Harga Beras Naik, Pedagang di Malang Keluhkan Pembelian Lesu

Tak hanya beras premium, harga beras premium di pasaran juga naik sejak sebulan lalu. Pedagang beras di Malang mengaku pembelian tak seramai biasanya.

05 Agt 2025 16:17 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Defri Werdiono

MALANG, KOMPAS — Harga beras, baik medium maupun premium, di tingkat pedagang di Malang, Jawa Timur, naik. Kenaikan terjadi mulai dari distributor dan berlangsung sejak sekitar satu bulan lalu. Meski pasokan aman, ada di antara pedagang yang sengaja membatasi stok dengan alasan serapan konsumen berkurang.

Berdasarkan pantauan di Pasar Lawang di Kabupaten Malang, Selasa (5/8/2025), harga beras medium saat ini dijual Rp 14.500-Rp 15.000 per kilogram (kg), sedangkan jenis premium Rp 15.500-Rp 16.000 per kg. Kondisi serupa terpantau di warung-warung kebutuhan pokok yang beroperasi 24 jam.

”Pengambilan dari distributor sudah naik. Beras selep kampung (medium) ini sekarang Rp 14.500 per kg, tadinya hanya Rp 13.500. Sementara yang premium saat ini Rp 15.500, tadinya Rp 14.500 per kg,” ucap pedagang beras di Pasar Lawang, yang menyebut dirinya Bu Darto.

Ia tidak mengetahui apakah harga beras akan naik lagi. Sejauh ini, pembelian beras tak seramai biasanya, baik jenis medium maupun premium. ”Penyebabnya apa, saya kurang tahu. Tapi pasar sepi,” katanya.  

Hal senada disampaikan Andi, pedagang beras lain di Pasar Lawang. ”Beras medium ini biasa saya jual Rp 14.000 per kg, sekarang tidak bisa. Sekarang pengambilan dari distributor sudah Rp 14.000 per kg sehingga saya harus jual Rp 15.000 per kg. Itu saja susah, pembeli keberatan,” tuturnya.

Suasana di salah satu kios beras dan kebutuhan lain di Pasar Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (5/8/2025). Harga beras naik sejak sebulan lalu dan pedagang mengaku pembelian beras tak seramai biasanya.

Karena permintaan tak terlalu banyak, Andi pun tidak berani menyediakan stok terlalu banyak. ”Setiap hari tidak pasti habisnya, mungkin konsumen lebih memilih beras kemasan,” kata Andi enggan menyebut berapa banyak beras yang terjual setiap hari.

Andi juga mendengar sejumlah merek beras kemasan berisi 5 kg per kantong menghilang dari pasaran akhir-akhir ini. Alasannya, pihak distributor tidak bisa memenuhi permintaan pemerintah yang mematok harga Rp 74.000 per kantong. Sementara distributor rata-rata menjual Rp 76.000 per kantong sehingga pedagang menjual seharga Rp 77.000-Rp 78.000.

”Dari petani katanya sudah tinggi harganya. Kalau beras kemasan tidak ada, konsumen mungkin nantinya akan lari ke beras medium (curah). Sayangnya, saat ini harga medium juga tinggi,” ujarnya.

Soal menghilangnya beras premium ini dibenarkan oleh konsumen. Wahyu (47), warga Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, menuturkan, sepekan terakhir beras merek tertentu yang biasa dia konsumsi lenyap dari warung.

”Sejak ramai kasus beras oplosan, beras premium yang biasa saya konsumsi menghilang di pasaran. Tak hanya merek yang biasa saya konsumsi, tetapi juga beberapa merek lain,” ujarnya.  

Di Jatim, harga beras bervariasi antara satu daerah dan daerah lain. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per 5 Agustus pukul 12.00, harga beras medium dari 37 kabupaten/kota rata-rata Rp 12.950 per kg. Harga tertinggi di Lamongan dan Sidoarjo Rp 14.000 per kg, sedangkan terendah di Bangkalan Rp 11.500 per kg.

Seorang petani di Desa Karangduren, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (15/2/2023), tengah menjemur gabah hasil panen beberapa hari sebelumnya.

Adapun harga beras premium rata-rata mencapai Rp 14.798 per kg. Harga tertinggi di Bojonegoro dan Sidoarjo Rp 16.000 per kg, sedangkan terendah di Ponorogo Rp 13.600 per kg.

Tingginya harga beras berbanding lurus dengan harga gabah di tingkat petani. Pengurus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Malang, Ali Masjudi, mengatakan, harga gabah di Malang pekan ini mencapai Rp 7.300 per kg untuk kering panen, sedangkan gabah kering giling (GKG) Rp 7.800-Rp 7.900 per kg.

”Harganya sama dengan pekan lalu, yakni Rp 7.300 per kg untuk kering panen, sedangkan yang GKG lebih tinggi lagi,” ucapnya.

Dibandingkan gabah di daerah lain, menurut Ali, harga gabah di Malang memang berbeda. Gabah dari Malang kualitasnya bagus dan hampir semua menjadi beras premium.

Ada sejumlah daerah di Malang yang telah panen dan memulai tanam kembali, seperti Kecamatan Kepanjen, Kromengan, Sumberpucung, dan Pakisaji. Sementara banyak daerah lain yang belum panen atau baru jelang panen, seperti Pakis dan Turen.

Menurut Ali, musim kemarau basah tahun ini diharapkan berdampak positif terhadap produksi padi. Pengairan teknis tercukupi sehingga airnya akan semakin banyak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Kabupaten Malang pada 2024 mencapai 394.148,57 ton GKG dari luas lahan sawah 58.295 hektar. Selain itu, ada 16.836,61 ton GKG dari ladang seluas 2.679 hektar.

Seorang petani di Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tengah merontokkan bulir padi menggunakan cara tradisional, yakni dengan memukulkannya ke rangkaian bilah bambu, pada 4 April 2022 lalu.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim Arum Sabil mengatakan, berdasarkan data BPS yang dirilis pada 1 Agustus 2025, angka sementara produksi beras di Jatim periode Januari-September 2025 mencapai 5.088.227 ton.

Angka ini, lanjut Arum, naik 487.540 ton atau 10,60 persen dari periode yang sama pada 2024. Dengan melihat data ini, ketersediaan beras di Jatim aman dan stabil. ”Jatim pada periode Januari-September 2025 memiliki produksi beras paling besar dibandingkan provinsi lain,” ujarnya melalui pesan pendek.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul