Harga Minyak Dunia Bisa Menuju 80 Dollar AS Per Barel

Ancaman Iran menutup Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan global semakin membuat harga minyak mentah dunia melonjak.

23 Jun 2025 15:25 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang belakangan melibatkan Amerika Serikat menyebabkan lonjakan harga di pasar minyak dunia. Terus memanasnya konflik dua kubu tersebut diprediksi bisa mengungkit harga minyak hingga 80 dollar AS per barel. Harga komoditas tambang, seperti emas, diprediksi bakal ikut naik.

Minyak mentah WTI pada Senin (23/6/2025) pukul 14.00 mencapai harga 74,87 dollar AS per barel atau naik 1,03 persen sejak pembukaan pasar. Harga minyak mentah Brent sudah menyentuh 78 dollar AS per barel, bahkan sempat menyentuh harga 79 dollar AS per barel, tertinggi sejak Januari 2025.

Pengamat komoditas Sutopo Widodo mengatakan, pemicu utama lonjakan harga minyak mentah dunia adalah serangan yang dilancarkan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran selama akhir pekan. Pergerakan harga ini, dalam konteks reaksi langsung pasar terhadap ketegangan geopolitik yang memanas, bisa dibilang cukup agresif.

”Pasar minyak dikenal sangat sensitif terhadap gejolak di Timur Tengah. Lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat akan potensi gangguan pasokan, terutama dengan keterlibatan langsung AS dalam konflik yang sedang berlangsung,” katanya kepada Kompas.

Ada kesepakatan Amerika Serikat dan Israel terkait dengan Iran dan porosnya yang mungkin membuat kegaduhan lagi dalam waktu dekat. Apa itu? *** Local Caption *** Alasan AS dan Israel Targetkan Penghancuran Nuklir Iran

Kekhawatiran yang lebih besar muncul terkait ancaman Iran menutup Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan arteri vital bagi pasokan energi global. Sekitar 20 persen distribusi minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz setiap hari.

Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, Sutopo berpendapat, akan ada dampak besar yang berisiko memicu krisis energi global. ”Harga minyak akan melonjak ekstrem, berpotensi menembus 100 dollar per barel, bahkan lebih tinggi, memicu inflasi di seluruh dunia dan menyeret ekonomi global ke dalam resesi,” ungkapnya.

Pengamat komoditas lainnya, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan, dalam jangka pendek, harga minyak mentah bisa naik ke level 80 dollar AS per barel. Ini berpeluang dicapai lebih awal oleh minyak Brent yang lebih mahal dari harga minyak mentah WTI.

Harga minyak, ia melanjutkan, bisa terus melonjak dengan kebutuhan bahan bakar avtur untuk keperluan perang lewat serangan udara. Sementara jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak bisa lanjut meningkat karena produksi dan distribusi minyak dunia menurun.

Iran memproduksi 3,3 juta barel per hari. Sebanyak 2,2 juta barel di antaranya diekspor. Penutupan Selat Hormuz juga akan mengganggu pasokan minyak melalui kapal tanker dari negara-negara eksportir minyak di Timur Tengah ke Eropa, Asia, dan Afrika.

”Pada saat terjadi perang, ekspor minyak Iran yang sebesar 2,2 juta barel per hari terhambat, itu bisa memantik harga emas dunia mengalami kenaikan,” imbuhnya.

Spesimen produk emas dipajang di salah satu sudut butik logam mulia Antam Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/4/2025). Saat harga emas sedang tinggi, sebagian orang justru antusias melakukan pembelian. Sebab, harga emas diperkirakan bakal terus naik hingga beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, harga emas pada Senin ini sekitar 3.350 dollar AS per troy ons, turun 2,7 persen sejak perang rudal Iran-Israel per 13 Juni 2025. Walaupun ada di tren koreksi, Ibrahim memprediksi masih ada kesempatan harga emas dunia ini akan kembali menyentuh level 3.400 dollar AS per troy ons.

”Kalau seandainya dalam waktu dekat level harga emas menyentuh 3.400 dollar AS, kemungkinan besar akan ada kelanjutan kenaikan harga emas hingga 3.500 dollar AS per troy ons dalam bulan Juli minggu pertama,” katanya.

Faktor geopolitik, menurut Ibrahim, masih menjadi faktor penyebab gejolak pasar keuangan. Faktor ini menambah ketidakpastian penerapan tarif dan perang dagang oleh AS pada banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati