DAMPAK PERANG

Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen, UMKM Bandung Terpukul

Harga plastik di Kota Bandung melejit 40 persen hingga 50 persen. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terdampak kondisi tersebut.

08 Apr 2026 15:18 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Kenaikan harga plastik hingga 50 persen di Kota Bandung, Jawa Barat, memukul sebagian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Hal itu dituding sebagai dampak dari konflik Timur Tengah.

Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah berlangsung sebulan lebih. Akibatnya, hal itu mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz sehingga memengaruhi aktivitas industri.

Salah satu yang terganggu adalah produksi nafta. Nafta digunakan sebagai bahan baku berbagai macam bahan kimia pembuat plastik.

A cargo ship sails in the Arabian Gulf towards Strait of Hormuz in United Arab Emirates, Sunday, March 15, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Sebuah kapal kargo berlayar di Teluk Arab menuju Selat Hormuz, 15 Maret 2026.

Yaya (70), pemilik usaha kuliner lontong di daerah Cibadak, mengatakan, kenaikan harga plastik mencapai 40 persen. Dia kini mesti menyisihkan Rp 1 juta untuk membeli enam jenis plastik.

Padahal, sebelumnya, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 700.000. Plastik-plastik itu biasanya digunakan untuk kebutuhan selama sepekan.

”Kenaikan harga plastik secara drastis sangat membebani kami. Kemungkinan kami terpaksa menaikkan harga jual,” ujarnya di Bandung, Rabu (8/4/2026).

Salah satu pelaku usaha kuliner di Kota Bandung, Jawa Barat, yang terdampak kenaikan harga plastik saat ditemui pada Rabu (8/4/2026).

Julian (39), pelaku usaha souvenir, mengatakan, kenaikan harga plastik untuk undangan pernikahan dan tumbler naik hingga 30 persen. Julian terpaksa menaikkan harga jual hingga Rp 4.000 untuk setiap produknya.

Kenaikan harga produknya menyebabkan omzet penjualan menurun drastis hingga 30 persen dari total pemasukan Rp 100 juta per bulan.

”Saya berharap pemerintah mencari jalur alternatif untuk mendatangkan bahan baku plastik ke Indonesia dengan harga lebih murah,” ucapnya.

Salah satu agen plastik di Kota Bandung, Jawa Barat, bernama Vivi yang terdampak kenaikan harga plastik saat ditemui pada Rabu (8/4/2026).

Hal senada disampaikan Vivi (40), agen penyedia produk plastik di Kota Bandung. Ia mengatakan bahwa harga plastik tidak stabil dan terus mengalami kenaikan selama sebulan ini.

Vivi mengatakan, kenaikan harga bervariasi tergantung jenis plastik. Harga plastik kemasan makanan naik, dari Rp 35.000 per kilogram menjadi Rp 55.000 per kilogram. Harga plastik PE juga naik, dari Rp 45.000 per kg menjadi Rp 90.000 per kg.

”Hampir semua produk plastik naik sejak perang di Timur Tengah. Saya berharap pemerintah segera menstabilkan harga plastik,” katanya.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika (Kompas.id, 16 Maret 2026) mengatakan, sektor makanan dan minuman sebenarnya bukan industri yang tergolong padat energi sehingga dampak kenaikan harga energi tidak terlalu besar. Namun, industri ini sangat bergantung pada kemasan, terutama plastik, yang berasal dari bahan baku petrokimia.

Menurut Putu, apabila terjadi gangguan pasokan atau kenaikan harga bahan baku plastik, seperti bijih plastik, dampaknya dapat terasa berlipat pada industri makanan dan minuman.

”Hal ini karena kemasan memiliki kontribusi cukup besar dalam struktur biaya produksi,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra