Harga Serba Naik, Hampir Setengah Warga Indonesia Tak Mampu Beli Makanan Sehat

Meski pandemi Covid-19 telah usai, inflasi yang tinggi di banyak negara telah melemahkan daya beli dan akses terhadap pangan sehat, termasuk di Indonesia.

11 Nov 2025 08:51 WIB · Kesehatan

ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat. Akses yang terbatas dan biaya yang mahal menjadi kendala utama yang dialami masyarakat.

Hal ini ditemukan FAO dalam laporannya berjudul ”The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI)” tahun 2025. Meski tren angkanya terus menurun dari dalam lima tahun terakhir, tetap tergolong tinggi dan menandakan lemahnya daya beli masyarakat terhadap pangan bergizi. Angka Indonesia pada 2024 ini tetap lebih rendah dibandingkan Malaysia yang hanya 1,6 persen; Vietnam 8,8 persen; dan Thailand 16,8 persen.

Dalam laporan itu disebutkan, meski pandemi Covid-19 telah usai, inflasi yang tinggi di banyak negara telah melemahkan daya beli dan akses terhadap pangan sehat, terutama di kalangan penduduk berpenghasilan menengah seperti Indonesia. Peningkatan produksi pangan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keterjangkauan konsumsi pangan bergizi di tingkat rumah tangga.

Dalam konteks ini, rumah tangga miskin menghabiskan porsi pendapatan mereka yang lebih besar untuk makanan, yang berarti bahwa kenaikan harga sekecil apa pun dapat membuat pangan sulit dijangkau.

”Negara dan masyarakat berpenghasilan rendah menanggung beban kelaparan, kerawanan pangan, dan malanutrisi, serta secara tidak proporsional terdampak oleh inflasi harga pangan,” tulis Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu dalam laporannya, dikutip pada Selasa (11/11/2025).

Di tingkat global, sebanyak 31,9 persen populasi dunia atau 2,6 miliar orang tidak mampu membeli pangan sehat. Angka ini menunjukkan tren penurunan gradual dari 38,4 persen pada 2017 yang menandakan adanya perbaikan akses dan kebijakan pangan di sejumlah kawasan.

Quote

Setiap orang membutuhkan sekitar Rp 40.000 untuk tiga kali makan sehat.

Realitas ini tidak hanya mengancam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2 (SDGs 2) dan target gizi global, tetapi juga seluruh agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, dengan merusak kesehatan dan penghidupan masyarakat, serta stabilitas sistem agri-pangan global.

”Kelompok rentan, termasuk rumah tangga berpenghasilan rendah, perempuan, dan masyarakat pedesaan, akan sangat terdampak oleh inflasi harga pangan sehingga berisiko mengalami kemunduran dalam upaya memerangi kelaparan dan malanutrisi,” ucapnya.

FAO menyerukan adanya koordinasi, tindakan, dan kebijakan yang terarah oleh setiap negara atas laporan ini. Upaya-upaya yang dilakukan harus inklusif, spesifik, serta sesuai konteks yang selaras dengan kebutuhan dan prioritas setiap negara untuk mengatasi hal ini.

”Pangan yang aman dan bergizi harus tersedia, mudah diakses, dan terjangkau bagi semua orang, hari ini dan esok,” tutur Dongyu.

Ibu menyuapi anak-anaknya saat menaiki odong-odong di Kampung Kerapu di Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (3/8/2023). Kampung Tongkol, Kampung Kerapu, dan Kampung Lodan menjadi contoh penataan kampung di bantaran Kali Ciliwung menjadi lebih tertata dan indah dipandang. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 03-08-2023

Guru Besar Bidang Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada Sri Raharjo pun mengakui, kebutuhan pangan sehat di Indonesia masih relatif mahal harganya. Dengan harga pasar sekarang, setiap orang membutuhkan sekitar Rp 40.000 untuk tiga kali makan sehat dengan asupan protein nabati dan protein hewani.

Idealnya, lanjut Sri, setiap orang mengonsumsi 2.150 kkal untuk tiga kali makan dalam sehari. Jumlah kalori sebanyak itu terbagi menjadi beberapa komponen yang menjadi kebutuhan gizi manusia, yaitu karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin.

Namun, tidak semua masyarakat dapat memenuhi seluruh komponen gizi tersebut, terlebih lagi komponen protein hewani yang cenderung mahal harganya. Komponen utama dari kalori makanan yang diandalkan saat ini sekadar karbohidrat, sedangkan protein relatif terbatas.

”Sebab, nanti kalau sudah masuk pada pangan-pangan yang mengandung protein, terutama protein hewani, harganya akan lebih mahal,” kata Sri.

Sri memperkirakan, jika satu orang dewasa memenuhi kebutuhan seluruh komponen gizi tersebut dalam sebulan dapat mencapai Rp 1,2 juta, kemudian untuk satu keluarga yang memiliki empat anggota, uang yang dikeluarkan untuk memenuhi makan sehat dapat mencapai Rp 5 juta per bulan.

”Berapa banyak rumah tangga atau kepala keluarga itu yang penghasilannya katakanlah dua kali dari nilai itu?” ucapnya.

Infografik Masyarakat yang Tidak Bisa Menjangkau Pangan Gizi Berimbang Jurnalisme Data Rata-rata Harga Bahan Pangan Gizi Seimbang Indonesia Per Kapita Per Hari Versi HDB

Hal ini yang menjadi penyebab utama dari sedikitnya penduduk Indonesia yang mampu mengonsumsi makan sehat. Mahalnya makan sehat di Indonesia terjadi karena produksi pangan yang terbatas sehingga tidak tercukupi untuk pemenuhan kebutuhan sehingga harus dipenuhi melalui impor.

Bahan-bahan pangan, seperti daging, susu, ataupun jagung, masih harus dipenuhi melalui impor. Bahkan, hampir 80 persen susu sebagai kebutuhan protein diimpor dari luar negeri, sedangkan harga dari bahan impor tersebut dipengaruhi pasar dunia.

Harga di pasar dunia itu kecenderungannya akan selalu naik. Selain itu, ketersediaannya bahan pangan yang dijual ke pasar dunia dari negara-negara pengekspor itu juga semakin dibatasi. Untuk itu, Sri menyarankan pemerintah untuk menjaga ketersediaan pangan dan meningkatkan akses daya beli masyarakat kepada konsumen.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto