NEW YORK, SABTU — Harga minyak mentah telah kembali ke aras seperti sebelum Amerika Serikat-Israel menyerang Iran. Meski demikian, harga bahan bakar tetap tinggi sampai beberapa waktu ke depan. Apalagi, perdamaian Teheran-Washington tetap rapuh.
Data perdagangan pada Sabtu (27/6/2026) mencatat, harga kontrak minyak mentah untuk pengiriman Agustus 2026 kini di kisaran 72 dolar AS per barel. Harga acuan Brent kini 72 dolar AS per barel, sementara Texas WTI di 69 dolar AS per barel.
Harga pada Jumat (26/6/2026) setara dengan acuan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu membuat minyak mentah naik melebihi 100 dolar AS per barel.
Lalu, sejak AS-Iran menyatakan menyepakati kesepahaman perdamaian sementara, harga minyak terus terpangkas. Dalam sebulan terakhir, harga Brent telah terpangkas 27 persen dan Texas WTI 25 persen.
Sementara Arab Saudi dilaporkan memulai lagi pemuatan minyak dari Ras Tanura, pelabuhan minyak terbesar di dunia. Tanker-tanker raksasa (VLCC) yang dikontrak Saudi Aramco terlihat di Ras Tanura. Paling tidak ada dua VLCC sedang proses memuat dan dua lain antre. Setiap VLCC berkapasitas setidaknya 2 juta barel.
Sebelum AS-Israel menyerang, rata-rata 5 juta barel minyak meninggalkan Ras Tanura setiap hari. Pengiriman terakhir Aramco dari sana tercatat pada 8 Maret 2026 dengan tujuan ke China.
Meski harga minyak mentah turun, harga bahan bakar minyak tetap tinggi. Presiden Canadian for Affordable Energy Dan McTeague mengingatkan bahwa kini pasar masih kekurangan hampir 2 juta miliar barel minyak mentah. Butuh beberapa waktu untuk memulihkan pasokan sebesar itu. Sampai pasokan itu stabil, harga BBM akan tetap tinggi.
Minyak mentah perlu diproses agar bisa menjadi BBM. Faktor utama pemrosesan adalah pasokan minyak mentah. Setelah itu, harga aneka komponen mulai dari zat campuran sampai asuransi pengiriman.
Pasokan minyak antara lain dipengaruhi arus pelayaran di Selat Hormuz. Beberapa waktu terakhir, selepas kesepakatan terbaru AS-Iran, arus pelayaran di Selat Hormuz terus meningkat. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat, 115 kapal dan 2.500 pelaut telah melewati Selat Hormuz untuk meninggalkan Teluk Persia.
Pada Kamis-Jumat saja tercatat 42 tanker melintasi selat itu melalui jalur yang disediakan Oman dan IMO. Pada waktu yang sama, 29 kapal kargo aneka komoditas lain melintasi Selat Hormuz.
Iran berulang kali menyatakan akan melarang kapal-kapal melintasi Selat Hormuz jika tak diizinkan Teheran. Pelanggar akan ditindak. Pada Kamis, Iran menembak kapal Evergreen, perusahaan pelayaran Taiwan, kala kapal itu berusaha melintas Selat Hormuz.
Penembakan itu membuat IMO menghentikan sementara kerja sama pemanduan untuk mengeluarkan kapal dari Teluk Persia. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan, IMO dan berbagai pihak berusaha membuka lagi jalur pelayaran itu. ”Kami siap memulai lagi proses ini,” seraya menekankan akan butuh waktu untuk melakukannya.
Ia mengatakan, IMO antara lain berkomunikasi dengan Teheran. IMO sedang mencari tahu alasan penyerangan terhadap kapal Taiwan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, rute yang dipakai Oman-IMO dilalui tanpa kesepakatan dengan Teheran. Oleh karena itu, IRGC akan terus memperingatkan bahwa izin dari Teheran diperlukan untuk melalui Selat Hormuz. ”Satu-satunya yang berwenang adalah yang disahkan Republik Islam Iran,” demikian pernyataan IRGC.
Ketua Komisi Keamanan pada parlemen Iran, Ebrahim Azizi, juga mengatakan bahwa Selat Hormuz diatur Teheran. ”Hormati gencatan senjata dan jangan salah paham,” ujarnya.
Ranjau laut
Sejak 1968, IMO mengadopsi skema pemisahan arus pelayaran di Selat Hormuz. Skema itu membagi selat tersebut menjadi alur yang dekat Oman dan Iran. Sayangnya, kini skema itu tak bisa sepenuhnya dipakai.
Dominguez menyebut, selain blokade AS-Iran, penerapan skema terkendala sebaran ranjau laut di Selat Hormuz dan sekitarnya. Kini tersisa setidaknya 500 kapal di Teluk Persia. ”Akan butuh beberapa pekan sebelum kami bisa mengevakuasi semuanya,” katanya.
Pelayaran yang masih terbatas di Selat Hormuz, menurut beberapa analis, jadi alasan harga bahan bakar tetap tinggi kala harga minyak mentah telah turun. ”Aliran kapal di Teluk masih terbatas. Setelah kapal-kapal bisa dikeluarkan (dari Teluk Persia), baru kita bisa menormalkan arus. Selain itu, serangan termutakhir ke kapal kembali melambatkan lalu lintas,” demikian catatan para analis di ING, perusahaan keuangan Belanda.
Catatan senada disampaikan perusahaan keuangan AS, BOK Financial. ”Meski Selat Hormuz kembali mengalirkan minyak, masih ada potensi ranjau dan ancaman serangan ke kapal-kapal,” kata Wakil Presiden Senior BOK Financial Dennis Kissler.
Media pelayaran tertua di dunia, Lloyd’s List, mencatat bahwa beberapa pihak bersorak pada lonjakan pelayaran di Selat Hormuz. Mereka menyebutnya sebagai tanda pemulihan.
”Sebenarnya tidak demikian. Kita menyaksikan peningkatan permintaan yang dipicu gencatan senjata. Seperti isi botol saus yang muncrat. Selat Hormuz mungkin lebih sibuk, tetapi tidak lebih aman. Sampai semua persyaratan terkait gencatan senjata dijalankan, gagasan pemulihan hanyalah harapan,” kata Pemimpin Redaksi Lloyd’s List Richard Meade.
Sebelum AS-Israel menyerang Iran, Selat Hormuz dilintasi rata-rata 130 kapal setiap hari. Sejak serangan, jumlah tertingginya hanya 70 kapal seperti tercatat pada Rabu pekan ini.
Semua itu memicu kekhawatiran pada kelancaran rantai pasok. Harga yang terpangkas pada minyak mentah adalah harga untuk pengiriman beberapa pekan mendatang. Aramco disebut akan memangkas harga pengiriman untuk Agustus 2026. Demikian pula perusahaan minyak di Irak dan Qatar serta Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Iran, setelah AS mencabut sanksi, juga akan memacu produksi dan penjualan minyaknya. Untuk saat ini, harga berlaku masih merupakan harga yang tinggi akibat bayang-bayang perang.
Kerentanan seperti diingatkan Meade dan analis lain terlihat dari pengumuman IRGC pada Sabtu dini hari. IRGC mengaku menyerang sejumlah fasilitas militer AS di kawasan. Alasannya, AS mengakui menyerang sejumlah lokasi di Iran.
Komando Tengah (Centcom) AS memang mengumumkan ada serangan ke sejumlah lokasi di Iran. Menurut AS, serangan itu menanggapi penembakan ke kapal di Selat Hormuz pada Kamis.
Centcom menyatakan, jet tempur AS menyerang stasiun radar dan lokasi peluncuran pesawat nirawak Iran. Sementara Teheran menyebutkan, ada serangan ke Sirik.
Azizi mengatakan, penembakan kapal pada Kamis bukan upaya meningkatkan ketegangan ataupun pelanggaran gencatan senjata. Penembakan itu bagian dari cara Iran menegaskan kendali atas selat.
(AP/AFP/Reuters)
NEW YORK, SABTU — Harga minyak mentah telah kembali ke aras seperti sebelum Amerika Serikat-Israel menyerang Iran. Meski demikian, harga bahan bakar tetap tinggi sampai beberapa waktu ke depan. Apalagi, perdamaian Teheran-Washington tetap rapuh.
Data perdagangan pada Sabtu (27/6/2026) mencatat, harga kontrak minyak mentah untuk pengiriman Agustus 2026 kini di kisaran 72 dolar AS per barel. Harga acuan Brent kini 72 dolar AS per barel, sementara Texas WTI di 69 dolar AS per barel.
Serial Artikel
Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat, Evakuasi Kapal Tertunda akibat Serangan ”Drone”
Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pada pekan ini mencapai level tertinggi sejak perang Iran. Namun, jalur perairan itu belum sepenuhnya aman.
Harga pada Jumat (26/6/2026) setara dengan acuan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu membuat minyak mentah naik melebihi 100 dolar AS per barel.
Lalu, sejak AS-Iran menyatakan menyepakati kesepahaman perdamaian sementara, harga minyak terus terpangkas. Dalam sebulan terakhir, harga Brent telah terpangkas 27 persen dan Texas WTI 25 persen.
Sementara Arab Saudi dilaporkan memulai lagi pemuatan minyak dari Ras Tanura, pelabuhan minyak terbesar di dunia. Tanker-tanker raksasa (VLCC) yang dikontrak Saudi Aramco terlihat di Ras Tanura. Paling tidak ada dua VLCC sedang proses memuat dan dua lain antre. Setiap VLCC berkapasitas setidaknya 2 juta barel.
Sebelum AS-Israel menyerang, rata-rata 5 juta barel minyak meninggalkan Ras Tanura setiap hari. Pengiriman terakhir Aramco dari sana tercatat pada 8 Maret 2026 dengan tujuan ke China.
Meski harga minyak mentah turun, harga bahan bakar minyak tetap tinggi. Presiden Canadian for Affordable Energy Dan McTeague mengingatkan bahwa kini pasar masih kekurangan hampir 2 juta miliar barel minyak mentah. Butuh beberapa waktu untuk memulihkan pasokan sebesar itu. Sampai pasokan itu stabil, harga BBM akan tetap tinggi.
Minyak mentah perlu diproses agar bisa menjadi BBM. Faktor utama pemrosesan adalah pasokan minyak mentah. Setelah itu, harga aneka komponen mulai dari zat campuran sampai asuransi pengiriman.
Pasokan minyak antara lain dipengaruhi arus pelayaran di Selat Hormuz. Beberapa waktu terakhir, selepas kesepakatan terbaru AS-Iran, arus pelayaran di Selat Hormuz terus meningkat. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat, 115 kapal dan 2.500 pelaut telah melewati Selat Hormuz untuk meninggalkan Teluk Persia.
Pada Kamis-Jumat saja tercatat 42 tanker melintasi selat itu melalui jalur yang disediakan Oman dan IMO. Pada waktu yang sama, 29 kapal kargo aneka komoditas lain melintasi Selat Hormuz.
Serial Artikel
Isu Israel Jadi Ujian bagi Kesatuan Uni Eropa
Setelah perang Gaza, isu Israel membuat Uni Eropa kian terpecah. Membangun kebijakan luar negeri Uni Eropa yang padu menjadi semakin sulit.
Iran berulang kali menyatakan akan melarang kapal-kapal melintasi Selat Hormuz jika tak diizinkan Teheran. Pelanggar akan ditindak. Pada Kamis, Iran menembak kapal Evergreen, perusahaan pelayaran Taiwan, kala kapal itu berusaha melintas Selat Hormuz.
Penembakan itu membuat IMO menghentikan sementara kerja sama pemanduan untuk mengeluarkan kapal dari Teluk Persia. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan, IMO dan berbagai pihak berusaha membuka lagi jalur pelayaran itu. ”Kami siap memulai lagi proses ini,” seraya menekankan akan butuh waktu untuk melakukannya.
Ia mengatakan, IMO antara lain berkomunikasi dengan Teheran. IMO sedang mencari tahu alasan penyerangan terhadap kapal Taiwan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, rute yang dipakai Oman-IMO dilalui tanpa kesepakatan dengan Teheran. Oleh karena itu, IRGC akan terus memperingatkan bahwa izin dari Teheran diperlukan untuk melalui Selat Hormuz. ”Satu-satunya yang berwenang adalah yang disahkan Republik Islam Iran,” demikian pernyataan IRGC.
Ketua Komisi Keamanan pada parlemen Iran, Ebrahim Azizi, juga mengatakan bahwa Selat Hormuz diatur Teheran. ”Hormati gencatan senjata dan jangan salah paham,” ujarnya.
Ranjau laut
Sejak 1968, IMO mengadopsi skema pemisahan arus pelayaran di Selat Hormuz. Skema itu membagi selat tersebut menjadi alur yang dekat Oman dan Iran. Sayangnya, kini skema itu tak bisa sepenuhnya dipakai.
Dominguez menyebut, selain blokade AS-Iran, penerapan skema terkendala sebaran ranjau laut di Selat Hormuz dan sekitarnya. Kini tersisa setidaknya 500 kapal di Teluk Persia. ”Akan butuh beberapa pekan sebelum kami bisa mengevakuasi semuanya,” katanya.
Pelayaran yang masih terbatas di Selat Hormuz, menurut beberapa analis, jadi alasan harga bahan bakar tetap tinggi kala harga minyak mentah telah turun. ”Aliran kapal di Teluk masih terbatas. Setelah kapal-kapal bisa dikeluarkan (dari Teluk Persia), baru kita bisa menormalkan arus. Selain itu, serangan termutakhir ke kapal kembali melambatkan lalu lintas,” demikian catatan para analis di ING, perusahaan keuangan Belanda.
Catatan senada disampaikan perusahaan keuangan AS, BOK Financial. ”Meski Selat Hormuz kembali mengalirkan minyak, masih ada potensi ranjau dan ancaman serangan ke kapal-kapal,” kata Wakil Presiden Senior BOK Financial Dennis Kissler.
Serial Artikel
AS Cabut Sanksi Minyak, Iran Setuju Pengawasan Nuklir
Washington dan Teheran mulai mengimplementasi poin-poin dalam kesepakatan damai sementara sambil menegosiasikan kesepakatan damai permanen.
Media pelayaran tertua di dunia, Lloyd’s List, mencatat bahwa beberapa pihak bersorak pada lonjakan pelayaran di Selat Hormuz. Mereka menyebutnya sebagai tanda pemulihan.
”Sebenarnya tidak demikian. Kita menyaksikan peningkatan permintaan yang dipicu gencatan senjata. Seperti isi botol saus yang muncrat. Selat Hormuz mungkin lebih sibuk, tetapi tidak lebih aman. Sampai semua persyaratan terkait gencatan senjata dijalankan, gagasan pemulihan hanyalah harapan,” kata Pemimpin Redaksi Lloyd’s List Richard Meade.
Sebelum AS-Israel menyerang Iran, Selat Hormuz dilintasi rata-rata 130 kapal setiap hari. Sejak serangan, jumlah tertingginya hanya 70 kapal seperti tercatat pada Rabu pekan ini.
Semua itu memicu kekhawatiran pada kelancaran rantai pasok. Harga yang terpangkas pada minyak mentah adalah harga untuk pengiriman beberapa pekan mendatang. Aramco disebut akan memangkas harga pengiriman untuk Agustus 2026. Demikian pula perusahaan minyak di Irak dan Qatar serta Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Iran, setelah AS mencabut sanksi, juga akan memacu produksi dan penjualan minyaknya. Untuk saat ini, harga berlaku masih merupakan harga yang tinggi akibat bayang-bayang perang.
Kerentanan seperti diingatkan Meade dan analis lain terlihat dari pengumuman IRGC pada Sabtu dini hari. IRGC mengaku menyerang sejumlah fasilitas militer AS di kawasan. Alasannya, AS mengakui menyerang sejumlah lokasi di Iran.
Komando Tengah (Centcom) AS memang mengumumkan ada serangan ke sejumlah lokasi di Iran. Menurut AS, serangan itu menanggapi penembakan ke kapal di Selat Hormuz pada Kamis.
Centcom menyatakan, jet tempur AS menyerang stasiun radar dan lokasi peluncuran pesawat nirawak Iran. Sementara Teheran menyebutkan, ada serangan ke Sirik.
Azizi mengatakan, penembakan kapal pada Kamis bukan upaya meningkatkan ketegangan ataupun pelanggaran gencatan senjata. Penembakan itu bagian dari cara Iran menegaskan kendali atas selat.