Trump ancam serang Iran di tengah kritik negara-negara Barat. Ia mengatakan tidak berminat berdialog dengan Iran.
18 Jun 2025 09:01 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, RABU — Lantaran tidak menunjukkan adanya peredaan perang antara Israel dan Iran, harga minyak dunia kembali merangkak naik. Diperkirakan imbasnya akan memengaruhi harga aneka barang lain. Situasi makin panas karena Amerika Serikat mengancam Iran agar segera menyerah. Tekanan itu dikritik negara-negara Barat.
Per Rabu (18/6/2025) pagi, harga minyak mentah AS naik 4,28 persen menjadi 74,84 dollar AS per barel. Harga minyak acuan dunia, Brent, naik 4,4 persen menjadi 76,45 dollar AS. Hal ini membuat secara total, harga Brent di Juni 2025 sudah naik 16 persen.
Harga minyak dunia diperkirakan stagnan tinggi dan menambah inflasi. Di AS, sejak Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6/2025), harga barang sudah naik 10 persen.
”Ini bukan konflik yang langsung selesai. Pengamat ekonomi menduga ini akan berlarut-larut seperti perang antara Ukraina dan Rusia,” kata Phil Flynn, pakar dari Price Futures Group.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/05/04/FILES-US-IRAN-SANCTIONS-OIL-DIPLOMACY_67213469_1588526390_jpg.jpg)
Sementara itu, Amos Hochstein, pakar energi, menjelaskan alasan harga akan stagnan tinggi. Dunia sudah memiliki banyak cadangan minyak mentah. Situasi ini berlaku sejak konflik antara Rusia dan Ukraina pecah pada 2022 dan dilanjutkan dengan konflik Hamas-Israel di Jalur Gaza pada 2023.
Kartel negara-negara penghasil minyak, OPEC, juga meningkatkan produksi. ”Setidaknya, di AS, perkiraannya tidak ada lonjakan harga setelah ini,” kata Hochstein kepada CNBC.
Firma kajian keuangan, Barclays, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak berisiko melemahkan mata uang di negara-negara Asia. Baht Thailand, won Korea Selatan, dan dollar Taiwan merupakan yang paling terdampak.
Pelemahan nilai tukar mata uang ini berdampak ke perkiraan pelambatan pembangunan di negara-negara Asia. Bank sentral Taiwan segera mengintervensi untuk menyeimbangkan suku bunga agar perekonomian di wilayah tersebut tidak tersendat.
Terdapat pula kekhawatiran akan ditutupnya Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Perairan ini tempat 20 persen minyak dan gas dunia lewat. Selat Hormuz dikelola Iran dan merupakan salah satu devisa utama bagi negara tersebut.
Dunia sempat kaget akibat kejadian tabrakan dua kapal tangker di Selat Hormuz pada Selasa (17/6/2025) malam. Kedua kapal itu terbakar, tetapi kapal dan isinya berhasil diselamatkan. Bloomberg memverifikasi bahwa kejadian itu murni kecelakaan akibat kesalahan navigasi, bukan karena konflik Iran-Israel.
Situasi di Timur Tengah semakin memanas gara-gara ancaman dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengatakan tidak menginginkan gencatan senjata antara Iran dan Israel. Ia menginginkan solusi permanen. Trump mengutarakannya di serangkaian cuitan di Truth Social.
”Saya sudah bilang berkali-kali, Iran tidak boleh mempunyai senjata nuklir. Semuanya harus segera mengungsi dari Teheran!” cuitnya.
”Kami tahu di mana Ayatollah tinggal. Kami tidak akan menghabisinya, tetapi kesabaran kami menipis. Ayo, menyerah!” cuit Trump lagi.
Dalam pesawat kenegaraan AS, Air Force One, Trump mengatakan bahwa ia tidak berminat berunding dengan Iran. ”Saya tidak mau gencatan senjata. Saya maunya konflik selesai. Titik,” katanya.
Padahal, pada Senin pagi, sikap Trump lebih tenang. Ia mengatakan sudah menerima kabar positif dari berbagai negara yang mewakili Iran untuk berdialog. Sikapnya berubah sejak tergesa-gesa meninggalkan konferensi tingkat tinggi tujuh negara terkaya (G7) di Kanada, Senin petang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/18/24606c24-e1ae-4588-ab17-f4f6599dfaf4_jpg.jpg)
Trump juga bertengkar dengan Direktur Badan Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard. Gabbard mengatakan belum ada bukti konkret Iran sedang membuat senjata nuklir.
Masyarakat AS tidak bersemangat dengan prospek AS terlibat konflik Iran-Israel. Sejumlah kapal perang AS berada di perairan sekitar Iran. Akan tetapi, posisi mereka untuk mempertahankan Israel, bukan menyerang Iran.
Keputusan apakah AS akan terlibat perang ada di tangan Kongres. Namun, Senator Partai Republik Ted Cruz mengatakan, Trump sebagai presiden AS berhak mengebom Fordow, fasilitas yang diduga sebagai tempat pembuatan senjata nuklir di pedalaman Qom, Iran.
”Landasannya ialah konstitusi karena presiden wajib melindungi keamanan bangsa dan keselamatan tentara di lapangan. Aksi satu pengeboman spesifik ke fasilitas non-sipil tidak perlu izin Kongres,” katanya, dikutip The Independent.
Namun, presiden tidak berhak menetapkan jika AS akan ikut perang. Cruz menjelaskan, perang adalah situasi konflik berkepanjangan. Ada satu atau sejumlah negara yang untuk waktu lama dicap sebagai musuh AS. Ini semua harus dirapatkan dan disetujui oleh Kongres.
Para pemimpin G7, kecuali AS, masih melangsungkan KTT di Kanada. Hanya Kanselir Jerman Friedrich Merz yang mendukung keinginan Trump menyerang Iran dengan dalih rezim Iran sudah lama meneror dunia. Para pemimpin lain G7 justru menyuarakan kritik.
”Satu-satunya yang bisa mengganti pemimpin atau rezim suatu negara itu rakyatnya. Mereka yang harus memilih karena rakyat penguasa sejati,” kata Presiden Perancis Emmanuel Macron, dikutip oleh Washington Post.
Ia menuturkan, sejarah berulang kali membuktikan segala intervensi militer untuk mengganti pemerintahan suatu negara selalu gagal. Pergantian rezim melalui militer sendiri bagi Macron adalah kesalahan strategis.
Diplomat Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan, berdasarkan rapat para menteri luar negeri UE, semua setuju bahwa langkah yang harus diambil adalah meredakan konflik. Caranya dengan diplomasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/14/b7aa493a2e1762b27f167b4faafdf04f-AP25164750966488.jpg)
Kallas menekankan tidak ada yang mau konflik melebar dan memakan lebih banyak korban jiwa, materi, ataupun pembangunan global. Keterlibatan AS hanya membuat kawasan Timur Tengah kian bermasalah.
Menlu AS Marco Rubio berusaha menetralkan suasana. ”Kami menekankan, AS tidak berminat terlibat lebih jauh di konflik ini,” ujarnya.
Ucapan Rubio itu menuai kritik karena Trump jelas-jelas membuat suasana semakin panas. Apabila Trump hanya ingin terlibat sejauh mengebom Fodow, dampaknya tetap saja akan memperparah konflik.
Menlu Mesir Badr Abdelatty menelepon Menlu Iran Abbas Araghci dan Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff. Mesir meminta pengupayaan peredaan ketegangan segera.
Juru Bicara Kemlu Qatar Majed Al-Ansari mengatakan, Doha juga mengontak kedua negara berkonflik dan meminta semua pihak menahan diri. Qatar bersedia menengahi penyelesaian konflik demi kebaikan semua orang di Timur Tengah.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengatakan, Iran berstatus membela diri. Israel yang tanpa provokasi apa pun menyerang Iran pada Jumat lalu. Padahal, Iran tengah bersiap melakukan perundingan nuklir putaran keenam dengan AS di Oman.
”Selama Israel menyerang, Iran akan mempertahankan diri dan membalas secara proporsional,” katanya di Jakarta, Selasa (17/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/17/4694894d-219d-4ae6-b5b6-e04b174d8223_jpg.jpg)
Di Israel, pemerintah menerapkan sensor ketat. Semua wartawan, termasuk wartawan asing, tidak boleh menerbitkan foto dan video dampak serangan Iran. Larangan dikeluarkan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir.
Ben Gvir bersama Menteri Keuangan Bezalel Smotrich adalah politikus ekstrem kanan yang anti-Palestina. Mereka ingin sepenuhnya menduduki Palestina dan menegakkan supremasi Israel di Timur Tengah.
Partai politik keduanya merupakan koalisi penting dalam pemenangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Tanpa pemenuhan keinginan ekstrem kanan mereka, kekuasaan Netanyahu bisa ambruk.
”Segala hal yang merayakan serangan Iran dilarang beredar,” katanya kepada Times of Israel.
Selain itu, menampilkan daerah-daerah terdampak membahayakan keselamatan negara. Menurut dia, musuh akan bisa melancarkan serangan lanjutan presisi. (REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari