Ada peluang koreksi sampai 15 persen pada harga emas apabila nilai tukar dollar AS dan imbal hasil SUN sejumlah anggota G7 naik.
15 Okt 2025 12:09 WIB · Internasional
Delapan puluh metrik ton. Itulah data termutakhir cadangan emas Bank Indonesia. Bersama bank sentral negara lain, Bank Indonesia ikut ambil bagian di tengah gairah emas yang tidak kunjung surut.
Di bursa komoditas New York (Comex) pada Selasa (14/10/2025) sore waktu setempat atau Rabu pagi WIB, harga emas ditutup pada 4.204 dollar AS per troy ounce. Dengan kata lain, harga emas sudah naik hampir 100 persen dalam setahun terakhir. Pada 7 Oktober 2024, harga emas tercatat 2.695 dollar AS per troy ounce.
Pada 2021 sampai awal 2024, harga emas relatif stabil di rentang 2.000 dollar AS per troy ounce. Pada pertengahan 2024, harga terus merangkak. Lalu, pada Maret 2025, harga emas menembus 3.000 dollar AS per troy ounce. Waktu itu pun banyak orang sudah terperangah.
Lalu, pada Oktober 2025, harga emas menembus 4.000 dollar AS per troy ounce. Rekor baru. Mengacu pada harga itu dan data publik termutakhir, nilai cadangan emas Bank Indonesia setara 10,8 miliar dollar AS.
Data cadangan itu mengacu pada laporan World Gold Council per 3 Oktober 2025. Dibanding sejumlah bank sentral sejumlah negara, pembelian emas BI relatif setara. Bank sentral sejumlah negara membeli rata-rata 2 ton emas per bulan.
Hanya Bank sentral Kazakhstan, NBK, lebih agresif dengan penambahan rata-rata 8 metrik ton per bulan. NBK telah menambah 32 ton emas pada Januari-Agustus 2025. Per Agustus 2025, total cadangan emas NBK mencapai 316 metrik ton.
Jumlah itu tentu masih jauh di bawah Bank Rakyat China (PBOC) yang merupakan bank sentral China. World Gold Council menyebut, PBOC memegang 2.300 metrik ton emas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/06/64e5939695b783d0e66ca7f50c4c16a1-20251006TOK13.jpg)
Bersama surat utang negara (SUN) Departemen Keuangan Amerika Serikat, emas menjadi salah satu wujud cadangan devisa berbagai bank sentral. Per 30 Juni 2025, SUN Depkeu AS hanya setara 23 persen dari total cadangan devisa sejumlah negara. Sebaliknya, emas setara 24 persen. Inilah pertama kali sejak Januari 1997, jumlah emas kembali di atas SUN Depkeu AS.
Dulu, di tengah krisis finansial Asia atau dikenal sebagai krisis moneter di Indonesia, sejumlah negara ramai-ramai menimbun dollar AS. Caranya, antara lain, dengan membeli SUN Depkeu AS.
Per 31 Januari 1997, sebanyak 31 persen cadangan devisa global berwujud SUN Depkeu AS. Sementara emas cuma 19 persen. Bahkan, pada Maret 2005, porsi emas sebagai cadangan devisa global cuma 9 persen.
Sebaliknya, porsi SUN Depkeu AS mencapai 28 persen. Di awal kuncitara kala pandemi Covid-19, porsi SUN Depkeu AS sebagai cadangan devisa global menembus 30 persen. Emas cuma 13 persen per Maret 2020. Setelah itu, porsinya terus menurun sehingga per Juni 2025 menjadi 23 persen.
Sementara porsi emas konsisten bertambah sampai akhirnya menjadi 24 persen per 30 Juni 2025. ”Emas menyediakan lindung nilai alami terhadap fluktuasi mata uang. Tidak seperti mata uang, emas tidak dapat didevaluasi melalui keputusan kebijakan moneter sehingga memberikan bank sentral penyimpanan nilai yang andal selama gejolak ekonomi,” kata analis keuangan, Maria Chen.
Rangkaian sanksi AS dan sekutunya ke sejumlah negara membuat banyak pihak berpikir ulang menyimpan devisa dalam dollar AS atau mata uang sekutu AS. Negara-negara yang menghadapi risiko sanksi atau menginginkan kedaulatan moneter yang lebih besar amat agresif membeli emas.
Rusia buktinya. Dari 150 miliar dollar AS pada 2013, cadangan devisa Rusia dalam wujud SUN Depkeu AS menjadi hanya 10 miliar dollar AS per 2022. Hal itu menyusul sanksi AS dan sekutunya gara-gara Rusia menyerbu Ukraina.
Sebagai pengganti, Rusia meningkatkan cadangan emas. Dari 400 ton pada 2007 menjadi setidaknya 2.330 ton. Sedikit lebih tinggi dari China. Nilainya 314,9 miliar dollar AS untuk Rusia dan 310,8 miliar dollar AS untuk China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/06/8f90f5b150247824cd0e4acf49bd6e8c-20251006TOK1.jpg)
Jumlah cadangan emas Rusia, menurut World Gold Council, sedikit menurun pada Agustus 2025. Waktu itu, Rusia terdata melepaskan 3 ton emas. Diduga, perubahan itu terkait kebijakan Moskwa mencetak koin emas.
Berbagai lembaga kajian pasar tidak melihat indikasi bank sentral akan mengurangi pembelian emas. Oleh karena itu, Goldman Sach menaksir harga emas akan menembus 4.900 dollar AS per troy ounce pada 2026.
Sementara raksasa keuangan asal Belanda, ING, memberikan taksiran lebih moderat. Hanya 4.150 dollar AS per troy ounce pada 2026.
Sejumlah analis memperingatkan, ada peluang koreksi sampai 15 persen pada harga emas. Koreksi akan terjadi apabila nilai tukar dollar AS dan imbal hasil SUN sejumlah anggota G7 naik. Walakin, peluang koreksi belum terlihat dalam waktu dekat. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto