Berbekal data IMF, World Gold Council menyoroti penurunan cadangan emas BI. Namun, data BI menunjukkan nilai cadangan emas tumbuh sejalan kenaikan harga emas global.
08 Okt 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Perkembangan cadangan emas Bank Indonesia tengah menjadi sorotan sekaligus menuai polemik. Meski Dana Moneter Internasional atau IMF mencatat penurunan cadangan emas, data Bank Indonesia justru memperlihatkan pertumbuhan nilai cadangan emas.
Secara global, sebagian bank sentral di dunia tengah berlomba-lomba mendiversifikasi cadangan devisanya dengan emas. Masih ada juga beberapa bank sentral yang justru mengurangi cadangan emasnya sebagai langkah taktis, antara lain guna menjaga likuiditas.
Merujuk data IMF, cadangan emas Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2025 tercatat sekitar 2,11 juta fine troy ounce atau 65,93 ton, turun 1,88 ton dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 67,81 ton. Perkembangan ini melanjutkan penurunan sebesar 11,25 ton dari Juni 2025 yang sebesar 79,06 ton.
Laporan World Gold Council bertajuk Central Bank Gold Statistics: Central Bank Gold Buying Rebounds in August mengklaim penurunan cadangan emas tersebut sebagai aksi penjualan emas oleh BI. Penjualan cadangan emas itu terjadi pada Juli 2025 sebesar 11 ton dan pada Agustus sebesar 2 ton.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/5dfea38734280648953975f6c980d0c0-Screenshot_2025_10_07_114105.png)
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual berpendapat, data itu tidak sesuai dengan laporan BI dalam Special Data Dissemination Standard (SDDS). Sebaliknya, nilai emas dalam cadangan devisa BI justru tumbuh sejalan dengan pergerakan harga emas global.
”Kalau SDDS, confirm datanya, karena kan itu dari Bank Indonesia dan IMF juga. Makanya, data World Gold Council-nya saya agak ragu,” katanya saat dihubungi pada Selasa (7/10/2025).
Berdasarkan data SDDS terkait International Reserves and Foreign Currency Liquidity dalam laman resmi statistik BI, nilai cadangan emas bank sentral pada Agustus 2025 tercatat sebesar 8,81 miliar dollar AS. Angka ini setara 2,55 juta troy ons, sebagaimana harga emas akhir Agustus 2025 sebesar 3.449,3 dollar AS per troy ons.
Agak aneh kalau BI malah menjual. Mungkin seharusnya menambah, karena, kan, kita lihat banyak negara sekarang mulai mendiversifikasi cadangan devisanya dengan menambah porsi emas.
Adapun nilai emas dalam cadangan devisa BI tersebut tumbuh sebesar 24,77 persen dibandingkan posisi akhir Januari 2025 yang sebesar 7,06 miliar dollar AS. Pertumbuhan ini sejalan dengan kenaikan harga emas global yang tercatat sebesar 23,31 persen dalam periode yang sama.
David menambahkan, kondisi tersebut menjelaskan bahwa BI tidak menjual cadangan emasnya sebagaimana dimaksud dalam laporan World Gold Council. Penjualan emas oleh BI akan tecermin ketika pertumbuhan cadangan emas tidak sejalan dengan kenaikan harga emas global.
”Malah sekarang kecenderungannya banyak bank sentral sedang menambah (cadangan emas). Agak aneh kalau BI malah menjual. Mungkin seharusnya menambah, karena, kan, kita lihat banyak negara sekarang mulai mendiversifikasi cadangan devisanya dengan menambah porsi emas,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/f22f19838a51a3fe5089f6a0711c4bb3-Screenshot_2025_10_07_195924.png)
Menurut dia, langkah diversifikasi cadangan devisa tersebut telah dimulai oleh sebagian besar bank sentral, terutama bank sentral China (PBOC), sejak pandemi Covid-19. Saat ini, porsi kepemilikan emas oleh bank sentral di dunia telah melebihi cadangan kurs Euro dan hampir setara dengan cadangan kurs dollar AS, yang cenderung turun.
Mengutip laporan World Gold Council pada 3 Oktober 2025, bank-bank sentral di dunia tercatat telah menambah cadangan emas global sebanyak 15 ton secara neto pada Agustus 2025. Bahkan, bank sentral Polandia akan menaikkan porsi kepemilikan emasnya dalam cadangan devisa, dari 20 persen menjadi 30 persen.
Senior Analis EMEA World Gold Council Krishan Gopaul menjelaskan, kondisi itu sejalan dengan pembelian emas secara neto bulanan Maret-Juni 2025, sekaligus menandai kembalinya aktivitas pembelian, setelah tidak ada perubahan cadangan emas global pada Juli 2025. Namun, di tengah kondisi itu, World Gold Council mencatat, BI justru melaporkan penjualan cadangan emas sebanyak 11 ton.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/02/1e133aa4-0b83-4ab4-9845-61df25bb8ca1_png.png)
Merespons kabar yang beredar, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, BI tidak melakukan penjualan emas sebanyak 11 ton. Sebaliknya, ia meminta semua pihak merujuk perkembangan cadangan devisa dalam laman resmi BI.
”Dapat kami sampaikan bahwa Bank Indonesia tidak melakukan penjualan emas sebagaimana disebutkan,” katanya ketika dikonfirmasi.
Masih merujuk data BI, cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral per akhir September 2025 tercatat senilai 9,93 miliar dollar AS atau tumbuh 12,71 persen secara bulanan. Nilai emas tersebut memiliki porsi 6,67 persen dari total cadangan devisa sebesar 148,7 miliar dollar AS.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat sejalan dengan prospek ekspor yang tetap terjaga serta neraca transaksi modal dan finansial yang diprakirakan tetap mencatatkan surplus.
Adapun cadangan devisa tersebut turun 2 miliar dollar AS dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2025 yang tercatat sebesar 150,7 miliar dollar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah BI.
Meski demikian, posisi cadangan devisa akhir September 2025 tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Dengan demikian, posisi cadangan devisa masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
”Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat sejalan dengan prospek ekspor yang tetap terjaga serta neraca transaksi modal dan finansial yang diprakirakan tetap mencatatkan surplus. Sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik,” tutur Ramdan dalam siaran pers.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/a1fe00789ffd58525b211010800920e8-WhatsApp_Image_2025_10_07_at_11.30.39.jpeg)
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menjelaskan, apabila BI memang melepas cadangan emasnya, itu bukan langkah strategis, melainkan sebagai manuver portofolio yang bersifat taktis.
”Dalam praktik kebijakan moneter modern, penjualan emas oleh bank sentral umumnya tidak dimaksudkan untuk mencari keuntungan jangka pendek,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Sebaliknya, penjualan emas oleh bank sentral dilakukan untuk menjaga likuiditas cadangan devisa, melakukan rebalancing aset cadangan, atau untuk memenuhi kebutuhan intervensi valuta asing di tengah tekanan eksternal tertentu.
Rizal mencontohkan, bank sentral Rusia dan Turki pernah melakukan langkah serupa untuk mendukung program domestik, seperti minting coin programme (cetak koin) dan penyesuaian neraca keuangan pemerintah. Namun, pada dasarnya, langkah tersebut tetap dilakukan secara berhati-hati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/e1922646-b0db-492d-a9a0-cc97c8a8fcbf_jpg.jpg)
Lebih lanjut, pelepasan cadangan emas dalam skala terbatas tidak akan serta-merta mengganggu stabilitas keuangan nasional. Apalagi, porsi emas terhadap total cadangan devisa Indonesia masih relatif kecil sehingga dampak langsungnya terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi cenderung minimal.
”Namun, sinyal yang dikirim dari kebijakan ini tetap penting dan bisa dibaca sebagai indikasi bahwa BI sedang memperkuat posisi likuiditas dollar AS untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global, terutama apabila permintaan valas meningkat, akibat ketidakpastian eksternal atau defisit neraca berjalan,” tutur Rizal.
Di sisi lain, kebijakan itu justru dapat memperkuat persepsi kredibilitas BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar apabila turut disertai dengan koordinasi fiskal-moneter. Sebaliknya, langkah tersebut berisiko memicu spekulasi apabila pasar memaknainya sebagai tekanan terhadap cadangan devisa.
Oleh sebab itu, risiko tersebut perlu diantisipasi, antara lain melalui komunikasi kebijakan yang transparan, agar pasar meresponsnya dengan positif. Ini mengingat perkembangan nilai tukar yang belakangan cenderung tertekan.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa ditutup di level Rp 16.560 per dollar AS atau menguat 0,71 persen dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, rupiah tercatat telah terdepresiasi hingga 1,4 persen sepanjang September 2025.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra