Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pada pekan ini mencapai level tertinggi sejak perang Iran. Namun, jalur perairan itu belum sepenuhnya aman.
26 Jun 2026 16:00 WIB · Internasional
AP/Amirhosein Khorgooi
TEHERAN, JUMAT – Setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan perdamaian, lalu lintas laut di Selat Hormuz berangsur lancar. Pengiriman minyak melalui perairan yang memisahkan Jazirah Arab dengan daratan utama Iran itu meningkat. Namun, evakuasi kapal-kapal yang terdampar ditunda karena insiden serangan drone.
Data perusahaan pelacak perdagangan global Kpler menyebutkan, empat kapal tanker yang membawa 6 juta barel minyak mentah berlayar melalui Selat Hormuz, Kamis (25/6/2026). Sementara dua kapal tanker lainnya yang mengangkut 4 juta barel minyak mentah Iran juga meninggalkan selat tersebut. Sehari sebelumnya, setidaknya 10,8 juta barel minyak mentah mengalir melalui perairan itu.
Mulai lancarnya lalu lintas di Selat Hormuz tidak terlepas dari kesepakatan damai AS-Iran yang tercapai pada pertengahan Juni lalu. Kedua negara menetapkan masa negosiasi selama 60 hari untuk mencapai perjanjian final. Salah satu poin kesepakatannya adalah membuka blokade Selat Hormuz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/20/e4f64e62-0ac7-4a04-a3c2-3cdcd7e7ca58.jpg)
”Perjanjian 60 hari telah mengurangi risiko langsung terhadap navigasi, tetapi belum menghilangkan ketidakpastian geopolitik yang lebih luas dari kawasan tersebut,” tulis analisis Kpler.
Pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz meningkat minggu ini ke level tertinggi sejak perang berkecamuk pada 28 Februari 2026. Selat tersebut menjadi salah satu titik krusial selama perang. Iran memblokade Selat Hormuz sehingga menghambat pengiriman minyak dari negara-negara Teluk. Sementara AS memblokade kapal dan pelabuhan Iran.
Imbasnya, harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel. Padahal, harga minyak sebelum perang di Iran masih 73 dolar AS per barel. Sejak gencatan senjata yang diikuti dengan kesepakatan damai AS-Iran, harga minyak berangsur turun sehingga saat ini menjadi sekitar 75 dolar AS per barel.
Kekhawatiran tentang berapa lama Selat Hormuz akan tetap terbuka juga meningkatkan perdagangan dan distribusi minyak. Permintaan minyak dari Teluk meningkat, terutama dari kawasan Asia setelah mengalami gangguan selama berbulan-bulan. Kondisi ini memicu menipisnya cadangan energi di banyak negara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/13/cb422e93-78bc-4f8e-801b-66e76db229a3.jpg)
Saat ini, sulit untuk mengetahui volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz secara keseluruhan. Sebab, sejumlah kapal yang melintas mungkin tidak terdeteksi karena gangguan pada sinyal AIS (Automatic Identification System), teknologi pelacakan otomatis yang digunakan di dunia maritim.
”Pemulihan ini (lalu lintas kapal di Selat Hormuz) mencerminkan kemampuan adaptasi sistem ekspor Timur Tengah daripada kembalinya perdagangan seperti sebelum konflik,” demikian laporan Kpler.
Dalam Reuters Global Energy Forum di New York, Rabu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, sekitar 20 juta barel minyak mentah telah keluar dari Selat Hormuz pada hari itu. Jumlah tersebut sekitar seperlima dari konsumsi minyak dunia.
Pemulihan ini (lalu lintas kapal di Selat Hormuz) mencerminkan kemampuan adaptasi sistem ekspor Timur Tengah daripada kembalinya perdagangan seperti sebelum konflik.
Meski lalu lintas di perairan itu meningkat, kapal-kapal menghindari area tengah selat. Menurut analisis pergerakan kapal, banyak kapal memilih untuk berlayar di sisi perairan Oman dibandingkan dengan perairan Iran.
Terdapat skema pemisahan lalu lintas di Selat Hormuz yang diadopsi oleh badan pelayaran PBB, Organisasi Maritim Internasional (IMO) pada 1968. Skema ini menetapkan rute melalui perairan Iran dan Oman di Selat Hormuz. Untuk saat ini, bagian tengah cenderung dihindari karena adanya risiko ranjau laut.
Selama perang Iran berkecamuk, banyak kapal terdampar karena tidak bisa melewati Selat Hormuz. Kondisi ini menyebabkan ribuan awak kapal dari banyak negara tidak bisa pulang. Setelah kesepakatan damai AS-Iran tercapai, kapal-kapal pun mulai dievakuasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/6e6e01b5e780fa95415865454f1caecd-24022026_ANU_AFP_Selat_Hormuz_mumed.jpg)
Akan tetapi, evakuasi kapal terpaksa ditunda karena adanya serangan drone terhadap kapal niaga yang melewati Selat Hormuz di sisi yang dekat dengan pantai Oman. Dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran telah menembak kapal kargo tersebut. Belum ada laporan korban dalam insiden ini.
”Untuk memastikan pendekatan yang terkoordinasi dan keselamatan navigasi, rencana evakuasi akan dihentikan sementara sampai diperoleh kejelasan lebih lanjut,” ujar Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez.
Perusahaan pelayaran Evergreen Marine Taiwan melaporkan kapalnya terkena benda tak dikenal di dekat pantai Oman, Kamis. Kapal itu berlayar di rute yang direkomendasikan oleh Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).
Dalam kunjungannya ke Teluk, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berupaya meyakinkan sekutu AS di kawasan terkait rute baru bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. ”Jika (rute) itu berhenti, kita akan menghadapi masalah,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/a6fa19d208116c585702a513556b70b1-wires_photo_66_.jpg)
Sebelum insiden, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memperingatkan, jalur aman pelayaran hanya memungkinkan melalui rute yang ditentukan oleh Iran. Iran akan mengambil tindakan terhadap kapal-kapal yang gagal mematuhi aturan tersebut.
Media Iran, Tasnim, melaporkan, beberapa otoritas mengumumkan jalur baru untuk lalu lintas kapal di Selat Hormuz tanpa memberi tahu atau berkoordinasi dengan Iran. IRGC menganggap langkah itu tidak dapat diterima dan sangat berbahaya.
”Kami memberi tahu semua pihak bahwa satu-satunya jalur resmi untuk melintasi Selat Hormuz adalah jalur yang diumumkan oleh Iran. Lalu lintas kapal di luar jalur ini sangat berbahaya dan dilarang. Kami memperingatkan agar tidak ada pergerakan di luar koridor yang telah diumumkan,” tulis pernyataan IRGC. (REUTERS/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase