.

Ketiga sandera Israel yang dibebaskan Hamas itu adalah Ohad Ben Ami, Eli Sharabi, dan Or Levy. Ben Ami (56) dan Sharabi (52) diculik dari Kibbutz Be’eri saat Hamas menyerang Israel selatan, 7 Oktober 2024. Adapun Levy (34) diculik dari festival musik Nova dalam peristiwa yang sama.

Ketiga sandera warga Israel ditukar dengan 183 tahanan Palestina. Sebagian dari tahanan Palestina dipenjara terkait dakwaan serangan yang menewaskan puluhan orang. Sementara 18 orang dari mereka berstatus tahanan penjara seumur hidup, sedangkan 111 orang ditahan selama perang Gaza meletus.

Pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina ini merupakan yang kelima kalinya sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari 2025. Sebelumnya, sebanyak 18 sandera Israel dan lebih dari 550 tahanan Palestina dibebaskan dalam pertukaran tersebut.

Puluhan anggota Hamas bersenjata dan berpenutup muka diterjunkan di lokasi pertukaran tahanan di Deir al-Balah, Gaza tengah. Ketiga sandera Israel itu diserahkan Hamas kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC). ICRC kemudian menyerahkan mereka kepada pasukan Israel di Gaza.

Hamas fighters take up positions ahead of a hostage release in Deir al-Balah, central Gaza Strip, Saturday Feb. 8, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Sebelum diserahkan kepada ICRC, ketiga sandera Israel dibawa ke sebuah panggung, disaksikan massa yang memadati area sekitar. Di panggung tersebut terpampang tulisan: ”Kami adalah banjir. Kami adalah perang hari berikutnya”.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, pada tahap pertama sebanyak 33 sandera Israel (anak-anak, perempuan, orang sakit, sandera terluka, dan pria lanjut usia) ditukar dengan hampir 2.000 tahanan Palestina.

183 tahanan Palestina

Sementara dari penjara Israel, sebanyak 183 tahanan Palestina dibebaskan. Dari 72 tahanan yang dibebaskan, Sabtu, lima orang berasal dari Jerusalem Timur, 14 orang dari Jalur Gaza Strip, dan 53 dari Tepi Barat. Ada tujuh tahanan lain yang ditransfer ke Mesir untuk dideportasi ke negara lain. 

Sementara  47 tahanan dibebaskan dari Penjara Ofer di Tepi Barat dan ditransfer ke tahanan Palestina di dekat Ramallah. Di kota ini, sebuah bus pengangkut 24 tahanan disambut dengan pekik "Allahu akbar" oleh kumpulan massa.

Seoran mantan tahanan Palestina disambut anggota keluarganya di Kota Ramallah, wilayah pendudukan Tepi Barat, Sabtu (8/2/2025), setelah turun dari bus yang mengangkutnya selepas dibebaskan dari penjara Israel.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, di antara 183 tahanan Palestina itu terdapat Iyad Abu Shakhdam (49). Ia telah dipenjara selama hampir 21 tahun terkait keterlibatannya dalam serangan Hamas terhadap Israel tahun 2000-an. Israel mendakwanya sebagai otak serangan bunuh diri untuk membalas pembunuhan Israel terhadap dua mantan pemimpin Hamas, Sheikh Ahmed Yassin dan Abdel-Aziz al-Rantissi pada 2004.

Tahanan lainnya adalah Jamal al-Tawil, politisi terkemuka Hamas di wilayah pendudukan Tepi Barat dan mantan kepala Desa el-Bireh, dekat Ramallah. Ia sudah menghabiskan waktu hampir dua dekade keluar-masuk penjara Israel.

Setelah ditangkap pada 2021, Tawil dikenakan tahanan administratif, yang bisa diperpanjang enam bulan sekali. Ia ditahan tanpa dakwaan dan pengadilan.

Dilaporkan pula, pada Jumat (7/2/2025) malam, militer Israel menyerbu beberapa rumah keluarga tahanan Palestina yang akan dibebaskan.

Suasana kompleks penjara militer Ofer, yang berlokasi antara Ramallah dan Beitunia di wilayah pendudukan Tepi Barat, Sabtu (8/2/2025), sebelum pelepasan para tahanan Palestina untuk ditukar dengan tiga sandera Israel di Gaza.

Momen kegembiraan

Bagi keluarga sandera di Israel, pembebasan sandera itu merupakan momen yang mereka nantikan selama lebih dari setahun. ”Saya bahkan tak mampu melukiskan perasaan kegembiraan ini, betapa bahagianya kami bahwa semua (penderitaan) ini akan berakhir,” tutur Michael Levy, saudara Or Levy, yang kehilangan istri dan anak berusia tiga tahun.

Pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina ini merupakan pertukaran terbaru dalam serangkaian pertukaran mereka. Hingga kini, sebanyak 13 warga Israel dan 5 warga Thailand dibebaskan Hamas dalam gencatan senjata tahap pertama ini. Adapun Israel membebaskan 583 tahanan Palestina.

Dibandingkan dengan 18 sandera yang dibebaskan Hamas sebelumnya, ketiga sandera terakhir tampak dalam kondisi fisik lebih buruk. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, "Kami tidak bisa menerima pemandangan yang mengejutkan ini." Pernyataan itu tidak menyebut tindakan yang akan diambil.

Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid mengatakan, "pemandangan sulit itu" seharusnya jadi alasan memperpanjang gencatan senjata dengan Hamas dan membebaskan puluhan sandera yang masih ditahan di Gaza.

Israel Palestinians

Seolah merespons perhatian atas kondisi kesehatan sandera, Brigade Qassam—sayap militer Hamas—mengklaim "telah berupaya menyelamatkan nyawa mereka kendati terus-menerus dibombardir (Israel)".

Banyak tahanan Palestina saat dibebaskan juga dalam kondiri kurus dan pucat. Diduga, mereka mengalami penganiayaan di tahanan Israel. 

Proposal Trump

Kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera-tahanan saat ini, kendati rapuh, tercapai berkat mediasi tiga negara (Qatar, Mesir, dan AS).

Namun, ada kekhawatiran gencatan senjata saat ini bisa kolaps menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan warga Palestina dikeluarkan dari Gaza, sementara Gaza akan diserahkan pada AS untuk dibangun kawasan elite menjadi ”Riviera-nya Timur Tengah”.

Negara-negara Arab, terutama Mesir dan Jordania, serta kelompok-kelompok perjuangan Palestina menolak proposal Trump. Keinginan Trump memindahkan warga Gaza tak ubahnya pembersihan etnis.

Displaced Palestinian children and a woman sit in the back of a truck as people make their way from the south to the northern parts of the Gaza Strip, on Salah al-Din road in central Gaza, on January 29, 2025. Columns of Palestinians carrying what belongings they could headed to north Gaza on January 29, for a third straight day, after Israel permitted their passage in accordance with an ongoing ceasefire. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut gembira proposal Trump. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah memerintahkan militer Israel menyiapkan pemindahan warga Gaza yang ingin keluar dari enklave tempat tinggal mereka itu.

Negosiasi gencatan senjatan tahap kedua telah dimulai awal pekan ini dengan target membebaskan seluruh sandera yang tersisa dan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Israel telah menegaskan akan menghancurkan Hamas. Adapun Hamas menyatakan tidak akan membebaskan sandera yang tersisa tanpa kesepakatan mengakhiri perang dan penarikan penuh Israel dari Gaza.

Perang Gaza diawali serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 orang di Israel tewas dan lebih dari 250 warga disandera di Gaza.

Israel membalas dengan menyerang dan meluluhlantakkan Jalur Gaza. Hingga Sabtu (8/2/2025), lebih dari 47.000 warga Palestina tewas akibat gempuran Israel itu. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Editor:

Billy Khaerudin
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan