PERANG TIMUR TENGAH

Harga Pangan dan Pupuk Dunia Kian ”Pedas”

Dalam sebulan, harga gandum dan beras dunia masing-masing naik sebesar 0,8 persen dan 1,9 persen akibat perang di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap El Nino.

09 Mei 2026 11:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/Totok Wijayanto

Oleh Hendriyo Widi

Perang di Timur Tengah telah bergulir selama dua bulan lebih. Perang tersebut membuat harga pupuk dan pangan, termasuk beras dan gandum, kian ”pedas”. Bahkan, Indeks Harga Pupuk tumbuh lebih tinggi ketimbang Indeks Harga Energi. Harga beras dunia juga naik didorong kenaikan biaya produksi.

Perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran meletus pada 28 Februari 2026. Konflik itu memicu penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan maritim sejumlah komoditas global, termasuk migas dan pupuk.

Saat ini, hanya segelintir kapal berbendera tertentu yang diizinkan melewati selat di kawasan Teluk Persia itu. Padahal, sebelum perang meletus, jumlah kapal yang berlalu lalang di Selat Hormuz berkisar 100-150 kapal per hari.

Kondisi itu menyebabkan 20-30 persen perdagangan migas dunia terhambat. Peredaran sebanyak 20-45 persen pupuk dan bahan baku pupuk dunia dari kawasan Timur Tengah ke banyak negara di dunia juga terganggu.

Tak hanya itu, biaya logistik maritim dunia turut melonjak. Penyebabnya bukan hanya lonjakan harga energi, melainkan juga akibat perubahan rute pelayaran dan bengkaknya biaya asuransi logistik.

Quote

Indeks Harga Pupuk naik 14,05 persen secara bulanan, lebih tinggi ketimbang kenaikan Indeks Harga Energi yang sebesar 12,07 persen.

Data jumlah kapal yang melalui Selat Hormuz sejak 27 Februari hingga 6 Mei 2026.

Merujuk data Strait of Hormuz Dashboard yang dirilis Badan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (INCTAD), sejak 27 Februari hingga 6 Mei 2026, harga bahan bakar kapal bersulfur tinggi naik 81,3 persen. Harga bahan bakar kapal bersulfur rendah juga naik 71,2 persen.

Biaya pengangkutan pengiriman minyak mentah dan produk olahan minyak mentah (bensin dan solar) juga naik masing-masing 34,4 persen dan 107,4 persen. Begitu pula dengan biaya pengangkutan dengan kapal kontainer dan curah yang naik masing-masing 52,7 persen dan 33 persen.

Tidak mengherankan jika harga pangan dan pupuk dunia terus merangkak naik. Data Harga Komoditas Dunia (The Pink Sheet) yang dirilis Bank Dunia pada 5 Mei 2026 menunjukkan, Indeks Harga Komoditas Pertanian pada April 2026 naik sebesar 1,5 persen dibandingkan dengan Maret 2026.

Indeks Harga Pupuk naik 14,05 persen secara bulanan, lebih tinggi ketimbang kenaikan Indeks Harga Energi yang sebesar 12,07 persen. Hal itu dipicu oleh kenaikan harga pupuk urea dan TSP (Triple Super Phosphate) yang masing-masing sebesar 18,09 persen dan 17,92 persen secara bulanan.

Aktivitas bongkar Muriate of Potash (MOP) sebanyak 4.509 ton dari Kapal MV Gold Spring asal Vietnam di Dermaga PTP Nonpetikemas Cabang Palembang di kawasan Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (15/4/2026). Meski terkendala pendangkalan Sungai Musi, PTP Nonpetikemas Palembang terus berupaya memastikan kelancaran konektivitas komoditas strategis dari dan menuju Sumsel, antara lain MOP yang menjadi bahan baku PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) dalam memproduksi pupuk majemuk NPK (nitrogen fosfat dan kalium).

Gandum dan beras

Pada Jumat (8/5/2026) sore di Roma, Italia, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) juga merilis kenaikan Indeks Harga Pangan global. Pada April 2026, indeks tersebut tercatat sebesar 130,7 atau naik 1,6 persen secara bulanan, menandai kenaikan bulanan ketiga berturut-turut.

Indeks Harga Pangan tersebut juga naik 2 persen secara tahunan. Namun, besaran indeks itu masih 18,4 persen lebih rendah dibandingkan dengan rekor tertinggi pada Maret 2022 atau kala perang Rusia-Ukraina.

Menurut FAO, kenaikan Indeks Harga Pangan pada April 2026 terutama disebabkan kenaikan harga minyak nabati, daging, dan serealia. Indeks Harga Minyak Nabati pada April 2026, misalnya, naik sebesar 5,9 persen secara bulanan atau mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.

Kenaikan itu didorong oleh harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed yang lebih tinggi. Kenaikan harga minyak nabati itu dipengaruhi oleh harga minyak mentah yang tinggi, peningkatan permintaan bahan bakar nabati di sejumlah negara, dan kekhawatiran terhadap penurunan produksi, terutama minyak sawit di sejumlah negara produsen di Asia Tenggara.

Begitu pula dengan Indeks Harga Serealia yang naik 0,8 persen secara bulanan dan 0,4 persen secara tahunan. Kenaikan Indeks Harga Serealia terutama dipicu kenaikan harga gandum sebesar 0,8 persen dan beras 1,9 persen secara bulanan.

Perkembangan Indeks Harga Pangan FAO pada 2023 hingga April 2026.

Beras, misalnya. Harga beras Thailand dengan kadar pecah 5 persen naik dari 381 dolar AS per ton pada Maret 2026 menjadi 403 dolar AS per ton pada April 2026. Dalam perbandingan yang sama, harga beras Vietnam berkadar pecah 5 persen juga naik dari 345,8 dolar AS per ton menjadi 352,9 dolar AS per ton.

FAO menyebutkan, kenaikan harga gandum dan beras dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, kekhawatiran pasar terhadap dampak musim kemarau panjang akibat El Nino di sejumlah negara produsen. Kedua, kenaikan harga energi dan pupuk yang membuat biaya produksi dan distribusi menjadi lebih tinggi.

Kepala Ekonom FAO Máximo Torero mengatakan, gangguan arus perdagangan berbagai komoditas melalui Selat Hormuz masih cukup besar. Di sisi lain, peningkatan permintaan bahan bakar nabati (biodiesel dan bioetanol) serta kekhawatiran terhadap musim kemarau dan ketersediaan pupuk turut menambah tekanan.

”Kendati begitu, sistem agropangan dunia masih mampu bertahan. Ini berkat kondisi pasokan pangan global pada 2025/2026 masih cukup besar, terutama dari serealia,” ujarnya melalui siaran pers.

FAO mencatat, produksi serealia global pada 2025/2026 diperkirakan mencapai 3,04 juta ton atau naik 6 persen secara tahunan. Khusus gandum, potensi produksinya naik dari 798,4 juta ton pada 2024/2025 menjadi 841,3 juta ton pada 2025/2026.

Dalam perbandingan yang sama, produksi beras dunia juga diproyeksikan naik dari 552,1 juta ton menjadi 563,4 juta ton. Namun, prospek produksi kedua komoditas itu masih bisa berubah, terutama bergantung pada dampak El Nino serta harga dan ketersediaan pupuk.

Aktivitas bongkar gandum impor dari kapal Clipper Isadora di Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas, Jakarta Utara, Rabu (29/4/2026). PTP Nonpetikemas telah beroperasi di 11 cabang pelabuhan yang tersebar di Indonesia. Total volume kargo pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 12,84 juta ton, yang didominasi oleh curah kering sebesar 46 persen, diikuti curah cair (25 persen), general cargo (24 persen), bag cargo (5 persen). 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-4-2026

Respons ASEAN

Negara-negara ASEAN yang menjadi produsen sekaligus importir sejumlah komoditas pangan, pupuk, dan energi merespons situasi itu. Hal itu terungkap dalam Pertemuan Gabungan Menteri Luar Negeri dan Menteri Ekonomi ASEAN (AMM-AEM) di Cebu, Filipina, Rabu (7/5/2026).

Pertemuan tersebut merupakan rangkaian dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-48 ASEAN. Salah satu poin yang dibahas dalam pertemuan itu adalah dampak krisis Timur Tengah terhadap kawasan Asia Tenggara.

Dalam pertemuan AMM-AEM, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengemukakan, ASEAN perlu menunjukkan kepada komunitas bisnis dan internasional bahwa kawasan Asia Tenggara tetap terbuka, tangguh, serta mampu menjaga stabilitas perdagangan dan rantai pasok di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Oleh karena itu, penguatan kerja sama ketahanan energi dan pangan ASEAN perlu menjadi prioritas strategis kawasan. Upaya tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan produksi, memastikan keamanan pasokan, serta mempertahankan kelancaran arus perdagangan barang-barang esensial.

”Selain itu, diversifikasi sumber pasokan, penguatan sistem peringatan dini, dan peningkatan pertukaran informasi antarnegara perihal pangan dan energi juga sangat penting dilakukan. Sejumlah upaya itu guna mengantisipasi potensi krisis pangan dan energi di masa mendatang,” katanya melalui siaran pers.

Quote

Penguatan perdagangan intra-ASEAN dan fasilitasi perdagangan menjadi instrumen penting untuk menjaga kelancaran arus pangan, energi, dan barang kebutuhan pokok bagi masyarakat kawasan.

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso


Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Menurut Budi, Indonesia juga mendorong penguatan perdagangan intra-ASEAN melalui percepatan ratifikasi Protokol Kedua Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA). Langkah itu dipandang penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok kawasan di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi global.

”Penguatan perdagangan intra-ASEAN dan fasilitasi perdagangan menjadi instrumen penting untuk menjaga kelancaran arus pangan, energi, dan barang kebutuhan pokok bagi masyarakat kawasan,” katanya.

Selain itu, lanjut Budi, Indonesia juga mendukung pengembangan mekanisme respons krisis kolektif ASEAN yang lebih cepat, fleksibel, dan terintegrasi lintas sektor. Salah satunya melalui inisiatif ASEAN CORE atau Respons Terkoordinasi ASEAN untuk Ketahanan yang Berkelanjutan.

ASEAN CORE merupakan usulan dari Sekretariat ASEAN untuk memperkuat respons dan kesiapsiagaan ASEAN dalam menghadapi berbagai krisis multidimensi di masa depan. Hal itu mencakup penguatan dan reformasi institusi; pendalaman integrasi keuangan dan ekonomi; penguatan ketahanan energi, pangan, dan masyarakat; serta peningkatan ketahanan rantai pasok maritim.

Untuk memperkuat ketahanan energi, misalnya, ASEAN perlu mempercepat ratifikasi Perjanjian Keamanan Minyak ASEAN, serta penguatan Jaringan Listrik ASEAN dan Pipa Gas Trans-ASEAN. Selain itu, mobilisasi investasi yang lebih besar dalam energi terbarukan, khususnya energi surya, dan bahan bakar nabati juga diperlukan.

Adapun di sektor pangan, mekanisme Cadangan Beras Darurat ASEAN+3 (APTEER) perlu diperluas ke komoditas pangan penting lainnya. Hal itu juga perlu diperkuat dengan mendorong kerja sama yang lebih erat di seluruh rantai produksi pangan dan pupuk.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar