DAMPAK PERANG

Harga Minyak Melonjak Tajam, Trump: ”Harga Kecil” yang Harus Dibayar

Perang Iran kembali memicu lonjakan harga minyak. Hal ini akan diikuti dengan kenaikan biaya hidup. Belum jelas kapan perang akan berakhir.

09 Mar 2026 13:00 WIB · Internasional

AFP/Fadel SENNA

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON DC, SENIN — Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kembali memicu lonjakan harga minyak. Untuk pertama kalinya sejak Juni 2022, harga minyak dunia tembus di atas 100 dolar AS per barel, Senin (9/3/2026). Presiden AS Donald Trump memandang lonjakan harga minyak itu sebagai ”harga kecil” yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran.

”(Kenaikan) Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil yang harus dibayar untuk AS dan dunia, keamanan, dan perdamaian. Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda,” tulis Trump di Truth Social.

Harga minyak Brent naik 17 persen menjadi 108,73 dolar AS per barel. Padahal, harga minyak itu sudah melonjak 28 persen pada minggu lalu. Sementara harga minyak mentah AS naik 19 persen menjadi 108,33 dolar AS per barel.

The price per litre of unleaded petrol and diesel fuels are pictured outside a Shell petrol station, in London, on March 5, 2026. The conflict between the United States and Iran that began on February 28, 2026, has effectively closed shipping through the Strait of Hormuz. A fifth of the world's seaborne crude oil travels through the waterway as well as considerable volumes of liquefied natural gas (LNG). (Photo by Brook Mitchell / AFP)

Lonjakan harga minyak membuat harga bensin reguler di AS naik menjadi 3,45 dolar AS per galon atau 47 sen lebih tinggi dari pekan sebelumnya. Sementara solar dijual 4,6 dolar AS per galon atau naik 83 sen.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, kenaikan harga minyak akan berlangsung singkat. Menurut dia, kondisi ini kemungkinan hanya berlangsung beberapa minggu.

”Harga (minyak) seharusnya tidak akan jauh lebih tinggi dari sekarang karena dunia memiliki pasokan minyak yang sangat baik. Tidak ada kekurangan energi di seluruh belahan bumi bagian barat,” ucapnya.

Wright menyampaikan sedang berkomunikasi dengan perusahaan pelayaran yang ingin mengeluarkan kapalnya dari Teluk. Hal itu diharapkan dapat meredam kekhawatiran karena pasokan minyak yang terganggu akibat perang.

infografik
AFP
Perang Timur Tengah: Hanya Sedikit Kapal yang Masih Melintasi Selat Hormuz

”Kapal tanker awalnya mungkin akan memerlukan perlindungan langsung dari militer AS untuk melewati Selat Hormuz. Lalu lintas (pengiriman minyak) akan segera kembali normal,” katanya.

Perang Iran telah menghambat produksi dan pengiriman minyak global. Distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu karena ancaman serangan rudal dan drone Iran. Padahal, sekitar 20 persen minyak dunia dikirim melalui jalur itu setiap hari.

Langkah ini diambil Iran menyusul serangan gabungan AS dan Israel ke negara itu sejak 28 Februari 2026. Serangan tersebut menewaskan ratusan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Putra kedua Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, kemudian dipilih untuk menggantikan ayahnya.

Selat Hormuz merupakan perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Pengiriman minyak dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, sangat bergantung pada kapal tanker yang melalui selat tersebut.

Quote

Konflik yang lebih luas dan berkelanjutan dapat berisiko menyebabkan resesi global. Kondisi ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6 persen per tahun.

Mengurangi produksi

Irak, UEA, dan Kuwait telah mengurangi produksi minyak karena tangki penyimpanan penuh akibat berkurangnya kemampuan untuk mengekspor minyak mentah. Otoritas Iran menyebutkan, Israel menyerang depot minyak di Teheran yang menewaskan empat orang, Minggu (8/3/2026). Israel menuding depot itu dipakai militer Iran untuk bahan bakar peluncuran rudal.

Di sisi lain, serangan Iran juga berdampak terhadap fasilitas minyak di Teluk. Hal ini membuat sejumlah negara menghentikan sementara produksinya untuk mencegah dampak yang lebih besar karena perang masih berkecamuk.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf memperingatkan, dampak perang terhadap industri minyak akan meningkat drastis. Iran mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari yang sebagian besar dibeli oleh China.

Ilustrasi Expor minyak iran ke China.

Selain minyak, harga gas alam juga naik selama perang yang telah berlangsung selama 10 hari tersebut. Harganya naik 3,33 dolar AS per 1.000 kaki kubik atau meningkat 4,6 persen.

Kepala ekonom di JP Morgan, Bruce Kasman, mengatakan, ekonomi global tetap bergantung pada aliran minyak dan gas alam Timur Tengah yang terkonsentrasi melalui Selat Hormuz. ”Skenario jangka pendek adalah lonjakan harga hingga 120 dolar AS per barel diikuti oleh penurunan seiring meredanya konflik,” ucapnya.

Kasman memperingatkan, konflik yang lebih luas dan berkelanjutan dapat berisiko menyebabkan resesi global. Kondisi ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6 persen per tahun untuk paruh pertama tahun ini dan menaikkan harga konsumen sebesar 1 persen per tahun.

Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham AS, yang merupakan indikator utama pasar, juga merosot. Kontrak berjangka S&P 500 turun 1,6 persen, Dow Jones turun 1,8 persen, dan Nasdaq Composite turun 1,5 persen.

NEW YORK, NEW YORK - MARCH 02: Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) on March 02, 2026 in New York City. Markets were down sharply across the world following the weekend U.S. and Israeli attacks on Iran, with oil prices rising and the Dow falling over 500 points after the opening bell.   Spencer Platt/Getty Images/AFP (Photo by SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Penurunan indeks saham juga terjadi di Asia. Indeks acuan Nikkei Jepang anjlok lebih dari 6 persen ke 52.166. Angka ini turun drastis dari penutupan pada Jumat di angka 55.620. Indeks Kospi Korea Selatan merosot 6,3 persen.

Empat hari kerja di Filipina

Perang Iran berdampak luas sehingga memaksa sejumlah negara untuk berhemat. Kenaikan harga minyak akan membuat biaya hidup meningkat karena harga sejumlah kebutuhan dasar melambung.

Pemerintah Filipina menetapkan empat hari kerja dalam seminggu demi penghematan itu. Kebijakan ini dimulai dari kantor-kantor pemerintah. Filipina mengimpor sebagian besar minyak mentahnya dari Timur Tengah dan masih bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar minyak.

”Filipina yang miskin minyak akan beralih ke kerja empat hari dalam seminggu karena harga bahan bakar diperkirakan akan melonjak di tengah perang Iran,” kata Presiden Filipina Ferdinand Marcos.

Sebuah kapal kargo terlihat di lepas pantai kota Fujairah, di Selat Hormuz di utara Uni Emirat Arab, pada 25 Februari 2026.

Marcos menyebutkan, penutupan Selat Hormuz, yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia, akan meningkatkan harga bahan bakar. Peningkatan harga berkisar 13 sen dolar AS-55 sen dolar AS per liter, baik untuk bensin, solar, maupun minyak tanah.

”Kita adalah korban perang yang bukan pilihan kita. Namun, kita mengendalikan bagaimana kita akan melindungi rakyat Filipina,” ujarnya.

Marcos menambahkan, kebijakan empat hari kerja dalam sepekan itu hanya bersifat sementara. Ia juga meminta semua instansi pemerintah mengurangi konsumsi bahan bakar dan listrik sebesar 10-20 persen. (REUTERS/AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti