Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata, Israel Masih Pikir-pikir

Kelompok Hamas dilaporkan menyetujui usulan proposal gencatan senjata baru dari Mesir dan Qatar. Namun, Israel masih butuh waktu dan konsultasi dengan AS.

30 Mar 2025 10:34 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

GAZA, MINGGU — Kelompok Hamas dan Pemerintah Israel, Minggu (30/3/2025), dilaporkan telah menerima proposal gencatan senjata baru yang diusulkan oleh Mesir dan Qatar. Hamas menyatakan mereka menerima usulan itu dengan beberapa syarat. Sementara Israel menyatakan masih perlu melakukan konsultasi lebih jauh dengan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Israel terus meluncurkan operasi militer ke wilayah Gaza.

”Dua hari yang lalu, kami menerima proposal dari saudara-saudara mediator di Mesir dan Qatar. Kami menanggapinya secara positif dan menyetujuinya. Kami berharap bahwa pendudukan (Israel) tidak akan merusaknya,” kata Khalil al-Haya, Deputi Kepala Biro Politik Hamas.

<p>Hamas leader Khalil al-Haya flashes the V-sign for victory as people take to the streets to celebrate the ceasefire brokered by Egypt between Israel and the two main Palestinian armed groups in the Gaza Strip, in Gaza City on May 21, 2021. &#8211; A ceasefire between Israel and Hamas, the Islamist movement which controls the Gaza Strip, came into force early on May 21, 2021 after 11 days of deadly fighting that pounded the Palestinian enclave and forced countless Israelis to seek shelter from rockets. (Photo by MOHAMMED ABED / AFP)</p>

Dilansir dari laporan media Israel, The Times of Israel, Mesir dan Qatar mengusulkan pembebasan lima sandera yang masih hidup oleh Hamas dengan kompensasi jeda pertempuran selama 50 hari. Ini diikuti pembebasan warga Palestina yang ditahan Israel dan dilanjutkannya kembali pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Menurut media Israel lain, Walla, salah satu poin tambahan yang diusulkan Mesir adalah pengembalian jenazah sandera Israel yang tewas selama gencatan senjata tahap pertama berlangsung. Akan tetapi, Hamas lebih menawarkan untuk membebaskan sejumlah sandera yang masih hidup.

Salah satu sandera yang akan dibebaskan adalah Edan Alexander, pemuda berkewarganegaraan AS-Israel. Pemerintah AS, menurut New Arab, dilaporkan terlibat dalam penyusunan proposal tersebut.

Meski begitu, proposal gencatan senjata ini tidak sesuai dengan yang diinginkan Pemerintah Israel, yakni pembebasan 10-11 sandera yang masih hidup.

Seorang pejabat Pemerintah Mesir yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan, bola sekarang berada di tangan Pemerintah Israel dan AS. ”Kairo mengupayakan agar semua pihak, termasuk Washington, mendorong Israel membuat konsesi nyata yang akan menjamin tercapainya kesepakatan,” katanya.

Pejuang Brigade Qassam, sayap militer Hamas, membuat pagar betis saat kendaraan Palang Merah yang membawa sandera Israel untuk dibebaskan berdasarkan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas, di Kota Gaza, Minggu, 19 Januari 2025. AP/Abed Hajjar

Kantor Perdana Menteri Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima proposal tersebut dan menyatakan mulai berkonsultasi soal substansi yang diajukan kepada Pemerintah AS.

Setelah gencatan senjata tahap pertama berakhir pada 2 Maret 2025, Pemerintah Israel mendukung usulan Utusan Khusus Pemerintah AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff yang mengusulkan perpanjangan hingga 20 April 2025 atau hingga perayaan Hari Paskah. Kompensasinya adalah pembebasan satu orang sandera setiap pekan.

Dalam proposal usulan Witkoff disebutkan, pada hari pertama perpanjangan gencatan senjata, separuh dari total sekitar 59 orang sandera yang masih berada di tangan Kelompok Hamas, hidup ataupun sudah meninggal, dibebaskan. Setelah itu, sandera lain akan dibebaskan jika gencatan senjata permanen telah disepakati.

Proposal itu sama sekali tidak menyinggung pembicaraan negosiasi gencatan senjata tahap II yang seharusnya sudah dimulai setidaknya sepekan sebelum gencatan senjata tahap pertama akan berakhir.

Infografik Sejumlah Perundingan Gencatan Senjata Hamas-Israel

Kesepakatan kelompok Hamas dan Israel, gencatan senjata di Gaza dibagi ke dalam tiga tahap, yakni tahap I, II dan III. Pada tahap pertama yang berlangsung selama 42 hari, dimulai sejak 19 Januari 2025, sebanyak 33 sandera dibebaskan Hamas dan dikembalikan kepada Israel. Ini termasuk delapan jenazah sandera. Kompensasinya adalah pembebasan 2.000 tahanan Palestina yang dipenjara Israel.

Seperti halnya tahap I, pada fase II dan III, para pihak harus melewati proses perundingan dan tercapainya kesepakatan lebih dulu, meski rancangan waktu tetap sama, yakni selama 42 hari. Pada tahap II, sisa sandera Hamas dipulangkan ke Israel. Bersamaan dengan itu, Israel juga menarik semua pasukannya dari wilayah Gaza dan berhenti melakukan operasi militer secara permanen. Warga Palestina juga dibebaskan sesuai dengan jumlah yang disepakati.

Adapun pada fase ketiga yang juga diproyeksikan berlangsung selama 42 hari, semua jenazah sandera dikembalikan kepada Israel. Sebaliknya, semua warga Palestina yang ditahan juga dibebaskan.

Pada fase ini disebut juga Gaza akan memulai proses rehabilitas serta pemberian ganti rugi pada warga yang terdampak di bawah pengawasan internasional (Kompas.id, 27/2/2025). Akan tetapi, kenyataan yang terjadi, para pihak tidak pernah melakukan pembicaraan untuk menuju tahap II gencatan senjata seperti yang telah disepakati.

Hayya menyatakan, keinginan Israel dan AS agar kemampuan militer Hamas hilang dengan pelucutan persenjatanya, tidak akan pernah terjadi. Pelucutan persenjataan tidak bisa dilakukan oleh Hamas, kata Hayya, selama aksi pendudukan Israel atas wilayah Palestina terus terjadi.

Petugas medis jadi sasaran serangan Israel

Kebrutalan militer Israel terus terjadi. Sejak serangan militer kembali dilancarkan Israel pada 18 Maret lalu, ratusan warga sipil menjadi korban, termasuk anak-anak. Selain itu, petugas medis juga menjadi sasaran serangan.

Hingga Sabtu (29/3/2025), nasib sembilan petugas medis yang tergabung dalam Bulan Sabit Merah belum diketahui. Sepekan sebelumnya, militer Israel menyerang ambulans yang digunakan para petugas medis. Militer Israel mengakui bahwa mereka telah menyerang ambulans yang tengah melintas di lingkungan Tal al-Sultan, Rafah, dengan alasan kendaraan tersebut mencurigakan. Satu anggota medis yang dimaksud dipastikan tewas dalam serangan tersebut.

Reaksi seorang perempuan warga Palestina terhadap serangan militer Israel ke tenda-tenda pengungsi warga di halaman Rumah Sakit Martir Al Aqsa, Deir el Balah, Jalur Gaza, Sabtu (9/11/2024). A woman reacts as displaced Palestinians check the damage following an Israeli strike that hit tents set up in the vicinity of the Al-Aqsa Martyrs hospital in Deir el-Balah in the central Gaza Strip on November 9, 2024, amid the ongoing war between Israel and the Palestinian Hamas movement. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Bulan Sabit Merah dalam sebuah pernyataan menuduh otoritas Israel menghalangi operasi pencarian. ”Untuk hari ketujuh berturut-turut, nasib sembilan EMT Bulan Sabit Merah Palestina masih belum diketahui setelah mereka dikepung dan menjadi sasaran pasukan Israel di Rafah,” katanya.

”Kami mengecam Israel yang sengaja menghalangi upaya pencarian dan menganggap (Israel) sepenuhnya bertanggung jawab atas nyawa anggota tim kami,” kata pernyataan itu.

Palang Merah Internasional menyatakan keprihatinannya atas peristiwa tersebut. ”Sangat penting adanya informasi dan akses untuk memastikan kembalinya para pekerja kemanusiaan ini dengan selamat pada keluarganya,” kata lembaga ini dalam pernyataannya.

Menurut PBB, sedikitnya 1.060 petugas kesehatan tewas sepanjang perang Hamas-Israel.

Pada Jumat (28/3/2025), Bulan Sabit Merah menyebut mereka menemukan jenazah pemimpin tim serta kendaraan yang menjadi sasaran serangan militer Israel, ambulans, dan mobil pemadam kebakaran. Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina menyebut kendaraan-kendaraan itu dalam kondisi hancur menjadi tumpukan besi tua.

”Pembunuhan yang disengaja terhadap pekerja penyelamat—yang dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional—merupakan pelanggaran mencolok terhadap Konvensi Geneva dan kejahatan perang,” kata anggota biro politik Hamas, Bassem Naim. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari