Juara Grand Slam Perancis Terbuka 2026 sulit diprediksi. Persaingan sangat terbuka akan terjadi di tunggal putra dan putri.
23 Mei 2026 16:31 WIB · Olahraga
AP Photo/Alessandra Tarantino
Menyebut calon juara tunggal putra dan putri Grand Slam Perancis Terbuka, turnamen tenis lapangan tanah liat berkarakter spesifik, biasanya tak sesulit memprediksi persaingan di lapangan keras. Namun, hal itu tak berlaku untuk Perancis Terbuka 2026 yang akan berlangsung di Roland Garros, Paris, 24 Mei-7 Juni.
Hampir semua petenis tak punya rekam jejak (terbaru) bagus di lapangan tanah liat yang membuat mereka menjadi favorit juara. Dari semua petenis bintang, hanya Jannik Sinner yang mempunyai catatan mumpuni.
Tunggal putra Italia ranking teratas dunia itu menjuarai semua ajang ATP Masters 1000 lapangan tanah liat, yaitu Monte Carlo, Madrid, dan Roma. Ketiga turnamen ini merupakan ajang pemanasan untuk Perancis Terbuka.
Jika bisa bertahan dalam persaingan selama dua pekan dengan format best of five sets, Sinner akan masuk daftar juara Perancis Terbuka di luar nama Rafael Nadal, Novak Djokovic, dan Carlos Alcaraz sejak Stan Wawrinka juara pada 2015. Setelah itu, Djokovic juara pada 2016, 2021 dan 2023, Alcaraz pada 2024 dan 2025, dan yang lainnya dijuarai Nadal.
Sinner berkesempatan melengkapi gelar juara dari arena Grand Slam dengan trofi dari Roland Garros. Dia menjuarai Australia Terbuka pada 2024 dan 2025, Amerika Serikat Terbuka 2024, dan Wimbledon pada 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/23/80b0f5b599cf6f18688e7edea1dc591d-France_French_Open_Tennis_138458700.jpg)
Seandainya trofi The Musketeers, lambang juara tunggal putra Perancis Terbuka, didapat Sinner pada hari terakhir turnamen, dia akan menjadi tunggal putra kesepuluh yang mempunyai gelar juara dari empat Grand Slam. Rivalnya, Alcaraz, menjadi petenis terakhir yang melakukannya ketika menjuarai Australia Terbuka pada Januari. Pemilik gelar Grand Slam secara lengkap lainnya diantaranya Djokovic, Nadal, Roger Federer, dan Andre Agassi.
Selain gelar juara dari Monte Carlo, Madrid, dan Roma, ada faktor lain yang membuat Sinner punya jalan lebih lapang menuju podium juara, yaitu absennya Alcaraz. Alcaraz menjadi petenis yang menutup peluang Sinner untuk menjuarai Perancis Terbuka 2025. Sinner memenangi dua set pertama, tetapi Alcaraz merebut tiga set berikutnya. Alcaraz menang 4-6, 6-7 (4), 6-4, 7-6 (3), 7-6 (10-2) dalam pertandingan lima jam 29 menit.
Tahun ini, Alcaraz tak ada dalam daftar pesaing di Roland Garros karena cedera pergelangan tangan kanan. Pada persaingan di tanah liat tahun ini, Alcaraz tampil di Monte Carlo Masters dan lolos hingga ke final. Di ATP 500 Barcelona, dia mundur sebelum menjalani babak kedua. Setelah itu, Alcaraz melewatkan turnamen di Madrid, Roma, Perancis Terbuka, bahkan, Wimbledon.
“Setelah menjalani tes, kami mengambil keputusan bahwa hal yang paling bijaksana adalah berhati-hati dan tidak berpartisipasi di Roma dan Roland Garros,” kata Alcaraz setelah mundur di Barcelona, April.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/23/a1c61e7c52822f12fb425e361642dae7-TENNIS_ATP_MONTE_CARLO_137474907.jpg)
Sebulan kemudian, Alcaraz kembali memberi kabar. “Pemulihan saya berjalan dengan baik, tetapi sayangnya, saya belum siap untuk bertanding. Itu sebabnya, saya akan mundur dari turnamen lapangan rumput, di Queen dan Wimbledon,” katanya.
Petenis lain, seperti semifinalis Perancis Terbuka 2025, Lorenzo Musetti, dan Holger Rune tak akan tampil di Roland Garros, tetapi, tidak ada yang lebih membayakan bagi Sinner selain Alcaraz. Dalam persaingan sejak 2024, tak ada lawan berarti untuk persaingan Sinner-Alcaraz, terutama di arena Grand Slam. Hanya Sinner atau Alcaraz yang menjuarai sembilan Grand Slam terakhir, sejak Australia Terbuka 2024 hingga Australia Terbuka 2026.
Satu-satunya yang tampil konsisten di arena Grand Slam adalah Novak Djokovic yang sudah berusia 38 tahun. Khusus di Roland Garros, Djokovic selalu mencapai, minimal, perempat final sejak 2010 dengan gelar juara yang diraih pada 2016, 2021, dan 2023.
Jika tak ada kendala fisik, Djokovic bisa menjadi rival utama Sinner, apalagi, undian membuat mereka hanya bisa bertemu di final. Djokovic pun mengalahkan Sinner di semifinal Australia Terbuka pada pertemuan terakhir mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/23/d5c50602aa6c7f13e6fc6fbaecf564dd-TENNIS_WTA_ROME_OPEN_2026_138080293.jpg)
Petenis lain yang tampil cukup baik di Roland Garros adalah Alexander Zverev dengan mencapai semifinal pada 2021-2023, final 2024, dan perempat final pada 2025. Namun, Zverev selalu kesulitan ketika harus berhadapan dengan Sinner. Zverev tertinggal 4-10 dan kalah dalam sembilan pertemuan terakhir.
Persaingan tunggal putri lebih sulit diprediksi. Siapapun bisa menjadi juara. Ini karena tak ada petenis yang tampil dominan di lapangan lambat tanah liat.
Empat kali juara Perancis Terbuka, Iga Swiatek, bagai kehilangan sentuhannya. Setelah performanya menurun pada 2025, Swiatek belum juga bangkit.
Di Australia Terbuka 2026, dia tersingkir di perempat final setelah kalah dari Elena Rybakina yang akhirnya juara. Pada ajang WTA 1000, performa Swiatek tak berbeda dengan di Melbourne Park, Australia. Dia bahkan disingkirkan sesama petenis Polandia, Magda Linette, pada babak kedua WTA Miami.
Menjelang musim persaingan tanah liat, Swiatek berlatih di Akademi Rafa Nadal, Spanyol. Dalam beberapa sesi latihan, Swiatek bahkan didampingi Nadal. Dia juga menggaet Francisco Roig, mantan pelatih Nadal.
Namun, hasil di turnamen pemanasan Perancis Terbuka tak begitu bagus. Swiatek kalah dari Mirra Andreeva pada perempat final WTA 500 Stuttgart, lalu tersingkir pada babak ketiga WTA 1000 Madrid saat melawan Li Ann.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/23/fc82958abfa49bcfb4d2c64060c71df9-Italian_Open_Tennis_138246326.jpg)
Baru di WTA 1000 Roma, performanya lebih baik meski tak sampai hingga ke laga puncak. Swiatek dikalahkan Elina Svitolina di semifinal.
Hanya performa yang cukup stabil di Roland Garros yang akan menjadi modal petenis ranking ketiga dunia itu untuk bersaing dengan para pesaing. Sejak Perancis Terbuka 2020, Swiatek empat kali meraih trofi Suzanne Lenglen, lambang juara tunggal putri Perancis Terbuka.
Dia juara pada 2020, 2022, 2023, dan 2024 sebelum langkahnya dihentikan Aryna Sabalenka pada semifinal 2025. Atas dasar inilah, mantan petenis Amerika Serikat, Rennae Stubbs memilih Swiatek sebagai favorit juara.
Stubbs mengesampingkan Sabalenka yang belum bisa menaklukkan lapangan Roland Garros dengan karakter lebih lambat dibandingkan lapangan tanah liat turnamen lain. Permainan Sabalenka, yang mengandalkan pukulan penuh tenaga memang lebih cocok diterapkan di lapangan cepat, terutama lapangan keras.
Dalam persiapan menuju Roland Garros, Sabalenka hanya bisa mencapai perempat final WTA Madrid dan babak ketiga WTA Roma. Dia pun akan tampil sambil membawa cedera punggung bawah.
Kondisi Swiatek dan Sabalenka seharusnya menjadi keuntungan bagi Cori “Coco” Gauff untuk mempertahankan gelar. Coco meraih gelar kedua di arena Grand Slam ketika menjuarai Perancis Terbuka 2025 usai mengalahkan Sabalenka di final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/23/796484fe7c23474fa9ea8296ec4aea25-France_French_Open_Tennis_138458708.jpg)
Selama ini, petenis ranking keempat dunia itu sering terkendala dengan beban mempertahankan gelar juara. Coco tak pernah mempertahankan gelar juara, salah satunya setelah menjuarai AS Terbuka 2023. Pada ajang besar lain, Coco tersingkir lebih awal pada tahun berikutnya setelah menjuarai Final WTA 2024, WTA Cincinnati 2023, dan WA Beijing 2024.
“Saya belajar untuk tidak terbeban status juara bertahan. Saat bermain di AS Terbuka 2024, saya mengatakan pada diri sendiri harus mempertahankan gelar. Saat ini, saya berpikir, setiap turnamen adalah kesempatan baru. Saya tidak membebani diri sendiri untuk mempertahankan gelar,” ujar Coco.
Coco mencoba mengurangi beban mental. Apalagi, dia akan menghadapi tantangan awal cukup berat, yaitu melawan petenis AS, Taylor Townsend, pada babak pertama. Townsend mengalahkan Coco pada satu-satunya pertemuan lain meski terjadi tujuh tahun lalu, yaitu di perermpat final WTA Charleston.
Coco juga tiba di Roland Garros dengan kekalahan menyesakkan pada final WTA Roma, pertandingan terakhirnya sebelum Perancis Terbuka. Dia kalah 4-6, 6-7 (3), 2-6 dari Elina Svitolina. Petenis Ukraina ini meraih gelar di Roma untuk ketiga kali, berselang delapan tahun dari gelar sebelumnya.
Svitolina bisa menjadi kuda hitam jika bisa mempertahankan performa di Roma. Dia juara setelah menyingkirkan Rybakina, Swiatek, dan Coco. (AFP/AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase