Final tunggal putri Perancis Terbuka 2025 akan melahirkan juara baru setelah Iga Swiatek tersingkir. Aryna Sabalenka akan melawan Cori Gauff.
06 Jun 2025 18:26 WIB · Olahraga
PARIS, KAMIS — Petenis tunggal putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, menghentikan dominasi Iga Swiatek di Perancis Terbuka 2025. Trofi Suzanne Lenglen pun akan berpindah tangan kepada juara baru, Sabalenka atau Cori Gauff.
Sabalenka menghentikan 26 kemenangan beruntun Swiatek di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, pada semifinal Perancis Terbuka 2025, Kamis (5/6/2025). Dari jumlah tersebut, 21 kemenangan mengantarkan Swiatek menjadi juara Perancis Terbuka 2022-2024. Satu gelar lainnya didapat pada 2020.
Dalam pertandingan yang memperlihatkan karakter permainan berbeda, gaya bermain powerfull mengantarkan Sabalenka menuju final pertamanya di Perancis Terbuka. Dia mengalahkan Swiatek dengan skor 7-6 (1), 4-6, 6-0 setelah bertanding selama 2 jam 19 menit.
Pada semifinal lainnya, meski berhadapan dengan lawan yang didukung penuh penonton di stadion, yaitu Loui Boisson, Coco menguasai pertandingan dengan kemenangan 6-1, 6-2. Laga itu berlangsung 1 jam 10 menit lebih cepat dari persaingan Sabalenka dan Swiatek.
”Iga adalah lawan terberat, terutama di Roland Garros. Saya bangga bisa memenangkan pertandingan,” kata Sabalenka, petenis pertama yang mengalahkan Swiatek pada set ketiga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/06/fbdee0ae-b7c7-4009-a89a-42e8dd10d6fa_jpg.jpg)
Sabalenka, yang memiliki gelar juara Grand Slam Australia Terbuka 2023 dan 2024 serta Amerika Serikat Terbuka 2024, baru kali ini menembus final Grand Slam di luar lapangan keras.
Dengan pukulan keras yang konsisten dari baseline, gaya permainan Sabalenka itu memang lebih cocok diterapkan di lapangan keras yang berkarakter cepat. Namun, dia menggunakan itu sebagai senjatanya di lapangan tanah liat yang berkarakter lebih lambat.
Coco, panggilan Cori Gauff, memiliki kesempatan kedua untuk membawa pulang trofi Suzanne Lenglen, lambang juara tunggal putri, setelah final Perancis Terbuka 2022. Dua final dan satu semifinal dalam empat tahun terakhir memperlihatkan semakin nyamannya Coco bermain di Roland Garros meskipun lawan pada semifinal memiliki level kemampuan yang jauh di bawahnya.
Tahun ini, pertandingan melawan Aryna akan menjadi pertandingan yang sangat berat. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan. (Coco Gauff)
Pertemuan Sabalenka dan Coco, yang akan berlangsung pada Sabtu, menjadi final petenis peringkat teratas dan kedua dunia yang pertama di Roland Garros sejak Serena Williams melawan Maria Sharapova pada 2013. Serena, yang saat itu menjadi petenis nomor satu dunia dan unggulan teratas, menang dengan skor 6-4, 6-4.
Final nanti juga menjadi final ketiga beruntun bagi Coco dalam turnamen besar di lapangan tanah liat. Dia menembus fase yang sama di WTA 1000 Madrid dan Roma, turnamen pemanasan Perancis Terbuka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/06/f67f2351-3231-4d07-9e0a-5f50172edc21_jpg.jpg)
Coco, yang berusia 21 tahun, menjadi petenis termuda yang mencapai final WTA Madrid, Roma, dan Perancis Terbuka. Dia mengikuti jejak Chris Evert, Martina Navratilova, dan Serena Williams.
Namun, Coco memiliki pekerjaan rumah dari dua final itu yang harus segera dicari solusinya karena selalu kalah. Dia kalah dari Sabalenka di Madrid dan Jasmine Paolini di Roma.
Kekalahan di Madrid menjadi satu-satunya pertemuan Coco dan Sabalenka pada 2025. Meski demikian, Coco masih bisa menjadikan hasil imbang 5-5 dari pertemuan dengan Sabalenka sebagai bekal untuk final nanti.
Apalagi, Coco pun memiliki pengalaman mengalahkan petenis nomor satu dunia itu di turnamen tanah liat meskipun terjadi empat tahun lalu, yaitu pada babak ketiga Roma Masters.
”Final Perancis Terbuka 2022 tentu akan membantu saya menjalani pertandingan nanti. Saat itu, saya sangat gugup menghadapi laga tersebut. Tahun ini, pertandingan melawan Aryna akan menjadi pertandingan yang sangat berat. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Coco.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/14d97b29-a9fd-431a-9440-46a4035993c4_jpg.jpg)
Dengan penampilan konsistennya, Sabalenka lolos ke final tiga Grand Slam secara beruntun. Sebelumnya, dia menjuarai AS Terbuka 2024 dan kalah dari Madison Keys pada final Australia Terbuka 2025.
Sabalenka mengikuti jejak tiga tunggal putri lain yang menembus final dalam tiga Grand Slam beruntun, salah satunya Venus Williams yang tampil dalam final Perancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka 2022. Ada pula Justine Henin yang menjadi finalis pada semua (empat) Grand Slam pada 2006.
Adapun Serena melakukannya dua kali, yaitu saat tampil di final Perancis Terbuka 2002 hingga Australia Terbuka 2003, lalu Wimbledon 2008 sampai Australia Terbuka 2009. Hal lain yang membuat Serena lebih unggul adalah dia menjuarai semua Grand Slam sejak Perancis Terbuka 2002 hingga Australia Terbuka 2003.
”Final ini sangat berarti bagi saya karena entah berapa tahun saya dan tim berusaha mengembangkan permainan saya di lapangan tanah liat. Saya bisa semakin nyaman bermain di sini. Seandainya bisa mendapat trofi, itu akan berarti segalanya,” ujar Sabalenka.
Tiket final tunggal putra akan diperebutkan melalui semifinal yang berlangsung mulai Jumat malam hingga Sabtu dini hari waktu Indonesia. Juara bertahan, Carlos Alcaraz, akan berhadapan dengan petenis Italia, Lorenzo Musetti, pada pertandingan pertama, mulai pukul 19.30 WIB.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/04/b7d1d187-452a-4f6e-9b8a-176307da4911_jpg.jpg)
Namun, laga yang akan lebih menyita perhatian adalah pertemuan antara dua petenis beda generasi, Jannik Sinner dan Novak Djokovic. Sinner menjadi salah satu favorit juara tunggal putra selain Alcaraz, tetapi Djokovic tetap tak boleh dipandang sebelah mata.
Sejak 2010, Djokovic tidak pernah tersingkir sebelum perempat final Perancis Terbuka. Setelah menjadi juara di Roland Garros untuk pertama kalinya pada 2016, Djokovic menambah dua gelar saat berusia lebih dari 30 tahun, yaitu pada 2021 dalam usia 34 tahun dan 36 tahun (2023).
Meskipun partisipasinya dalam turnamen ATP Tour berkurang, atlet berusia 38 tahun itu masih bisa menembus pekan kedua pada hampir semua Grand Slam. Maka, Sinner pun tak ingin percaya diri berlebihan walaupun dia menang dalam tiga pertemuan terakhir dengan Djokovic.
”Djokovic telah memperlihatkan bahwa dia bisa kembali ke level kemampuannya yang tinggi. Jadi, pertandingan melawan dia akan sangat-sangat sulit. Dia sangat berpengalaman, mempunya 24 gelar Grand Slam. Itu mengatakan segalanya,” kata Sinner.
Sementara Sinner adalah petenis yang paling konsisten sejak 2024. Gelar juara AS Terbuka 2024, Australia 2025, dan kemenangan pada lima babak Perancis Terbuka 2025 membuatnya tidak terkalahkan dalam 19 pertandingan beruntun di arena Grand Slam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/03/2fe82872-144b-48a4-bf9e-7e2e3acc8f13_jpg.jpg)
Sinner juga sangat cepat beradaptasi pada suasana kompetisi meskipun tiga bulan tak bertanding, yaitu pada Februari-awal Mei, karena menjalani skors terkait doping. Ketika kembali ke kompetisi, Sinner langsung menembus final turnamen tanah liat ATP Masters 1000 Roma meskipun akhirnya kalah dari Alcaraz.
”Jannik punya penampilan luar biasa. Ia petenis terbaik dalam dua tahun terakhir. Saya tak punya kesempatan besar. Saya hanya berharap bisa bertahan secara fisik,” kata Djokovic. (AFP/AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra