Hamas Setujui Rencana Gencatan Senjata

Perkembangan perang Israel dan Hamas.

19 Agt 2025 10:51 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

”Gerakan ini telah menyampaikan tanggapannya, menyetujui proposal baru para mediator. Kami berdoa kepada Tuhan agar memadamkan api perang ini terhadap rakyat kami.”

Dua kalimat yang diunggah pejabat senior Hamas, Bassem Naim, di Facebook ini melegakan banyak pihak. Sebelumnya sumber Hamas mengatakan kepada AFP bahwa kelompok itu menerima usulan tersebut tanpa meminta amendemen apa pun. Kabar yang menyatakan Hamas menerima proposal yang diajukan mediator arab untuk melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza, Senin (18/8/2025), menjadi harapan warga Palestina dan bagi keluarga sandera di Israel.

Para demonstran memblokir jalan saat protes menuntut pembebasan sandera yang ditahan Hamas sejak 7 Oktober 2023, di Tel Aviv pada 17 Agustus 2025.

Sebelumnya, Israel mengancam akan menduduki kembali kota Gaza dan daerah penduduk padat lainnya. Rencana memperluas serangan ini juga memicu kemarahan internasional. Penduduk Israel sendiri mengecam rencana ini yang dinilai sangat membahayakan nasib para sandera.

Perundingan gencatan senjata beberapa bulan lalu yang gagal mencapai kesepakatan telah membawa bencana kemanusiaan di Gaza. Selain ancaman kematian akibat perang, warga Palestina di Gaza harus menghadapi kematian karena kelaparan. Tak hanya warga Palestina, warga Israel yang disandera Hamas terlihat kurus kering saat Hamas merilis foto-foto mereka. Kemarahan penduduk Israel dan dunia pun makin memuncak.

Seorang gadis Palestina mencari barang-barang di tempat pembuangan sampah di kota Gaza pada Senin (18/8/2025).
Keluarga Palestina tiba dengan barang-barang mereka di Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada 18 Agustus 2025. Mereka melarikan diri dari rumah mereka di Kota Gaza menuju ke selatan.
Warga Palestina berebut menerima makanan yang dimasak dari pusat distribusi makanan di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada 18 Agustus 2025.
Anak-anak kecil mendorong gerobak yang membawa tangki air di kamp Bureij untuk pengungsi Palestina di Jalur Gaza tengah, pada 17 Agustus 2025.
Kepulan asap usai serangan udara tentara Israel di Khan Younis, di Jalur Gaza, Senin, (18/8/2025).

Unjuk rasa terbesar

Ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalanan di Israel. Dalam unjuk rasa terbesar ini, mereka berencana ”melumpuhkan” jalannya pemerintahan dengan melakukan blokade di jalanan. Sambil membawa foto-foto sandera, mereka menuntut pemerintahannya menghentikan perang dan membebaskan para sandera.

Para pengunjuk rasa berkumpul di puluhan tempat, termasuk di luar rumah politisi, markas militer, dan di jalan raya utama. Mereka memblokade jalan dan menyalakan api unggun. Beberapa restoran dan bioskop tutup sebagai bentuk solidaritas. Polisi mengatakan mereka telah menangkap 38 orang.

Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan yang dijatuhkan dengan parasut ke Kota Gaza, Jalur Gaza utara, 14 Agustus 2025.

Di negara-negara lain, unjuk rasa serupa juga terjadi. Di Meksiko, pengunjuk rasa melumuri tameng polisi dengan cat merah. Ribuan pengunjuk rasa di Amerika Serikat, Belanda, Inggris, juga negara-negara lain turun ke jalan menyuarakan hal yang sama, mengakhiri perang dan membebaskan sandera.

Dari 251 orang yang disandera saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, 49 orang  masih ditahan di Gaza, termasuk 27 orang yang menurut militer Israel telah tewas. Serangan balasan Israel akan serangan ini telah menyebabkan kematian bagi 62.000 warga Palestina, sebagian besar di antaranya warga sipil dalam perang selama 22 bulan.

Seorang anggota Gerakan Global untuk Palestina bentrok dengan polisi antihuru-hara saat demonstrasi menentang tindakan Israel di Meksiko City, Meksiko, pada Minggu (17/8/2025).
Mahmoud Khalil, mantan mahasiswa pascasarjana Universitas Columbia yang dikenal karena perannya dalam protes pro-Palestina Universitas Columbia 2024, memimpin "Pawai untuk Kemanusiaan" Pro-Palestina melawan krisis kemanusiaan di Gaza pada 16 Agustus 2025 di Kota New York.
Masyarakat menghadiri demonstrasi yang diselenggarakan oleh keluarga dan teman-teman Israel yang disandera oleh militan Palestina di Jalur Gaza sejak 2023. Mereka menyerukan pembebasan sandera saat unjuk rasa di Tel Aviv pada 17 Agustus 2025.
Ban dibakar untuk memblokir jalan saat unjuk rasa menuntut pembebasan segera sandera yang ditahan oleh Hamas di Jalur Gaza, dekat Yerusalem, Israel, Minggu, (17/8/2025).
Asap mengepul ke langit setelah serangan Israel di Jalur Gaza, Senin (18/8/2025).
Polisi membubarkan demonstran yang memblokir jalan untuk menuntut pembebasan segera sandera yang ditahan oleh Hamas, Minggu (17/8/2025).

Pilihan tertembak atau kelaparan

Korban tewas saat  mencari bantuan terus terjadi. Rumah sakit dan saksi di Gaza mengatakan pasukan Israel menewaskan sedikitnya 17 pencari bantuan pada hari Minggu (17/8/2025). 

Hamza Asfour, salah seorang saksi mata, mengatakan, ia sedang berada di utara koridor, menunggu konvoi ketika penembak jitu Israel menembak. Tembakan itu awalnya untuk membubarkan kerumunan. Ia melihat dua orang dengan luka tembak. ”Pilihan saya adalah mengambil risiko tertembak atau melihat keluarga saya mati kelaparan,” katanya. 

Sebuah foto yang diambil pada 18 Agustus 2025, menunjukkan tenda-tenda yang menampung orang-orang Palestina yang terlantar di Kota Gaza.

Dua anak dan lima orang dewasa meninggal akibat malanutrisi pada hari Minggu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Israel membantah angka-angka tersebut, tetapi belum memberikan datanya sendiri. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa tingkat kelaparan dan malanutrisi di Gaza berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan