Hamas Sudah Bebaskan 6 Sandera, Israel Masih Tunda Pembebasan 620 Tahanan Palestina

Hamas menuding Israel gagal memenuhi pembebasan tahanan yang telah disepakati. Juru runding diminta menekan Israel agar mematuhi kesepakatan pertukaran tahanan.

23 Feb 2025 14:27 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa, Muhammad Samsul Hadi

JERUSALEM, MINGGU — Sesuai rencana dan kesepakatan, Hamas telah membebaskan enam sandera warga Israel dari Jalur Gaza, Sabtu (22/2/2025). Namun, hingga Minggu (23/2/2025) ini, Israel belum melepaskan 620 tahanan Palestina sesuai kesepakatan gencatan senjata tahap pertama.

Sedianya Israel harus membebaskan 620 tahanan Palestina sebagai bagian dari pertukaran enam sandera Israel, Sabtu. Pembebasan para tahanan Palestina itu seharusnya dilakukan Israel selepas keenam sandera Israel dilepas Hamas melalui Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Kendaraan-kendaraan militer Israel, yang biasanya mengawali konvoi bus-bus pengangkut para tahanan Palestina, telah meninggalkan dan keluar dari Penjara Ofer. Namun, kendaraan-kendaraan itu tiba-tiba berputar balik dan kembali masuk penjara tersebut.

Komisi urusan tahanan pada Otoritas Palestina mengonfirmasi penundaan pembebasan para tahanan Palestina oleh Israel hingga ”pemberitahuan lebih lanjut”. Kelompok Advokasi Tahanan Palestina mengatakan, Israel seharusnya membebaskan 620 tahanan Palestina.

Juru Bicara Hamas, Abdel Latif al-Qanoua, mengatakan dalam keterangan tertulis, Israel gagal memenuhi pembebasan tahanan yang telah disepakati. Ini pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.

Qanoua mendesak para juru runding Mesir dan Qatar menekan Israel untuk menjalankan kewajibannya tanpa menunda-nunda.

Israeli hostages, from left to right, Eliya Cohen, Omer Shem and Omer Wenkert, show Hamas issued certificates as instructed by militants, before being handed over to the Red Cross in Nuseirat, central Gaza Strip, Saturday, Feb. 22, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Melalui keterangan tertulis, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, pembebasan ratusan tahanan Palestina ditunda hingga ”pembebasan para sandera berikutnya dijamin kepastiannya dan (dilakukan) tanpa upacara-upacara yang mempermalukan (mereka)”.

Pernyataan itu merujuk pada cara-cara pembebasan sandera, yang dilakukan Hamas sebelumnya, dengan mengarak para sandera naik ke atas panggung di hadapan massa dan kadang meminta sandera berbicara sebelum diserahkan kepada petugas ICRC.

Peti-peti berisi jenazah sandera yang tewas juga diserahkan kepada ICRC di hadapan massa, Kamis (20/2/2025). PBB dan ICRC mengkritik cara-cara pembebasan para sandera seperti itu.

Quote

Hamas menolak kritik terkait cara pembebasan sandera. Menurut Hamas, cara pembebasan seperti itu merupakan bagian dari unjuk persatuan Palestina secara khidmat.

Hamas menyanggah kritik terkait cara pembebasan sandera. Menurut Hamas, cara pembebasan seperti itu untuk menunjukkan solidnya perjuangan Palestina.

Dalam pembebasan sandera Israel, Sabtu (22/2/2025), lima dari enam sandera dikawal para anggota Hamas bertutup wajah dan bersenjata di hadapan massa. Kelima sandera yang dibebaskan adalah Eliya Cohen (27), Omer Shem Tov (22), Omer Wenkert (23), Tal Shoham (40), dan Avera Mengistu (39).

Cohen, Shem Tov, dan Wenkert—mereka diculik dari konser musik Nova saat Hamas menyerang Israel selatan, 7 Oktober 2023—diserahkan kepada petugas ICRC di Nuseira, Jalur Gaza tengah. Dengan wajah berseri-seri dan terlihat di bawah tekanan, Shem Tov mencium kening dua anggota Hamas dan melepaskan gestur cium jauh ke arah massa.

Sandera warga Israel, Omer Shem Tov, melepaskan gestur cium jauh ke arah massa setelah dibebaskan bersama dua sandera lain dan kemudian diserahkan kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Sabtu (22/2/2025).

Para sandera itu mengenakan seragam mirip tentara meski mereka bukan tentara saat diculik dari Israel selatan. Terlihat belasan pejuang Hamas bersiaga di tengah kerumuman warga Gaza yang menyaksikan serah terima sandera kepada petugas ICRC. Para sandera terlihat kurus dan pucat, menaiki panggung, lalu melambai ke kerumunan warga.

Ada dua sandera yang lebih awal dibebaskan, yakni Shoham dan Mengistu, di Rafah, Gaza selatan.

Sandera warga Arab Israel

Seorang sandera lainnya, Hisyam al-Sayed, warga Arab Badui berkewarganegaraan Israel, dibebaskan secara diam-diam di Kota Gaza dan diserahkan kepada ICRC sebelum dibawa ke wilayah Israel. Hisyam al-Sayed masuk Gaza tahun 2015. Kepada media Israel, keluarganya mengatakan, ia sebelumnya didiagnosis menderita skizofrenia.

Sebelumnya, pada Jumat (21/2/2025), Hamas telah mengembalikan jenazah sandera Shiri Bibas, ibu dari dua anak yang juga diculik, setelah mengirimkan jenazah yang salah. Otoritas forensik Israel mengonfirmasi jenazah yang diserahkan pada Jumat itu adalah Bibas.

Pertukaran enam sandera Israel dan 620 tahanan Palestina pada akhir pekan ini seharusnya menjadi pertukaran sandera dan tahanan yang terbesar dalam satu hari pada fase pertama gencatan senjata. Gencatan senjata tahap pertama berlaku 42 hari sejak 19 Januari 2025 dan akan berakhir pada awal Maret 2025.

APTOPIX Israel Palestinians

Hamas mengatakan akan menyerahkan empat jenazah sandera pekan depan sebagai penyerahan pamungkas pada gencatan senjata tahap pertama. Setelah itu, mereka akan terus menahan lebih dari 60 sandera—sekitar separuhnya diyakini masih hidup.

Hamas menegaskan tidak akan membebaskan para sandera yang tersisa sebelum ada gencatan senjata permanen dan penarikan penuh tentara Israel dari Jalur Gaza.

Netanyahu rapat dulu

Sementara itu, menurut dua pejabat Israel, PM Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan konsultasi, Sabtu malam waktu setempat. ”Setelah rapat konsultasi selesai, keputusan akan diambil mengenai langkah berikut terkait gencatan senjata dengan Hamas,” kata salah satu pejabat Israel yang tak mau diungkap identitasnya.

Sesaat setelah para sandera Israel dibebaskan, Netanyahu mengeluarkan keterangan, dengan menyatakan akan terus bertindak tegas untuk memulangkan seluruh sandera. Adapun dari sekutu Israel, Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan peringatan jika tidak membebaskan sisa sandera, Hamas akan ditumpas.

Pengunjuk rasa di depan Kementerian Pertahanan Israel membakar suar mendesak Pemerintah Israel mengakhiri perang dan membebaskan sandera Israel di Gaza, Sabtu (22/2/2025).

Setiba di Israel, Shem Tov memeluk erat orangtuanya. ”Betapa saya merindukan saat ini,” ujarnya seraya menangis dan tertawa. Peristiwa itu direkam dan disebarkan oleh militer Israel.

Shoham tersenyum, melambaikan tangan kepada teman-temannya yang menunggu di depan rumah sakit tempat dia diserahkan ICRC kepada otoritas Israel. ”Kami menunggu Tal pulang setiap hari sejak kejadian 7 Oktober 2023. Sungguh senang melihat dia betul-betul telah kembali,” kata Yael Avner (50), salah satu sahabat Shoham.

Einav Zangauker, ibunda sandera Matan Zangauker yang masih ditahan di Gaza, menuduh Netanyahu sengaja membuat masalah berlarut-larut. Perjanjian damai dan pembebasan sandera tidak kunjung terwujud lantaran Netanyahu berusaha mendapatkan dukungan koalisinya, yakni kubu ekstrem kanan yang berideologi menghancurkan Palestina serta melanjutkan perang.

Einav Zangauker menyerukan para sandera harus dibebaskan semua secara bersamaan.

Nasib tahanan Palestina

Sementara di Tepi Barat, para keluarga tahanan Palestina seharian menunggu pembebasan keluarga mereka yang semestinya dibebaskan segera setelah sandera Israel dilepaskan. ”Menunggu itu sungguh menyiksa perasaan. Kami bersabar dan tetap tegar insya Allah,” kata Shireen al-Hamamreh kepada AFP.

Saudara Hamamreh, menurut rencana, dibebaskan Israel di Kota Ramallah, wilayah pendudukan Tepi Barat.

Ibu tahanan Palestina, Khaled Khdeish, menyaksikan televisi menunggu pembebasan anaknya yang ditahan Israel di dekat Nablus, Tepi Barat, Sabtu (22/2/2025).

Gencatan senjata saat ini diharapkan menghentikan serbuan Israel di Gaza. Akan tetapi, tidak jelas apakah perang di Jalur Gaza akan berakhir disusul proses perdamaian dan bermuara pada kesepakatan solusi dua negara saat negara Israel-Palestina hidup berdampingan.

Hamas dalam berbagai kesempatan menunjukkan kehadirannya sebagai pemerintahan efektif di Gaza. Sementara Pemerintah Israel yang didominasi kelompok ekstrem kanan menentang keberadaan Hamas dan negara Palestina.

Perang Hamas-Israel diawali serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 orang tewas—sebagian karena salah sasaran militer Israel, sekitar 250 sandera diculik serta dibawa Hamas dan faksi-faksi perjuangan Palestina ke Jalur Gaza.

Serangan balasan Israel mengakibatkan lebih dari 48.000 orang tewas, sebagian besar mereka didominasi perempuan dan anak-anak di Jalur Gaza. Kini Hamas dan Israel sedang membahas perundingan gencatan senjata tahap kedua dengan sasaran pembebasan seluruh sandera dan penarikan mundur militer Israel dari Gaza. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa, Muhammad Samsul Hadi
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari