TOKYO, KAMIS — Peringatan Hari Buruh Internasional diwarnai kecemasan pada kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sementara di sejumlah negara, Hari Buruh Internasional meningkatkan jumlah pelancong.
Unjuk rasa digelar pada Kamis (1/5/2025) di berbagai negara untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Di Tokyo, unjuk rasa diwarnai tuntutan soal kenaikan upah, kesetaraan jender, hingga bantuan untuk korban bencana. ”Agar anak-anak kita bisa hidup dengan harapan, hak pekerja harus diakui,” kata seorang aktivis hak perempuan di Tokyo, Junko Kuramochi.
Sementara seorang pekerja bangunan, Tadashi Ito, mengaku gelisah soal kenaikan harga bahan mentah. ”Semua memperebutkan peluang kerja dan kontraktor cenderung ke tempat dengan upah termurah,” ujarnya.
Ia juga mengaku gelisah pada dampak kebijakan Trump soal bea masuk impor. Kebijakan itu memicu perang dagang yang imbasnya termasuk lonjakan harga aneka hal. Bagi negara importir bahan mentah, seperti lonjakan harga impor amat berdampak serius.
Selain di Tokyo, unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional juga digelar di beberapa kota lain di Jepang. ”Pekerja bersatu! Pekerja sedunia! May Day!” teriak mereka, sambil mengakhiri setiap seruan dengan kata ”banzai!”.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, jutaan pekerja di berbagai negara tetap dalam kondisi rentan. Hak-hak dasar di tempat kerja tidak dipenuhi. Lingkungan kerja tidak aman dan tidak sehat di banyak negara.
ILO juga mencatat, 160 juta anak dipekerjakan di berbagai negara. Selain itu, 49,6 juta orang terjebak dalam perbudakan modern. Ada juga ratusan juta lain menghadapi beragam diskriminasi di berbagai tempat kerja.
ILO mencatat, rata-rata dua juta orang tewas di tempat kerja. Hal itu mengindikasikan, tempat kerja belum aman dan tidak sehat.
Di Filipina dan Turki, unjuk rasa diwarnai bentrokan pengunjuk rasa dengan aparat. Bentrokan terjadi dekat Istana Kepresidenan Filipina di Manila. Buruh mendorong perintang yang dipasang aparat. Perintang dipasang agar pengunjuk rasa tidak mendekati istana.
Sementara di Turki, unjuk rasa dilarang di Alun-alun Taksim Istanbul dan sekitarnya. Sejak 2013, Turki melarang unjuk rasa besar di alun-alun itu.
Pada Rabu malam, sejumlah orang yang akan ikut peringatan Hari Buruh di Alun-alun Taksim ditangkap polisi. Sebagian lagi cuma dihalau.
Untuk merintangi pengunjuk rasa mendekati alun-alun, Pemerintah Turki menghentikan layanan transportasi umum. Bus, kereta bawah tanah, hingga feri dihentikan.
Amnesty International mendesak Turki untuk mencabut larangan demonstrasi. ”Pembatasan perayaan Hari Buruh di Lapangan Taksim didasarkan pada alasan keamanan dan ketertiban umum yang sepenuhnya palsu dan harus segera dicabut,” kata Dinushika Dissanayake dari Amnesty International.
Protes Trump
Meski tidak ikut merayakan seperti negara lain, AS juga diguncang unjuk rasa hari buruh. Dilaporkan CNN, salah satu unjuk rasa digelar kelompok 50501. Nama kelompok itu merujuk pada 50 unjuk rasa di 50 negara bagian dengan satu tujuan.
”Bergabunglan bersama kami memperjuangkan konstitusi dan mengakhiri kesewenangan pemerintah. Hari Solidaritas Nasional. Hentikan penyerobotan oleh miliarder. Kita banyak, mereka sedikit,” demikian tercantum di laman gerakan itu.
Pada 19 April 2025, gerakan itu berunjuk rasa di 80 lokasi di seluruh AS. Sasarannya termasuk ibu kota negara bagian, pengadilan, dan balai kota. Mereka memprotes kesewenangan pemerintahan Trump.
Wujud kesewenangan itu, antara lain, penangkapan diikuti deportasi besar-besaran terhadap imigran. Pemerintahan Trump juga membubarkan sejumlah lembaga negara dan memberhentikan banyak pegawai negeri.
Pemerintahan Trump juga mengancam sejumlah universitas. Hibah pemerintah ke universitas dihentikan kalau tidak mau ikut apa kata pemerintahan Trump. Hal yang harus diikuti, antara lain, tidak boleh kritis pada Israel. Kampus harus melarang segala protes terhadap Israel dan segala dukungan pada Palestina.
”Kami tidak akan diam saja kala pemerintah ini menculik tetangga kami, mengacau hak kami, memenjarakan hakim, membahayakan orang terpinggir, dan mewujudkan Project 2025 yang jahat itu. Kalau pemerintah menyerang, sama saja menyerang seluruh orang,” kata Glorian Sahay, salah satu penggerak 50501.
Sejauh ini, 1.000 unjuk rasa di berbagai wilayah di AS didaftarkan sebagai bagian 50501 untuk Kamis ini. ”Meski di tengah pekan, kami berharap jumlah besar karena bangsa Amerika berkomitmen mempertahankan hak mereka,” kata Sahay.
Persiapan unjuk rasa, antara lain, dilakukan di New York. Dukungan pada Palestina menjadi salah satu pokok isu dalam unjuk rasa peringatan Hari Buruh Internasional di New York.
Sejumlah universitas di New York terimbas kebijakan Trump soal pendanaan pendidikan. Columbia University terpaksa mengikuti kemauan pemerintahan Trump demi tetap dapat hibah pemerintah. Rektorat Columbia University setuju memberangus pendukung Palestina di kampus itu demi bisa tetap dapat dana.
Unjuk rasa di New York, antara lain, digalang oleh Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU). Fokus mereka, antara lain, soal kebijakan anti-imigran oleh pemerintah.
Berbeda dari ratusan negara lain, Hari Buruh di AS diperingati setiap 5 September. Hal itu bagian dari upaya AS menjauhkan diri dari komunisme. Hari Buruh Internasional dianggap bagian dari komunisme.
Hari libur
Di sejumlah negara, Hari Buruh ditetapkan sebagai hari libur. Di China, sebagian memilih cuti akhir pekan agar bisa libur. Bandara di Shanghai bersiap pada 1,8 juta penumpang selama periode libur Hari Buruh. Selain itu, pada Kamis saja, hampir 800.000 orang naik kereta ke luar Shanghai.
Di sekitar Delta Yangtze, hingga 4,2 juta orang bepergian selama libur Hari Buruh. Sementara di Zhengzhou, penumpang kereta ditaksir hampir sejuta orang pada Kamis saja.
Sementara di Bandara Daxing Beijing, jumlah penumpang libur Hari Buruh ditaksir hampir sejuta orang. Dilaporkan Global Times, jumlah penumpang pesawat di Daxing lebih besar lagi kalau menghitung sejak awal pekan.
Berbagai maskapai penerbangan China meningkatkan jumlah penerbangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. China Southern Group saja bersiap mengangkut 4,4 juta penumpang selama periode libur Hari Buruh. (AP/AFP)
TOKYO, KAMIS — Peringatan Hari Buruh Internasional diwarnai kecemasan pada kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sementara di sejumlah negara, Hari Buruh Internasional meningkatkan jumlah pelancong.
Unjuk rasa digelar pada Kamis (1/5/2025) di berbagai negara untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Di Tokyo, unjuk rasa diwarnai tuntutan soal kenaikan upah, kesetaraan jender, hingga bantuan untuk korban bencana. ”Agar anak-anak kita bisa hidup dengan harapan, hak pekerja harus diakui,” kata seorang aktivis hak perempuan di Tokyo, Junko Kuramochi.
Serial Artikel
Bentrok Unjuk Rasa Hari Buruh
Unjuk rasa Hari Buruh atau May Day di Filipina dan Turki diwarnai bentrokan. Di negara lain aman.
Sementara seorang pekerja bangunan, Tadashi Ito, mengaku gelisah soal kenaikan harga bahan mentah. ”Semua memperebutkan peluang kerja dan kontraktor cenderung ke tempat dengan upah termurah,” ujarnya.
Ia juga mengaku gelisah pada dampak kebijakan Trump soal bea masuk impor. Kebijakan itu memicu perang dagang yang imbasnya termasuk lonjakan harga aneka hal. Bagi negara importir bahan mentah, seperti lonjakan harga impor amat berdampak serius.
Selain di Tokyo, unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional juga digelar di beberapa kota lain di Jepang. ”Pekerja bersatu! Pekerja sedunia! May Day!” teriak mereka, sambil mengakhiri setiap seruan dengan kata ”banzai!”.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, jutaan pekerja di berbagai negara tetap dalam kondisi rentan. Hak-hak dasar di tempat kerja tidak dipenuhi. Lingkungan kerja tidak aman dan tidak sehat di banyak negara.
ILO juga mencatat, 160 juta anak dipekerjakan di berbagai negara. Selain itu, 49,6 juta orang terjebak dalam perbudakan modern. Ada juga ratusan juta lain menghadapi beragam diskriminasi di berbagai tempat kerja.
ILO mencatat, rata-rata dua juta orang tewas di tempat kerja. Hal itu mengindikasikan, tempat kerja belum aman dan tidak sehat.
Serial Artikel
Pekerja Migran Filipina Terjerat ”Perbudakan Modern” di Korea Selatan
Warga Filipina yang tergiur gaji besar berangkat ke Korsel sebagai pekerja migran. Namun, hak-hak mereka tidak dipenuhi.
Di Filipina dan Turki, unjuk rasa diwarnai bentrokan pengunjuk rasa dengan aparat. Bentrokan terjadi dekat Istana Kepresidenan Filipina di Manila. Buruh mendorong perintang yang dipasang aparat. Perintang dipasang agar pengunjuk rasa tidak mendekati istana.
Sementara di Turki, unjuk rasa dilarang di Alun-alun Taksim Istanbul dan sekitarnya. Sejak 2013, Turki melarang unjuk rasa besar di alun-alun itu.
Pada Rabu malam, sejumlah orang yang akan ikut peringatan Hari Buruh di Alun-alun Taksim ditangkap polisi. Sebagian lagi cuma dihalau.
Untuk merintangi pengunjuk rasa mendekati alun-alun, Pemerintah Turki menghentikan layanan transportasi umum. Bus, kereta bawah tanah, hingga feri dihentikan.
Amnesty International mendesak Turki untuk mencabut larangan demonstrasi. ”Pembatasan perayaan Hari Buruh di Lapangan Taksim didasarkan pada alasan keamanan dan ketertiban umum yang sepenuhnya palsu dan harus segera dicabut,” kata Dinushika Dissanayake dari Amnesty International.
Protes Trump
Meski tidak ikut merayakan seperti negara lain, AS juga diguncang unjuk rasa hari buruh. Dilaporkan CNN, salah satu unjuk rasa digelar kelompok 50501. Nama kelompok itu merujuk pada 50 unjuk rasa di 50 negara bagian dengan satu tujuan.
”Bergabunglan bersama kami memperjuangkan konstitusi dan mengakhiri kesewenangan pemerintah. Hari Solidaritas Nasional. Hentikan penyerobotan oleh miliarder. Kita banyak, mereka sedikit,” demikian tercantum di laman gerakan itu.
Pada 19 April 2025, gerakan itu berunjuk rasa di 80 lokasi di seluruh AS. Sasarannya termasuk ibu kota negara bagian, pengadilan, dan balai kota. Mereka memprotes kesewenangan pemerintahan Trump.
Serial Artikel
Deportasi Perusak ”Impian Amerika”
Deportasi membuat keluarga di AS tercerai-berai. Mimpi meraih kesejahteraan pun hancur.
Wujud kesewenangan itu, antara lain, penangkapan diikuti deportasi besar-besaran terhadap imigran. Pemerintahan Trump juga membubarkan sejumlah lembaga negara dan memberhentikan banyak pegawai negeri.
Pemerintahan Trump juga mengancam sejumlah universitas. Hibah pemerintah ke universitas dihentikan kalau tidak mau ikut apa kata pemerintahan Trump. Hal yang harus diikuti, antara lain, tidak boleh kritis pada Israel. Kampus harus melarang segala protes terhadap Israel dan segala dukungan pada Palestina.
”Kami tidak akan diam saja kala pemerintah ini menculik tetangga kami, mengacau hak kami, memenjarakan hakim, membahayakan orang terpinggir, dan mewujudkan Project 2025 yang jahat itu. Kalau pemerintah menyerang, sama saja menyerang seluruh orang,” kata Glorian Sahay, salah satu penggerak 50501.
Sejauh ini, 1.000 unjuk rasa di berbagai wilayah di AS didaftarkan sebagai bagian 50501 untuk Kamis ini. ”Meski di tengah pekan, kami berharap jumlah besar karena bangsa Amerika berkomitmen mempertahankan hak mereka,” kata Sahay.
Persiapan unjuk rasa, antara lain, dilakukan di New York. Dukungan pada Palestina menjadi salah satu pokok isu dalam unjuk rasa peringatan Hari Buruh Internasional di New York.
Sejumlah universitas di New York terimbas kebijakan Trump soal pendanaan pendidikan. Columbia University terpaksa mengikuti kemauan pemerintahan Trump demi tetap dapat hibah pemerintah. Rektorat Columbia University setuju memberangus pendukung Palestina di kampus itu demi bisa tetap dapat dana.
Unjuk rasa di New York, antara lain, digalang oleh Persatuan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU). Fokus mereka, antara lain, soal kebijakan anti-imigran oleh pemerintah.
Berbeda dari ratusan negara lain, Hari Buruh di AS diperingati setiap 5 September. Hal itu bagian dari upaya AS menjauhkan diri dari komunisme. Hari Buruh Internasional dianggap bagian dari komunisme.
Serial Artikel
Universitas Columbia Izinkan Polisi Masuk Kampus, Tangkap Mahasiswa Pro Palestina
Rektor Columbia University, Amerika Serikat, memberikan izin bagi Kepolisian New York menyerbu pengunjuk rasa.
Di sejumlah negara, Hari Buruh ditetapkan sebagai hari libur. Di China, sebagian memilih cuti akhir pekan agar bisa libur. Bandara di Shanghai bersiap pada 1,8 juta penumpang selama periode libur Hari Buruh. Selain itu, pada Kamis saja, hampir 800.000 orang naik kereta ke luar Shanghai.
Di sekitar Delta Yangtze, hingga 4,2 juta orang bepergian selama libur Hari Buruh. Sementara di Zhengzhou, penumpang kereta ditaksir hampir sejuta orang pada Kamis saja.
Sementara di Bandara Daxing Beijing, jumlah penumpang libur Hari Buruh ditaksir hampir sejuta orang. Dilaporkan Global Times, jumlah penumpang pesawat di Daxing lebih besar lagi kalau menghitung sejak awal pekan.
Berbagai maskapai penerbangan China meningkatkan jumlah penerbangan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. China Southern Group saja bersiap mengangkut 4,4 juta penumpang selama periode libur Hari Buruh. (AP/AFP)