Harga Emas Melangit, Tahan Jual atau Pilih Beli?

Emas kini menjadi aset dwiguna. Di satu sisi jadi pelindung nilai, di sisi lain bisa menjadi sumber likuiditas.

12 Okt 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia, Budi Suwarna

Sejak awal tahun, harga emas dunia sudah melonjak 52 persen hingga pekan kedua Oktober 2025. Lonjakan harga yang signifikan dalam sepuluh tahun terakhir itu membawa berkah bagi masyarakat yang ”menimbun emas”. Godaan untuk mengambil untung atau lanjut mengakumulasi emas pun datang.

Putri (43), karyawan di sebuah instansi pemerintah, tentu senang dengan harga emas yang terus naik dan mencetak rekor baru. Maklum, dia menabung emas di Pegadaian sekitar 7 tahun lalu ketika harga emas belum semahal sekarang.

Saat ini, tabungan emasnya di Pegadaian sekitar 100 gram dan perhiasan belasan gram. Sebagian besar dibeli sejak beberapa tahun yang lalu.

”Sebulan terakhir saya untung lebih dari Rp 20 juta dari selisih harga beli beberapa tahun lalu dan harga jual sekarang,” katanya dengan mata berbinar-binar, Rabu (8/10/2025), di Jakarta. Dia merasa keputusannya untuk mengalihkan sebagian tabungan konvensional dan deposito ke emas adalah keputusan yang tepat.

Seperti Putri, Noorhayati (47) juga rajin mengikuti pergerakan harga emas belakangan ini dari pemberitaan media massa. Padahal, karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ini sebelumnya acuh tak acuh pada pergerakan harga emas meski dia menabung emas.

”Saya mulai perhatian karena kenaikan harga emas cukup tinggi belakangan ini dan saya punya tabungan emas,” ujar Noorhayati, Kamis (9/10/2025), di Jakarta.

Aktivitas jual beli emas di gerai Toko Emas Bintang Timur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (6/7/2025). Menurut penuturan pedagang, menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2025/2026, banyak warga yang menjual simpanan perhiasan emasnya. Biasanya hasil penjualan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan peralatan belajar mengajar anaknya.

Noor mengaku mulai menabung emas sejak 10 tahun yang lalu. Total tabungan emasnya saat ini sekitar 200 gram. Sebagian besar berupa emas lempengan. Sebagian lagi tabungan emas di Pegadaian.

”Pokoknya kalau ada duit lebih, saya dari dulu selalu beli emas. Belakangan saya juga cicil emas di Pegadaian. Misalnya beli 10 gram, bayarnya dicicil enam bulan,” ujar Noor, yang juga berinvestasi dalam bentuk properti, saham bluechip, dan tabungan konvensional.

Dengan harga emas yang terus naik, Noor mendapat keuntungan yang cukup besar. ”Berapa keuntungannya belum saya hitung. Yang jelas selisihnya cukup gede, terutama untuk emas yang saya beli beberapa tahun lalu ketika harganya masih di bawah Rp 1 juta per gram,” ujarnya.

Untuk jangka panjang

Meski harganya melambung tinggi, menjual tabungan emas belum tentu jadi keputusan yang dipilih para penabung emas. Alasannya senada, yakni tabungan emas mereka diproyeksikan untuk kebutuhan jangka panjang.

Putri sempat terpikir menjual emas untuk kebutuhan konsumsi. Namun, ia khawatir uang penjualan emas bakal habis tak karuan. Akhirnya, ia memilih lanjut menyimpan emasnya untuk keperluan jangka panjang.

”Mungkin sebagian baru saya jual dua tahun lagi saat dua anak saya masuk perguruan tinggi. Biarin aja emasnya ditabung di Pegadaian saat ini,” katanya.

Noor menilai, menabung emas dapat mencegah penurunan nilai aset yang dimiliki. Ini berbeda dengan instrumen deposito dan tabungan konvensional yang untungnya cenderung lebih kecil dari inflasi. Dengan pertimbangan itu, ia menempatkan dirinya sebagai holder emas, bukan trader.

”Maka, meski harga emas tinggi, saya belum tergoda untuk menjual. Malah kalau ada uang lebih, saya akan tetap beli emas walaupun harganya masih tinggi,” kata Noor yang terakhir kali membeli emas pada Juli lalu sebanyak 5 gram, berupa emas lempengan dari pedagang di Pasar Cikini, Jakarta Pusat.

Petugas menunjukkan emas edisi Imlek bergambar kelinci di Butik Emas Antam, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (16/1/2023). Menyambut tahun baru Imlek, PT Aneka Tambang (Tbk) memproduksi emas tematik seri Imlek 2023 berupa emas batangan 8 gram dan gift series 0,5 gram dan 1 gram. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 16-01-2023

Menurut rencana, lanjut Noor, ia akan menggadaikan atau menjual sebagian emasnya pada 2026 untuk biaya pendidikan anak pertama yang akan mulai kuliah. Tahun berikutnya, pada 2027, dia akan menggadaikan atau menjual emas lagi untuk biaya pendidikan anak keduanya.

Ibu rumah tangga seperti Novfila Netty (43) juga memilih tidak menjual emas meski tahun ini ada kebutuhan usaha yang menggerus pemasukannya. Ia tidak tergiur kenaikan harga, yang membuat 50 gram emas yang ia beli pada 2017 dengan harga Rp 29 juta naik menjadi lebih dari Rp 70 juta tahun ini.

”Sayang kalau jual emas sekarang karena saya percaya untuk jangka panjang harga emas akan terus naik,” ujarnya kepada Kompas, Jumat (10/10/2025).

Di sisi lain, warga Jakarta ini memilih menahan keinginan membeli emas. Ia memang terbiasa membeli emas batangan dalam jumlah besar, minimal 5 gram. Opsi ini dipilih karena harga belinya lebih murah daripada membeli emas dalam satuan bobot lebih kecil.

”Kalau harganya agak turun kemungkinan saya beli, sekalian mengumpulkan uang supaya bisa beli emas dalam jumlah besar,” katanya.

Aset dwiguna

Emas bagi masyarakat nyatanya tidak hanya menjadi aset penimbun kekayaan. Masyarakat kini juga mengandalkan likuiditas emas untuk mendapatkan dana cepat.

Pola ini ditangkap perusahaan yang melayani transaksi emas, PT Pegadaian. Kepala Divisi Bisnis Bullion PT Pegadaian Kadek Eva Suputra mengatakan, tren permintaan gadai emas di Pegadaian menunjukkan adanya pergeseran perilaku di masyarakat, di mana emas kini dipandang sebagai aset ”dwiguna”.

”Emas bukan lagi sekadar instrumen simpanan jangka panjang, tetapi juga sumber likuiditas jangka pendek yang cerdas,” katanya kepada Kompas, Jumat (10/10/2025).

Harga emas mencapai kisaran Rp 2 juta per gram pada Senin (21/4/2025). Lonjakan harga diprediksi terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan.

Di tengah kenaikan harga emas yang tinggi, masyarakat semakin termotivasi memiliki emas dalam bentuk fisik maupun digital, yakni berupa saldo Tabungan Emas, yang menjadi salah satu layanan emas digital Pegadaian.

Namun, tidak hanya termotivasi untuk menabung, masyarakat juga makin mudah menggadai emas saat membutuhkan dana likuid, alih-alih menjualnya.

Menggadaikan emas adalah cara masyarakat meminjam dana untuk memenuhi kebutuhan mendesak tanpa melakukan penjualan. ”Dengan menggadai, mereka mendapatkan uang tunai sambil tetap mempertahankan kepemilikan aset emasnya,” kata Kadek.

Per 30 september 2025, permintaan gadai emas cukup besar. Untuk emas batangan mencapai 5,5 juta gram dan dalam bentuk perhiasan sebesar 85 juta gram.

Pegadaian juga melihat tren minat masyarakat terhadap investasi emas, baik fisik maupun digital, sangat meningkat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan omzet cicil emas mencapai 182,3 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara omzet Tabungan Emas naik 218 persen secara tahunan per akhir september 2025 ini.

Petugas melayani pembeli yang akan jual beli emas batangan dan perhiasan pada salah satu kantor pegadaian di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/9/2022). Emas menjadi instrumen investasi jangka panjang, jaminan hutang hingga tabungan serta aman lindung nilai dari inflasi. Sebagian masyarakat memilih emas dengan kemudahannya ketika mereka ingin menjual asetnya secara cepat. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 20-09-2022

Strategi sesuai tujuan

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyarankan agar investor menerapkan strategi yang berorientasi pada tujuan. Emas sendiri bisa memberi imbal hasil sekitar lima tahun sehingga cocok sebagai investasi jangka panjang dan pelindung nilai.

”Pertanyaan soal apakah harus masuk saat harga turun atau kapan saja dapat diselesaikan dengan menggabungkan dua strategi yang paling efektif,” kata Sutopo, Jumat (10/10/2025).

Membeli aset investasi kapan saja adalah strategi yang paling direkomendasikan untuk sebagian besar investor, terutama pemula. Emas bisa dibeli secara rutin, misalnya setiap bulan, dengan jumlah uang yang tetap, tanpa memedulikan harga pasar saat itu.

Keuntungan strategi ini adalah menghilangkan kebutuhan untuk menebak waktu terbaik dan mengurangi risiko membeli seluruhnya saat harga berada di puncak.

”Dalam jangka panjang, investor akan mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dan cenderung menguntungkan,” kata Sutopo.

Di sisi lain, strategi memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang masuk juga tidak masalah. Koreksi harga bisa menjadi peluang untuk membeli emas dalam jumlah yang lebih besar atau menambah porsi tabungan emas.

”Masuklah saat harga turun secara signifikan dari puncak, seperti yang terjadi setelah berita gencatan senjata dalam konflik global, atau ketika dollar AS menguat sehingga menekan harga emas,” ujarnya.

Ada banyak peluang untuk membeli saat harga turun. Sebab, pergerakan harga emas didukung oleh risiko global yang persisten. Sebagai contoh, ketika ada berita positif terkait gencatan senjata Israel-Hamas, kenaikan harga emas mereda dalam jangka pendek.

Pegawai toko emas Bintang Timur di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menunjukkan koleksi emas batangan kepada calon pembeli, Senin (6/10/2025). Berdasarkan data di laman Logammulia.com yang dikelola PT Antam Tbk, harga emas batangan Antam tembus Rp 2.250.000 per gram, Senin (6/10/2025). Harga ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
06/10/2025

Harga emas dunia yang sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di 4.000 dollar AS per troy ons pada pekan pertama Oktober 2025, kini kembali turun di kisaran 3.900 dollar AS per troy ons.

”Ketika ketakutan mereda, investor yang masuk cepat untuk mencari perlindungan akan melakukan aksi ambil untung. Ini menyebabkan harga terkoreksi untuk sementara dan sedikit menurun dari puncaknya,” kata Sutopo.

Namun, konflik global hanyalah salah satu pemicu kenaikan harga emas. Emas juga memiliki fondasi struktural yang lebih kuat yang mendukung tren kenaikannya, yakni nilai tukar dollar AS.

Kurs dollar AS kini dipengaruhi kondisi makro ekonomi AS yang dihantui kekhawatiran atas utang fiskal AS, prospek penurunan suku bunga oleh The Fed, dan independensi kebijakan moneter. Permintaan emas yang meningkat oleh bank sentral di banyak negara untuk mendiversifikasi cadangan dollar AS juga akan terus meningkatkan harga emas.

Menjelang akhir 2025, Sutopo menyebut, konsensus pasar memprediksi harga emas kembali melaju. Beberapa prediksi optimistis menargetkan hingga 4.289 dollar AS per ons.

”Setelah menembus rekor, sebagian besar analis memperkirakan, emas akan berkonsolidasi di level yang tinggi dan berpotensi lebih tinggi lagi, terutama jika ada sinyal yang jelas dari The Fed mengenai pemotongan suku bunga,” katanya.

Dengan proyeksi kenaikan tersebut, apakah Anda masih bingung untuk menjual emas atau lanjut membeli emas?


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia, Budi Suwarna
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto