TRANSISI ENERGI

Harga Minyak Melesat, Kendaraan Listrik Jadi Juru Selamat?

Lonjakan harga minyak mentah dan ancaman kenaikan BBM ritel menjadi katalisator mempercepat adopsi massal kendaraan listrik di Indonesia demi efisiensi ekonomi.

11 Mar 2026 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Oleh Aris Prasetyo

Fluktuasi harga minyak mentah yang terus merangkak naik di pasar internasional memicu kekhawatiran serius bagi negara-negara pengimpor minyak, tidak terkecuali Indonesia. Kenaikan harga komoditas energi cair ini secara langsung mengancam stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara melalui potensi pembengkakan subsidi energi pemerintah. Pada gilirannya, kondisi defisit ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak ritel di dalam negeri yang dapat memukul daya beli masyarakat. Bisakah kendaraan listrik jadi penyelamat?

Krisis akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah pada Senin (9/3/2026) tembus ke level 109 dolar AS per barel. Krisis dikhawatirkan mengganggu pasokan minyak mentah ke berbagai belahan dunia dan  berpotensi menaikkan harga jual ritel BBM, termasuk di Indonesia. Satu hal yang pasti, kenaikan harga minyak mentah menyebabkan pos subsidi untuk Pertalite dan Biosolar bisa membengkak.

Di tengah bayang-bayang krisis dan tekanan ekonomi tersebut, momentum transisi energi justru menemukan titik akselerasi yang krusial. Penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kini tidak bisa lagi dipandang hanya sekadar tren gaya hidup ramah lingkungan kelas menengah atas. Secara perlahan, hal ini bermutasi menjadi sebuah keniscayaan strategis bagi negara sekaligus perisai pelindung ekonomi masyarakat harian.

Suasana pameran dagang industri otomotif 'Indonesia International Auto Parts, Accessories and Equipment Exhibition' (INAPA) 2025 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (21/5/2025). Pameran yang akan berlangsung hingga Jumat (23/5/2025) ini diikuti sekitar 1.500 perusahaan dari 40 negara. Pameran ini juga mencakup sektor kendaraan listrik, komponen kendaraan, logistik, alat berat, serta teknologi penunjang transportasi dan pertambangan.

Momentum peralihan menuju kendaraan listrik di Indonesia saat ini berada pada fase pertumbuhan yang menggembirakan. Berdasarkan tren historis yang dicatat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), transaksi di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) tumbuh secara eksponensial. Dari awal mula yang hanya mencatatkan angka 19.647 kilowatt jam (KWh) pada tahun 2020, meroket hingga menembus 48.568.297 KWh pada 2025. Pertumbuhan tahunan SPKLU ini konsisten berada di atas 250 persen dengan rekor lonjakan hingga 528,16 persen yang terjadi pada 2022.

Fenomena serupa, dengan skala volume konsumsi yang jauh lebih masif, terjadi pada layanan pengisian daya di rumah (home charging services). Konsumen di Indonesia menunjukkan karakter kuat bahwa mereka mengandalkan pengisian di garasi rumah untuk kebutuhan harian. 

Data mencatat bahwa dari 15.199.264 KWh di tahun 2021, angka konsumsi melesat ke level 137.152.732 KWh pada 2025. Ini mengartikan ada pertumbuhan sebesar 141,31 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Bahkan, pada pencatatan tahun berjalan hingga Januari 2026, angkanya melesat ke 9.093.922 KWh dalam waktu satu bulan. Rentetan data kuantitatif ini merupakan manifestasi nyata bahwa infrastruktur dasar di tingkat rumah tangga dan penerimaan masyarakat pada kendaraan listrik telah mengakar dengan solid.

Infografik riset Tren Penjualan Mobil Listrik di Indonesia 2020-2025.

Di tengah ancaman kenaikan harga BBM ritel, baik subsidi maupun non-subsidi, manfaat dan keuntungan menggunakan kendaraan listrik menjadi sangat nyata. Dari sisi makroekonomi, peralihan secara masif ke EV membantu negara mengurangi ketergantungan yang akut pada impor minyak mentah yang harganya terus bergejolak akibat geopolitik. Dengan menekan angka impor minyak dan BBM, Indonesia tidak hanya mampu menyelamatkan cadangan devisa, tetapi juga dapat mengalokasikan ulang dana subsidi yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah per tahun ke sektor-sektor yang jauh lebih produktif untuk pembangunan.

Dari kacamata perekonomian mikro atau keuangan keluarga, kelebihan kendaraan listrik sangat terasa pada efisiensi biaya operasional sehari-hari. Biaya listrik untuk mengisi daya baterai—dengan asumsi 1,5 KWh setara dengan 1 liter bensin—jauh lebih ekonomis dibandingkan membeli bensin. Sebagai ilustrasi, biaya mobilitas harian menggunakan mobil listrik rata-rata bisa dipangkas hingga 70 persen dibandingkan mobil berbahan bakar minyak.

Jika pada suatu titik nanti pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM subsidi dan harga BBM non-subsidi dinaikkan oleh badan usaha, selisih efisiensi yang dinikmati pengguna EV akan semakin melebar. Penghematan uang transportasi ini tentu sangat berarti bagi ketahanan kas keluarga, yang secara tidak langsung dapat meringankan beban rumah tangga dalam merencanakan pemenuhan kebutuhan pokok yang harganya juga rentan naik. 

Lebih jauh, tren elektrifikasi ini bersinergi dengan sangat sempurna dengan arah kebijakan industri nasional. Sebagai negara yang diberkahi cadangan mineral yang melimpah, Indonesia sedang mentransformasi sektor pertambangan nikelnya untuk menjadi tulang punggung produksi baterai kendaraan global.

Siswa SMK Negeri 2 Palembang, Sumatera Selatan, menunjukkan tahapan proses konversi sepeda motor BBM menjadi motor listrik dan cara perawatannya di Bengkel Konversi Motor Listrik SMK 2 alias Skandupa Electric, Senin (24/11/2025). Bukan hanya jadi bekal untuk lulus SMK, bengkel konversi motor listrik pertama di Sumsel itu diharapkan membantu perluasan akses gaya hidup elektrifikasi di Indonesia.

Tantangan lapangan

Momentum tingginya serapan komoditas nikel di dalam negeri akan memicu industrialisasi dari hulu ke hilir. Tidak hanya berfokus pada mobil penumpang, tren elektrifikasi lambat laun akan mulai merambah segmen alat berat di area pertambangan dan kendaraan niaga besar, yang menuntut ekosistem baru.

Kendati berada di jalur yang cepat, transisi ini tetap menyimpan tantangan terjal yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tantangan pertama penggunaan kendaraan listrik di Indonesia adalah pemerataan infrastruktur pengisian daya untuk publik. Meski jumlah transaksi SPKLU tumbuh luar biasa, yang jumlahnya saat ini hampir 5.000 unit, sebaran lokasinya masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar Pulau Jawa, area perkantoran elite, dan rest area jalan tol. Jangkauan fasilitas ini harus segera diekspansi untuk menghapus kecemasan jarak tempuh bagi konsumen di daerah.

Tantangan kedua berada pada sumber hulu energi kelistrikan nasional. Bauran energi kita saat ini masih disokong kuat oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang mengonsumsi batubara secara masif setiap harinya. Jika jutaan kendaraan baru ditenagai oleh listrik hasil pembakaran fosil, secara makro kita belum menyelesaikan masalah emisi, tetapi sekadar memindahkan titik polusinya. Percepatan pembangunan energi terbarukan—seperti megaproyek ladang panel surya yang membutuhkan ketersediaan lahan hingga ribuan hektar—menjadi syarat mutlak agar kendaraan listrik benar-benar berstatus ”hijau”.

Tantangan ketiga adalah rintangan harga beli kendaraan listrik. Dibandingkan mobil berbahan bakar minyak di kelas yang setara, harga EV masih memiliki selisih yang cukup menguras kantong masyarakat kelas menengah yang menjadi motor utama daya beli otomotif nasional.

Aktivitas pabrik manufaktur Hyundai di kawasan industri GICC, Desa Sukamukti, Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (30/7/2022). Selain memproduksi mobil berbahan bakar bensin, yakni Hyundai Creta pada awal 2022, pabrik tersebut kini juga memproduksi mobil listrik, Ioniq 5. Mobil listrik pertama yang dibuat di Indonesia diproduksi di pabrik asal Korea Selatan tersebut. Hyundai tertarik berinvestasi dan mengembangkan ekosistem mobil listrik di ASEAN mengingat sektor otomotif di kawasan ini diperkirakan akan tumbuh hingga 64 persen pada 2030. Pemerintah terus berupaya mendorong berkembangnya ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau KBLBB di Indonesia. Kendaraan ramah lingkungan ini kian mendapat sejumlah prioritas dan kemudahan. Namun kini, kondisi pasar otomotif di Indonesia tengah terpukul. Yakni adanya kenaikan harga minyak dan bahan baku, seperti besi baja serta persoalan paling utama adalah pasokan semikonduktor yang tidak dapat memenuhi kebutuhan produksi otomotif. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 30-7-2022

Terakhir, ancaman teknis yang mengintai perusahaan utilitas seperti PLN adalah masalah manajemen beban jaringan listrik. Lonjakan pengisian daya di rumah yang mencapai lebih dari ratusan juta KWh menuntut sistem distribusi yang sangat tangguh. Pada tahun-tahun mendatang, infrastruktur listrik konvensional harus segera di-upgrade menggunakan sistem smart grid yang memadukan teknologi akal imitasi (AI) untuk mengelola distribusi beban listrik harian secara otomatis sehingga mencegah terjadinya pemadaman akibat lonjakan permintaan daya serentak di malam hari.

Krisis lonjakan harga minyak mentah dunia harus dikelola dan dilihat sebagai momentum emas yang akan memaksa sekaligus mempercepat laju perpindahan kita ke ekosistem transportasi listrik. Data empiris terkait adopsi SPKLU yang meroket tajam menjadi bukti valid akan kesiapan masyarakat. 

Selama Indonesia mampu mengurai tantangan teknis, menurunkan harga unit EV, dan memastikan sumber listriknya semakin bersih, kendaraan listrik dipastikan menjadi motor penggerak transformasi yang membawa perekonomian menuju keandalan dan kemandirian yang lebih kuat. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Aris Prasetyo
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan