Turnamen bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 ditargetkan berlangsung meriah. Salah satu yang dilakukan panitia adalah menetapkan harga lebih murah.
27 Nov 2025 16:03 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Menurunnya antusiasme penonton yang datang ke Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, untuk menonton turnamen bulu tangkis menjadi evaluasi panitia penyelenggara untuk Daihatsu Indonesia Masters 2026. Panitia pun menurunkan harga tiket agar lebih terjangkau oleh masyarakat.
Indonesia Masters BWF World Tour Super 500 akan menjadi turnamen BWF pertama yang digelar di Indonesia pada 2026, yaitu pada 20-26 Januari, setelah Malaysia Terbuka Super 1000 (6-11 Januari) dan India Terbuka Super 750 (13-18 Januari). Selain Indonesia Masters, turnamen besar lainnya adalah Indonesia Terbuka yang berlevel Super 1000 dan akan berlangsung pada 2-7 Juni.
Melalui konferensi pers Indonesia Masters di Jakarta, Kamis (27/11/2025), panitia merilis harga tiket yang turun 33-55 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Harga tiket regular pre-sale pada hari pertama turnamen yang sebesar Rp 90.000 pada 2024 turun menjadi Rp 40.000, sementara harga normal pada hari dan kategori yang sama dijual Rp 50.000 (turun dari Rp 110.000).
Perbandingan lain adalah tiket VIP laga final yang dijual Rp 1 juta (pre-sale) dan Rp 1,1 juta (normal) turun menjadi Rp 550.000 dan 650.000. Ketua Panitia Indonesia Masters 2026 Achmad Budiharto mengatakan, tiket akan mulai dijual pada 19 Desember dengan jumlah tiket pre-sale yang lebih terbatas.
”Melihat kembali dari 2025, kami mempertahankan apa yang sudah baik dan meningkatkan yang kurang. Turnamen Indonesia Masters sudah terkenal dan banyak juara dari berbagai negara yang tampil. Satu masalahnya adalah harga. Kali ini, kami memberi kesempatan kepada semua lapisan masyarakat untuk menonton dan berharap harganya mudah terjangkau oleh mereka,” kata Achmad.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/25/0659f3c8-07a3-4465-a1be-b06c45e13714.jpg)
Selain harga tiket untuk menonton pertandingan, panitia menjanjikan harga makanan dan minuman yang dijual di sekitar Istora lebih murah dari sebelumnya. ”Kami ingin turnamen ini seperti family gathering bagi penggemar bulu tangkis,” lanjut Achmad.
Turnamen BWF di Indonesia, terutama Indonesia Masters dan Indonesia Terbuka, memiliki reputasi sebagai ajang paling meriah dari sisi penyelenggaraan dan penonton. Akan tetapi, antusiasme penonton turun, terutama dalam dua tahun terakhir. Atlet-atlet dari luar Indonesia, salah satunya Anders Antonsen (Denmark), menyampaikan penyesalannya ketika Indonesia Terbuka 2024 sepi penonton.
Untuk penyelenggaraan turnamen pada 2026, nasional dan internasional, PP PBSI pun menggaet penyelenggara baru, yaitu PT Perada Swara Productions. Saat konferensi pada 9 Oktober, Djarum Foundation juga mengatakan akan memberi dukungan agar turnamen bisa diselenggarakan secara profesional dan berkualitas. Mereka berharap antusiasme penggemar bulu tangkis akan naik lagi untuk datang ke Istora.
Harapan tersebut diiringi pula oleh target prestasi dari atlet tuan rumah. Apalagi, seperti dikatakan Achmad, tantangan akan besar karena China sudah mendaftarkan diri dengan kekuatan penuh.
Pada Indonesia Masters 2025, Indonesia gagal meraih gelar juara meski ada Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang lolos ke final. Dari lima gelar, Thailand mendapat dua dari nomor tunggal, sedangkan nomor lain dijuarai Malaysia pada ganda putra, Korea Selatan (ganda putri), dan Jepang (ganda campuran).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/25/4cd21722-bebb-48be-9fc6-c0933aeb626c.jpg)
Atlet tunggal putri, Putri Kusuma Wardani, menargetkan juara setelah mencapai perempat final pada 2025 sebagai hasil terbaik. ”Saya sudah tiga kali jadi runner-up turnamen Super 500. Saya ingin menunjukkan bisa juara, apalagi di rumah sendiri,” katanya.
Ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri akan menjadi sorotan sebagai pasangan terbaik Indonesia saat ini. Berpasangan sejak Juli, mereka lima kali mencapai final dari delapan turnamen, tetapi hanya sekali juara, yaitu di China Terbuka.
Sementara Anthony Sinisuka Ginting memiliki target berbeda berdasarkan kondisi fisik yang dialaminya. Dia mengalami cedera pinggang setelah didera cedera bahu.
Selain itu, Indonesia Masters diharapkan juga menjadi panggung pembuktian pemain-pemain muda yang menjuarai Australia Terbuka. Mereka adalah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar