Hamas Kembalikan Jenazah Empat Sandera

Para sandera itu tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza. Ini pertukaran ketujuh, meskipun tidak ada tahanan Palestina yang dibebaskan Israel.

20 Feb 2025 19:53 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

KHAN YOUNIS, KAMIS — Hamas mengembalikan jenazah empat sandera Israel, yakni seorang ibu dan dua anaknya serta seorang kakek, di Khan Younis, Gaza, Kamis (20/2/2025). Hamas mengatakan, para sandera dan pengawalnya tewas dalam serangan udara Israel selama perang berkecamuk pada Oktober 2023-Januari 2025.

Keempat jenazah ditempatkan dalam peti hitam di atas panggung, dikelilingi poster-poster, termasuk gambar besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang digambarkan sebagai drakula pengisap darah.

”Kami menjaga kehidupan para sandera, menyediakan keperluan mereka sebisa kami, memperlakukan mereka secara manusiawi, tetapi militer mereka membunuh mereka bersama para pelindungnya,” sebut Hamas dalam pernyataan.

Jenazah sandera yang dipulangkan adalah Shiri Bibas dan kedua anaknya, Ariel dan Kfir. Selain itu, ada Oded Lifshitz, yang ketika disandera Hamas berusia 83 tahun. ”Hati kami dan seluruh bangsa Israel hancur dalam duka,” kata Presiden Israel Isaac Herzog dalam keterangan tertulis.

Selama perang pecah di Gaza, keluarga para sandera berulang kali berunjuk rasa menuntut penghentian perang demi keselamatan sandera. Sejumlah sandera dibebaskan dalam gencatan senjata singkat pada November 2023.

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 19 Januari 2025 selama 42 hari, Hamas membebaskan 33 sandera untuk ditukar dengan lebih dari 2.000 warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.

Israeli women cry upon the arrival of the convoy of vehicles transporting the bodies of the four Israeli hostages handed over by Hamas, at the National Center of Forensic Medicine in Tel Aviv on February 20, 2025. Hamas handed over the bodies of four hostages on February 20, including those of the Bibas family, who have become symbols of the hostage crisis that has gripped Israel since the Gaza war broke out. The transfer of the bodies is the first such handover of remains by Hamas since its October 7, 2023 attack on Israel triggered the war. (Photo by Jack GUEZ / AFP)

Pemulangan jenazah empat sandera ini merupakan pertukaran ketujuh, meskipun tidak ada tahanan Palestina yang dibebaskan Israel. Sejauh ini sebanyak 24 sandera dan 1.135 tahanan dibebaskan.

Sebelumnya, warga Israel bersukaria atas pembebasan para sandera. Kini suasana berubah muram karena mereka teringat ada kemungkinan sandera lain yang tewas akibat serbuan dan pengeboman selama 15 bulan di Gaza.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi kelanjutan perundingan gencatan senjata tahap kedua. Gencatan senjata tahap pertama akan berakhir pada awal Maret 2025. Kelompok ekstrem kanan di pemerintahan Israel mendesak agar perang dilanjutkan.

Hamas dijadwalkan membebaskan enam sandera dalam keadaan hidup, Sabtu (22/2/2025), dengan imbal balik dilepaskannya ratusan tahanan Palestina dari penjara Israel. Jika sesuai rencana, setelah berakhir gencatan senjata tahap pertama, Hamas masih menyandera 60 orang yang seluruhnya pria. Namun, diyakini separuh dari jumlah tersebut sudah tewas.

Hamas menyatakan tidak akan membebaskan sisa sandera tanpa pelaksanaan gencatan senjata permanen dan penarikan mundur militer Israel dari Jalur Gaza. PM Netanyahu dengan dukungan penuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertekad menghancurkan kemampuan tempur dan pemerintahan Hamas dan pembebasan seluruh sandera dengan selamat.

Hamas bisa saja tidak melanjutkan pembebasan sandera jika meyakini perang akan segera berlanjut dengan tujuan Israel menghabisi mereka dan memindahkan paksa warga Gaza keluar dari tanah airnya.

Pertemuan di Arab Saudi

Sementara para pemimpin negara-negara Arab akan bertemu di Arab Saudi pada Jumat (21/2/2025) untuk melawan rencana Presiden AS Donald Trump memindahkan warga Gaza. Trump berencana menyatukan negara-negara Arab, meski masih ada perdebatan soal siapa yang akan memimpin rekonstruksi pascaperang di Gaza dan bagaimana mendanainya.

Pakar kebijakan Arab Saudi, Umer Karim, menyebut pertemuan para pemimpin Arab sebagai ”yang terpenting” dalam beberapa dekade bagi dunia Arab dan isu Palestina. Sebuah sumber yang dekat dengan Pemerintah Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita AFP, para pemimpin Arab akan membahas rencana rekonstruksi untuk menentang gagasan Trump bagi Gaza.

US President Donald Trump (R) shakes hands with King Abdullah II of Jordan during a meeting in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on February 11, 2025. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Setelah bertemu Trump di Washington pada 11 Februari, Raja Jordania Abdullah II mengatakan, Mesir akan mempresentasikan rencana tersebut. Hal ini dibenarkan sumber di pemerintahan Arab Saudi yang menyebutkan para pemimpin Arab akan mendiskusikan ”versi rencana Mesir”.

Awalnya, pertemuan itu direncanakan sebagai pertemuan Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Jordania. Pertemuan kemudian diperluas dengan melibatkan enam negara Teluk, Otoritas Palestina, dan Irak.

Kairo belum mengumumkan inisiatifnya. Namun, mantan diplomat Mesir, Mohamed Hegazy, memberi ancar-ancar soal rencana ”dalam tiga fase teknis selama periode tiga sampai lima tahun”. Fase pertama berlangsung enam bulan dan fokus pada pemulihan awal.

”Alat-alat berat akan dibawa masuk untuk membersihkan puing-puing. Sementara zona selamat dibuat di Gaza untuk relokasi sementara penduduknya,” ujar Hegazy.

Fase kedua memerlukan konferensi internasional untuk menyediakan detail rekonstruksi dan fokus pada pembangunan kembali infrastruktur utilitas.

”Fase terakhir akan meliputi rencana perkotaan di Gaza, pembangunan unit-unit permukiman, serta penyediaan layanan pendidikan dan kesehatan,” lanjut Hegazy. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W