Kegagahan Robi saat membawa bendera ”Merah Putih” di Stadion Rajamangala sama sekali tidak terlihat ketika sedang mencoba setelan seragam defile di Rumah Indonesia.
10 Des 2025 07:03 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Selasa (9/12/2025) menjadi hari yang sangat spesial bagi pelari jarak jauh Robi Syianturi. Untuk pertama kalinya, dia dipercaya jadi pembawa bendera kontingen Indonesia dalam upacara pembukaan SEA Games Thailand 2025. Momen spesial itu akan dikenang seumur hidup, seperti kejadian absurd beberapa jam sebelum acara.
Sore sebelum berangkat ke Stadion Rajamangala, tempat berlangsungnya upacara pembukaan, Robi lebih dulu mencoba setelan seragamnya di Rumah Indonesia. Rumah yang terletak di wilayah Sukhumvit, pusat kota Bangkok, itu merupakan pos berkumpulnya kontingen ”Merah Putih” selama penyelenggaraan SEA Games.
Dalam ruangan kamar seluas 5 meter x 5 meter, Robi sedang leyeh-leyeh di kasur. Dia tampak sudah rapi dengan setelan kemeja putih, dasi, dan celana bahan. Saat para wartawan masuk, Robi langsung berdiri dan mengajak salaman. Namun, ada yang aneh, salah satu tangan spesialis maraton itu memegangi bagian atas celana sekencang-kencangnya.
Nanti kalau kedodoran (saat defile), kami ”jagain”, kok, dari belakang.
Tek. Ketemu juga alasan mengapa atlet 27 tahun itu terus bersandar di kasur. Padahal, dua atlet lainnya, Brayen Nathan Coolen dan Samuel Maxson Septionus, berdiri terus-terusan agar kemeja atau celana mereka tidak lecek. Ternyata, celana Robi kedodoran. ”Kebesaran celananya, masih nunggu diperbaiki,” ucap Robi sambil tersipu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/68939db256aac35cd4f5fc22b69a62ea-FAK_5347.jpg)
Kelebihan ukuran celana itu tak tanggung-tanggung. Sekepalan tangan Robi muat dimasukkan ke celana, bahkan masih ada ruang kosong. ”Saya memang makin kurus, sih, di Kenya. Turun sampai 5 kilogram. Mungkin karena panas jadi keringat keluar terus,” ujarnya yang baru saja kembali dari pemusatan latihan di Kenya.
Suasana di dalam kamar mendadak cair. Tiga atlet itu berbeda cabang. Robi dari atletik, Brayen dari berkuda, sementara Samuel dari renang. Namun, mereka bisa tertawa lepas karena situasi komedi tersebut. Brayen yang tampak ”dingin” sampai ikutan bercanda, ”Nanti kalau kedodoran (saat defile), kami jagain, kok, dari belakang.”
Robi sempat membayangkan, apa jadinya jika celana itu melorot saat sedang membawa bendera. Dia pasti tidak bisa membenarkan posisi celana karena kedua tangan ada di tiang bendera. Sang pelari berkata, mungkin dia akan pulang dan tidak jadi berlomba karena sudah malu lebih dulu seandainya skenario itu kejadian.
Fotografer Kompas, Fakhri Fadlurrohman, berinisiatif meminjamkan ikat pinggang. Robi dengan secepat kilat menyambut tawaran tersebut. Pemegang rekor nasional maraton itu langsung memasangkan sabuk ke pinggangnya. Kelegaan tampak jelas di wajahnya. ”Nah, sekarang jadi saya yang kedodoran,” seloroh Fakhri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/10/da2734d484dc936c1197133540890434-FAK_5372.jpg)
Masalah Robi tidak berhenti sampai di situ. Setelah celana, giliran sepatunya yang kebesaran. Sepatu yang tersedia tinggal ukuran 44, sangat jauh dari ukuran idealnya, yaitu 39. Robi pun memilih untuk memakai sepatu sneaker hitam miliknya, sang penata busana mengangguk.
Ternyata bukan hanya Robi, Brayen dan Maxson pun mengalami situasi serupa. Brayen meminjam ikat pinggang ke rekannya, sementara Maxson menyiasati dengan peniti. ”Sebelum ini (celana yang dipakai), saya sempat dikasih celana ukuran nomor 40. Kegedean banget itu ha-ha-ha,” kata Maxson yang bertubuh kurus kering.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji Dewabrata, Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim