Kenaikan harga minyak ini akan menaikkan biaya hidup, dan kemungkinan suku bunga, di seluruh dunia.
09 Mar 2026 08:39 WIB · Internasional
AP/Edgar Frias
BANGKOK, SENIN — Harga minyak telah melampaui 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, Senin (9/3/2026), akibat perang di Iran. Bursa saham di Asia juga berjatuhan dalam sesi pembukaan pada Senin pagi.
Harga minyak Brent melonjak 17 persen menjadi 108,73 dolar AS per barel. Harga itu sebelumnya sudah melonjak 28 persen pada pekan lalu.
Harga minyak mentah AS juga naik 19 persen menjadi 108,33 dolar AS per barel. West Texas Intermediate yang diproduksi di AS dijual 107,06 dolar AS per barel. Harga itu lebih tinggi dari harga penutupan pada Jumat sebesar 90,9 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini akan menaikkan biaya hidup, dan kemungkinan suku bunga, di seluruh dunia. Tanpa tanda-tanda berakhirnya serangan AS-Israel ke Iran dan serangan balasan Iran, investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang lebih tinggi.
Kapal-kapal tanker pun belum berani melintasi Selat Hormuz yang ditutup Iran. ”Perekonomian global tetap bergantung pada aliran minyak dan gas alam Timur Tengah yang terkonsentrasi melalui Selat Hormuz,” kata Bruce Kasman, kepala ekonom di JP Morgan.
Ia menambahkan, skenario jangka pendek adalah lonjakan harga minyak mentah Brent bisa menuju 120 dolar AS per barel, diikuti penurunan harga seiring meredanya konflik. ”Namun, tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak mentah Brent diperkirakan akan stabil 80 dolar AS per barel hingga pertengahan tahun,” ujar Kasman.
Kasman memperingatkan, konflik yang lebih luas dan terus berlanjut dapat mendorong harga minyak di atas 120 dolar AS per barel. Ini berisiko menyebabkan resesi global.
Hal ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6 persen per tahun untuk paruh pertama tahun ini. Harga konsumen global juga bakal naik 1 persen per tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/09/d5c9a942b1f895fbb0952229dd8427ba-wires_photo_52_.jpg)
Sementara kontrak berjangka saham jatuh tajam di Asia pada Senin karena denyut inflasi akibat kenaikan harga minyak. Indeks acuan Nikkei Jepang anjlok lebih dari 6 persen ke 52.166 tak lama setelah perdagangan dimulai. Angka ini turun drastis dari penutupan pada Jumat di angka 55.620.
Indeks Kospi Korea Selatan merosot 6,3 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,6 persen menjadi 25.343,77. Indeks China CSI300 jatuh 2 persen, level terendah sejak Desember 2025.
Sementara indesk Shanghai Composite turun 0,7 persen menjadi 4.097,69. Indeks acuan Taiwan anjlok 4,4 persen. Pasar regional lainnya juga mengalami penurunan.
Saham di Australia dan Selandia Baru turun lebih dari 3 persen. Sebelumnya, Wall Street memimpin penurunan di awal perdagangan karena indeks S&P turun 1,6 persen, Dow Jones turun 1,8 persen, sementara Nasdaq merosot 1,7 persen. (AP/REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti