Hamas dan Israel Bersiap Negosiasi

Kedua pihak akan bernegosiasi di Mesir. Utusan dari Amerika Serikat sudah berangkat menuju Mesir.

05 Okt 2025 11:59 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

KAIRO, MINGGU — Setelah menerima proposal perdamaian Amerika Serikat, Hamas dan Israel bersiap melakukan perundingan melalui mediator. Hamas dan Israel sama-sama memperoleh tekanan internasional untuk segera melaksanakan proposal dan menghentikan operasi militer di Jalur Gaza.

Perundingan tak langsung itu menurut rencananya akan dilakukan di Mesir, Senin (6/10/2025). Menurut mediator Mesir, perundingan bertujuan untuk mempersiapkan pembebasan sandera Israel dari Gaza sekaligus warga Palestina dari tahanan Israel. Perundingan juga akan membahas peta terkait penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah tertentu di Gaza.

Baik Hamas maupun Israel menunjukkan keengganan atas sejumlah poin dalam proposal perdamaian AS tersebut. Hamas sudah menyatakan kesediaan pembebasan para sandera serta penyerahan kekuasaan kepada warga Palestina lainnya dengan syarat tertentu. Namun, kelompok itu tidak membahas isu demiliterisasi Hamas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di akhir konferensi pers bersama di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington DC, Senin (29/9/2025). Trump menyambut Netanyahu dalam kunjungan keempatnya ke Gedung Putih. Mereka membahas proposal perdamaian AS untuk gencatan senjata antara Hamas-Israel dan mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berharap pengumuman pembebasan semua sandera Israel akan keluar dalam beberapa hari mendatang. ”Saya telah mengirim delegasi ke Mesir untuk menyelesaikan detail teknis. Tujuan kami adalah untuk membatasi negosiasi ini dalam kurun beberapa hari,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan singkat, Sabtu (4/10/2025) malam.

Hamas masih menahan 48 orang Israel, termasuk 20 sandera hidup. Setelah mereka bebas, Israel akan melepaskan 250 tahanan Palestina, 1.700 warga, serta 15 jenazah warga Palestina.

Seorang pejabat senior Mesir menambahkan, para mediator Arab sedang mempersiapkan dialog komprehensif antarwarga Palestina untuk penyatuan pandangan berkenaan masa depan Gaza. Sejauh ini, Jihad Islam, kelompok perjuangan terkuat kedua di Gaza, telah menyatakan menerima tanggapan Hamas. Sebelumnya, kelompok ini menolak proposal AS.

Gedung Putih menyampaikan, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner sedang menuju Mesir untuk memimpin tim negosiasi AS. Kushner merupakan menantu Trump sekaligus sosok penting di balik Perjanjian Abraham 2020 yang menormalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.

Peta awal

Dalam unggahan di Truth Social, Sabtu, Trump membagikan sebuah peta sekaligus menyatakan Israel telah menyetujui peta garis penarikan awal. Peta itu menunjukkan sebagian besar wilayah Gaza masih terbuka untuk pasukan Israel. AS telah membagikan rencana penarikan itu kepada Hamas.

”Ketika Hamas mengonfirmasi, gencatan senjata akan segera berlaku. Pertukaran sandera dan tahanan akan dimulai dan kami akan menciptakan syarat untuk fase penarikan berikutnya,” ujar Trump.

Hamas menerima beberapa elemen proposal perdamaian usulan AS, Jumat (3/10/2025). Proposal itu berisi 20 poin, termasuk tentang pertukaran sandera dan tahanan, penarikan militer Israel, demiliterisasi Hamas, pembentukan pemerintahan transisi, dan reformasi Otoritas Palestina.

Quote

Retorikanya hanya mengemas ulang tuntutan lama dengan bahasa yang lebih halus.

Trump menyambut baik, tetapi memperingatkan Hamas agar bergerak cepat karena semua tawaran bisa batal. Trump juga langsung memerintahkan Israel agar menghentikan serangan di Gaza. Namun, masih ada serangan yang terjadi sampai puluhan korban jiwa berjatuhan.

Peneliti di Pusat Keamanan dan Luar Negeri Jerusalem, Oded Ailam, berpendapat, posisi Hamas pada dasarnya tidak berubah. ”Retorikanya hanya mengemas ulang tuntutan lama dengan bahasa yang lebih halus,” katanya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington DC, AS, Senin (29/9/2025). Trump menyambut Netanyahu dalam kunjungan keempatnya ke Gedung Putih. Mereka membahas pproposal perdamaian AS untuk mengakhiri perang Hamas-Israel.

Israel pun demikian. Netanyahu mengisyaratkan keengganan Israel untuk mematuhi beberapa poin proposal, khususnya penarikan penuh militer Israel di Gaza. Dia juga berjanji menghancurkan Hamas.

”Hamas akan dilucuti, itu akan terjadi secara diplomasi melalui rencana Trump atau secara militer oleh kami. Saya juga mengatakan hal itu kepada Washington. Itu akan dicapai baik dengan cara mudah maupun sulit, tetapi itu akan tercapai,” ujar Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi.

Ketua Forum Pertahanan dan Keamanan Israel Amir Avivi mengatakan, Israel mampu menghentikan serangan selama beberapa hari di Gaza agar para sandera dapat dibebaskan. Namun, Israel akan melanjutkan serangan jika Hamas tidak meletakkan senjata.

Dalam wawancara dengan Axios, Sabtu, Trump membahas upaya diplomasi AS kepada Israel di belakang layar. Dia berusaha meyakinkan Netanyahu bahwa kesepakatan damai di Gaza sudah hampir tercapai.

”Saya bilang, ’Bibi, ini kesempatanmu untuk menang’. Dia baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja. Dia tidak punya pilihan. Dengan saya, dia harus baik-baik saja,” kata Trump merujuk nama akrab Netanyahu.

Protes Eropa

Di Eropa, ratusan ribu orang turun ke jalan menggelar unjuk rasa pro-Palestina, Sabtu. Mereka menyerukan agar Israel menyudahi perang di Gaza serta membebaskan para aktivis yang bergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF), armada kapal sipil yang mengirim bantuan ke Gaza.

Sekitar 250.000 orang berdemonstrasi di Roma, Italia. Protes ini merupakan unjuk rasa hari keempat setelah Israel mencegat GSF, Rabu (1/10/2025) malam.

Keluarga-keluarga dengan anak-anak, berteriak ”kami semua orang Palestina”, ”bebaskan Palestina”, dan ”hentikan genosida”. Banyak dari mereka membawa bendera Palestina dan mengenakan kafiyeh kotak hitam-putih.

Sementara itu, Spanyol juga menggelar protes besar-besaran. Menurut pihak berwenang, hampir 100.000 orang melakukan protes di Madrid. Sekitar 70.000 orang mengikuti unjuk rasa di Barcelona. Unjuk rasa juga terjadi di kota lain, seperti Valencia, Sevilla, dan Malaga.

Protes peringatan dua tahun genosida di Gaza turut berlangsung di Dublin, Irlandia. Aksi turun jalan meluas ke Paris, Perancis; Lisabon, Portugal; Athena, Yunani; Skopje, Macedonia; serta London dan Manchester, Inggris.

Ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina memegang bendera Palestina raksasa saat mereka berbaris melewati Colosseum selama protes untuk mendukung rakyat Palestina, menentang militer Israel, serta menyerukan pembebasan aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel, di Roma, Italia, Sabtu (4/10/2025)

Spanyol dan Irlandia merupakan dua negara Eropa yang paling gencar mengkritik aksi Israel di Gaza. Sebaliknya, Pemerintah Italia cenderung membela Israel sehingga telah memicu kritik keras dari publik.

”Biasanya, saya tidak suka demonstrasi besar-besaran, tetapi hari ini saya tidak bisa tinggal di rumah. Saya pikir negara-negara seperti Italia, Perancis, dan Spanyol telah mengembangkan budaya perlawanan serta nilai-nilai demokrasi lebih dari yang lain karena pernah mengalami kediktatoran dan kekerasan,” tutur Donato Colucci (44), warga Roma.

Protes-protes tersebut kemungkinan besar tidak akan memengaruhi sikap Pemerintah Israel. Walakin, para pengunjuk rasa berharap aksi mereka dapat menginspirasi demonstrasi lain serta mendorong para pemimpin Eropa untuk bersikap tegas terhadap Israel.

Perang di Gaza bermula setelah serangan Hamas pada Oktober 2023. Sebagai balasan, Israel menggempur wilayah tersebut. Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, lebih dari 67.000 orang tewas dan 170.000 orang terluka karena serangan Israel. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra