Harapan perdamaian di Gaza menguat setelah Hamas bersedia memulangkan sandera sesuai proposal damai Presiden AS Donald Trump.
06 Okt 2025 05:20 WIB · Tajuk Rencana
Kesediaan Hamas membebaskan sandera, yang disampaikan Jumat pekan lalu, memberikan angin segar, apalagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mendesak Israel agar segera menghentikan operasi militer. Meski demikian, jalan panjang masih membentang di tengah upaya menuju Gaza yang damai dan sejahtera.
Dalam proposal damai Trump, disebutkan bahwa setelah pembebasan sandera, Israel harus menarik pasukan secara bertahap dan Hamas melucuti senjatanya. Hamas juga tidak akan terlibat dalam pemerintahan baru Gaza yang akan dipimpin badan teknokrat Board of Peace yang dipimpin Trump. PM Israel Benjamin Netanyahu menyambut baik proposal Trump, meski memperingatkan, jika Hamas menolak atau melanggar kesepakatan, Israel akan ”menyelesaikan pekerjaan itu sendiri”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/f347a564f5b5b4714ce2e4d44472ab8b-ADDITION_APTOPIX_Israel_Palestinians_Gaza.jpg)
Di lapangan, setelah Hamas menyatakan kesediaan menyerahkan sandera, Israel masih mengebom Gaza City meski dikabarkan militer Israel siap beralih ke posisi defensif. Pihak pertahanan sipil Palestina melaporkan sedikitnya 20 rumah hancur, dengan korban tewas dan luka-luka meliputi anak-anak. Militer Israel memperingatkan warga agar tidak kembali ke rumah mereka.
Pada saat yang sama, warga Gaza bergembira setelah mengetahui Hamas bersedia menyerahkan sandera warga Israel. Namun, tetap muncul perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan. Ada warga Gaza yang mengaku gembira mendengar pengumuman Trump, tetapi serangan udara membuat euforia itu sirna. Di pengungsian Al-Mawasi, warga menyambut pernyataan Hamas dengan haru.
Meski membuka peluang diplomasi, proposal Trump dinilai rapuh karena membebankan kewajiban besar pada Hamas dalam waktu singkat tanpa jaminan Israel menghentikan agresinya. Ketiadaan jadwal yang jelas untuk penyerahan keamanan dan tuntutan demiliterisasi total juga menjadi hambatan utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/26/77208981aa9c0a191d2a25dbcb6bbafd-wires_photo_7.jpg)
Untuk memastikan perdamaian berkelanjutan, diperlukan komitmen tegas dari kedua pihak. Trump harus terus menekan Israel agar tunduk pada parameter konkret, seperti jadwal penarikan pasukan, penyaluran bantuan, dan investigasi pelanggaran. Komposisi Board of Peace perlu pula diperluas agar lebih dipercaya. Selain itu, pasukan stabilisasi internasional (ISF) juga harus segera dibentuk guna menjamin keamanan jangka panjang bersama aparat Palestina.
Kesejahteraan warga Gaza bergantung pada rekonstruksi dan stabilitas ekonomi pascakonflik. Dengan komitmen politik yang kuat, pengawasan ketat, dan dukungan ekonomi berkelanjutan, Gaza berpeluang bangkit menjadi wilayah yang aman, damai, dan sejahtera.
Penulis:
RedaksiEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul