Harga Emas hingga Nikel Diprediksi Tumbuh Seiring Dinamika Kebijakan AS

Permintaan dan harga emas diperkirakan masih akan tumbuh, di samping komoditas logam lainnya, seperti tembaga dan nikel.

30 Nov 2024 20:45 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pergerakan harga komoditas logam untuk industri ataupun ritel diperkirakan tetap beragam hingga akhir 2024, menyesuaikan permintaan dan ketersediaan sumber daya alam. Emas masih menjadi komoditas logam yang akan tetap tumbuh permintaan dan harganya, di samping komoditas logam lainnya, seperti tembaga dan nikel.

Harga emas sejak awal 2024 telah tumbuh sekitar 30 persen ke harga 2.649 dollar AS per troy ons pada Sabtu (30/11/2024). Harga emas hingga akhir 2024 diprediksi masih akan fluktuatif dengan kebijakan ekonomi dan geopolitik yang tetap bergejolak.

Sepekan terakhir, misalnya, menurut Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo, harga emas cenderung turun sekitar 2 persen. Alasannya, pasar menunggu data ekonomi di Amerika Serikat (AS) untuk memprediksi prospek kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pada Desember, pasar mengantisipasi penurunan suku bunga The Fed setelah awal minggu ini harga inti PCE pada Oktober memenuhi ekspektasi. Namun, data lain menunjukkan ekonomi AS membaik sehingga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mengadopsi pendekatan yang hati-hati pada 2025.

”Jadi, emas diperkirakan akan diperdagangkan pada 2.600 dollar AS per troy ons pada akhir tahun ini, lalu 2.700 dollar AS per troy ons pada awal tahun 2025,” katanya kepada Kompas, Sabtu (30/11/2024).

Harga emas dunia antara tahun 2021-2024 mengalami kenaikan drastis karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Harga logam tembaga juga masih bergerak ke arah positif pada pekan terakhir November 2024. Harga tembaga berjangka naik mendekati 4,10 dollar AS per pon pada Jumat.

Sutopo mengatakan, naiknya harga tembaga juga berkat dollar AS yang lebih lemah menyusul pencalonan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan AS dan data inflasi PCE AS yang sesuai dengan ekspektasi. Kekhawatiran atas kenaikan tarif terhadap barang-barang impor dari Tiongkok, Meksiko, dan Kanada juga mereda seiring pedagang yang menunggu rincian lebih lanjut tentang rencana Donald Trump tersebut.

”Harga tembaga meningkat 5,26 persen sejak awal tahun 2024. Tembaga diperkirakan akan diperdagangkan pada harga 4,40 dollar AS per pon pada akhir tahun ini dan 4,64 dollar AS per pon pada awal tahun depan,” katanya.

Sementara itu, komoditas logam unggulan Indonesia, nikel, diprediksi masih akan terus turun dalam jangka menengah. Sejak awal 2024, harga nikel telah turun 258 dollar AS per metrik ton atau 1,58 persen sejak awal 2024.

Harga nikel berjangka saat ini sekitar 16.040 dollar AS per metrik ton dari level terendah dalam empat tahun. Hal ini didorong oleh kekhawatiran dunia atas pengetatan kebijakan pertambangan Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia.

Laporan menunjukkan bahwa kuota pertambangan yang disetujui Pemerintah Indonesia dapat turun hingga 27 persen pada 2026. Pemerintah berencana mengurangi biaya lisensi untuk bijih nikel kadar rendah (kandungan nikel kurang dari 1,5 persen) yang digunakan dalam produksi baterai. Kebijakan ini dapat membatasi ketersediaan nikel untuk industri seperti manufaktur baja tahan karat.

Grafik tren pergerakan harga sejumlah komoditas dunia 2023-2024.

Sementara itu, impor bijih nikel ke Indonesia melonjak 50 kali lipat dari tahun ke tahun menjadi lebih dari 9,3 juta ton antara Januari dan Oktober 2024. Situasi ini mencerminkan upaya untuk menjaga cadangan dalam negeri.

”Para pejabat telah berulang kali memperingatkan tentang berkurangnya stok nikel, menekankan perlunya memprioritaskan industri dalam negeri dan menstabilkan harga, menurut menteri pertambangan,” kata Sutopo.

Keterbatasan stok memungkinkan kenaikan harga nikel. Namun, sementara, harga nikel diperkirakan masih akan turun dengan harga 15.818,63 dollar AS per metrik ton pada akhir 2024 dan 14.855,91 dollar AS per metrik ton pada awal 2025.

Induk perusahaan tambang badan usaha milik negara (BUMN) PT Mineral Industri Indonesia Persero (Mind Id) juga membaca tren serupa. Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Mind Id, Dilo Seno Widagdo, di Jakarta, Selasa (26/11/2024), menyampaikan, harga emas dan tembaga masih dalam tren naik.

Nikel yang sedang dalam tren penurunan, menurut dia, juga kemungkinan mengalami kenaikan kembali pada 2025. Tren ini masih dipengaruhi sentimen ekonomi dan politik, terutama terkait kebijakan Pemerintah AS.

”Kalau outlook ke depan kemungkinan akan naik untuk emas dan copper (tembaga). Data Bloomberg pun menyebut bahwa makroekonomi akan memiliki peran penting terhadap komoditas. Kebijakan Trump yang menang (pilpres AS) akan membuat kebijakan berorientasi bisnis. Jadi, dia akan lebih pro terhadap sumber daya alam. Bisnis energi fosil masih tetap akan didorong,” ujar Dilo kepada wartawan.

Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha Mind Id, Dilo Seno Widagdo, ditemui di Jakarta, Selasa (26/11/2024).

Nikel untuk konstruksi

Kenaikan harga juga diprediksi terjadi pada komoditas nikel. Dilo mengatakan, harga nikel diproyeksikan masih berkisar 16.000 dollar AS per metrik ton. Kenaikan harga nikel akan dipicu beberapa faktor.

Pertama, penurunan suplai nikel dunia akibat tingginya biaya produksi di sejumlah negara, seperti Australia dan Filipina. Kedua, pertumbuhan sektor properti di India yang mulai agresif dan menyeimbangkan penurunan sektor properti di Tiongkok, juga akan mendukung kenaikan harga nikel dunia.

Situasi ini, kata Dilo, membuka peluang bagi komoditas nikel untuk tetap diminati, tidak hanya untuk ekosistem baterai kendaraan listrik, tetapi juga sektor konstruksi. Industri kendaraan listrik global tengah melambat akibat kebijakan proteksionisme perdagangan oleh beberapa negara besar.

Situasi itu dipicu adanya pembatasan ekspor kendaraan listrik buatan China oleh negara-negara di AS dan kawasan Eropa lewat penerapan kenaikan tarif impor. Penerapan bea masuk itu membuat produk asal China kurang kompetitif ketimbang produk buatan negara-negara tersebut.

”Tadinya pertumbuhannya maunya lebih besar. Namun, karena beberapa negara melakukan proteksi-proteksi, pertumbuhannya tidak sesuai dengan yang diharapkan,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra