Faktor global berupa kenaikan suku bunga bank sentral di banyak negara hingga dinamika komoditas minyak mentah global jadi sorotan utama investor di akhir September.
28 Sep 2026 14:05 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Erika Kurnia
JAKARTA, KOMPAS — Pasar saham Indonesia diprediksi kembali menghadapi tekanan berat pada pekan perdagangan akhir September 2026. Setelah melemah tajam lebih dari 3 persen sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan kini berisiko kembali melemah karena sentimen kebijakan terbaru bursa hingga kenaikan harga komoditas global.
Berdasarkan data perdagangan bursa pada pekan lalu, IHSG ditutup melorot 3,09 persen dalam sepekan hingga Jumat (25/9/2026) ke posisi 6.241,89. Tekanan jual terbilang masif, ditandai dengan aksi jual bersih (net foreign outflow) investor asing yang mencapai Rp 3,5 triliun di pasar reguler serta penurunan nilai transaksi harian senilai 6,95 persen menjadi Rp 15,22 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan, pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang saling mengunci. Dari ranah global, lonjakan harga energi dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah serangan milisi Houthi terhadap fasilitas infrastruktur energi Saudi, Aramco, di jalur East-West Pipeline.
”Gangguan pada East–West Pipeline Saudi yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak untuk menghindari Selat Hormuz mempersempit fleksibilitas distribusi ketika jalur utama menghadapi risiko eskalasi,” ujar David, Senin (28/9/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/0ad0527adb903af72d21cbfd4bf28f80-IMG_20260928_WA0004.jpg)
Harga minyak Brent pada Senin ini kembali melonjak melampaui 106 dolar AS per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. Ketidakpastian pasokan energi ini meningkatkan ancaman inflasi global.
Di sisi lain, kebijakan moneter ketat masih membebani pasar berkembang. Langkah Bank Sentral AS, The Fed, yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75–4,00 persen, disusul kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) hingga 1,25 persen, kian memperkuat ekspektasi pengetatan lanjutan.
Kondisi tersebut mendongkrak imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun hingga melampaui 5,2 persen. Kenaikan imbal hasil aset bebas risiko AS tersebut menaikkan premi risiko di pasar berkembang, merangsang realokasi dana keluar dari Indonesia menuju aset berdenominasi dolar AS.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 22–23 September 2026.
”Fokus BI saat ini lebih kuat pada stabilitas rupiah dan inflasi sekaligus tetap menjaga momentum pertumbuhan,” kata David.
Tekanan terhadap kurs rupiah kian nyata, di mana per 25 September nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.903 per dolar AS, dengan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di kisaran Rp 17.917 per dolar AS. Kendati demikian, ketahanan ekonomi domestik dinilai masih ditopang oleh cadangan devisa yang cukup kuat sebesar 146,5 miliar dolar AS.
Namun, risiko kenaikan inflasi akibat harga energi dan potensi El Nino pada bahan pangan membatasi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Dari industri pasar modal domestik, perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada pemberlakuan kebijakan baru BEI yang merombak kebijakan full call auction atau papan pemantauan khusus. Ini sejalan dengan implementasi minimum harga saham untuk diperdagangkan di pasar reguler dari Rp 50 ke Rp 1 per saham.
Sejak keluarnya aturan ini, 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus akibat penghapusan empat kriteria penentuan saham dalam papan pemantauan khusus. Peraturan yang dihapus yakni kriteria 1, 6, 7, 10 yang menyoroti kondisi likuiditas minimal saham yang bisa diperdagangkan di pasar reguler.
Riset Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, penyesuaian ini bertujuan untuk memperluas ruang perdagangan serta meningkatkan kualitas pembentukan harga (price discovery) bagi saham-saham yang selama ini stagnan di level Rp 50.
”Kendati membuka peluang likuiditas baru, mereka menilai, perubahan ini berpotensi memicu volatilitas tinggi pada saham-saham berkapitalisasi kecil atau berharga rendah,” kata Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Secara teknikal, pergerakan IHSG mengindikasikan dominasi tren melemah atau bearish. IHSG diperkirakan memiliki area batas atas atau resistance terdekat pada kisaran 6.300–6.450 apabila terjadi pembalikan arah (rebound) teknikal. Untuk batas bawah support kuat diperkirakan di rentang 6.200–6.220.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/25/f93917a234c4366d8ddc34412d960f04-20260925_122655.jpg)
Namun, seiring telah tembusnya batas support tersebut, indeks berpotensi mencari level keseimbangan baru. Selama perdagangan sesi I, Senin (28/9/2026), IHSG yang dibuka di posisi 6.209, anjlok hampir 1 persen ke bawah 6.200.
Untuk peluang perdagangan pekan ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham secara selektif atau stock pick antara lain PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Ultra Voucher Tbk (UVCR), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
”Pergerakan selanjutnya akan mencermati reaksi indeks di area support serta dampak implementasi kebijakan baru BEI terhadap volatilitas pasar,” kata mereka.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase