Van Dijk dan Salah, dua pemain veteran yang paling diandalkan Liverpool, menjalani hari buruk bersamaan. Kebetulan itu jadi tanda tanya untuk tim asuhan Arne Slot.
11 Agt 2025 16:28 WIB · Olahraga
Kapan terakhir kali Virgil van Dijk dan Mohamed Salah bermain buruk pada saat bersamaan? Agaknya, sulit mencari momen itu. Dua megabintang Liverpool tersebut hampir selalu memberikan performa terbaik dalam setiap pertandingan. Sampai akhirnya tercipta anomali pada laga Community Shield 2025 antara Liverpool dan Crystal Palace.
Liverpool harus merelakan trofi pertama musim ini setelah kalah adu penalti dari Palace, 2-3, di Stadion Wembley, London, Minggu (10/8/2025) malam WIB. Tim asuhan Manajer Arne Slot itu unggul dua kali pada paruh pertama, tetapi selalu kecolongan saat mulai nyaman. Adapun laga berakhir imbang 2-2 selama 90 menit waktu normal.
Jika ditanya sosok yang paling matang dan tenang di kubu Liverpool, semua orang pasti sepakat menunjuk Van Dijk. Sang kapten tim berusia 34 tahun itu biasanya selalu menghadirkan kenyamanan di lini belakang ”Si Merah”. Namun, sosok tersebut seperti menghilang seketika di Wembley.
Van Dijk terekspos berkali-kali oleh kecepatan para penyerang Palace. Dia membuat kesalahan pertama dengan melanggar Ismaila Sarr di kotak penalti. Insiden itu berujung gol pertama Palace. Di pengujung laga, Sarr mencetak gol penyeimbang berkat kesalahan antisipasi dan posisi dari Van Dijk.
Cara paling mudah menemukan alasan kekalahan adalah menjadikan Van Dijk sebagai ”kambing hitam”. Meskipun begitu, sepak bola tidak dimainkan sendirian. Jika dilihat lebih luas, performa sang bek tengah itu ternyata dipengaruhi banyak hal. Sistem pertahanan Liverpool yang diisi beberapa pemain baru menjadi faktor terbesar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/11/031bfb8a4689238261ff46de626a8b07-Britain_Soccer_Community_Shield_2_.jpeg)
Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, menjabarkan kelemahan ”Si Merah”. ”Serangan mereka terlihat hebat, tetapi rentan dalam bertahan, seperti yang terlihat sepanjang pramusim. Mereka banyak kemasukan akibat melakukan (skema bertahan) man-to-man agresif dan meninggalkan banyak ruang di belakang,” ungkapnya lewat X.
Skema man-to-man dengan blok pertahanan tinggi sudah biasa diterapkan Slot pada musim lalu. Masalahnya, empat bek sejajar saat ini belum terbiasa bermain bersama. Bek sayap Jeremie Frimpong (kanan) dan Milos Kerkez (kiri) baru menjalani debut resmi saat versus Palace. Tim lawan bisa mengeksploitasi celah itu dengan transisi kilat.
Di gol kedua Palace, misalnya. Empat bek sejajar Liverpool tampak tidak rapat. Terlihat lubang besar di antara Kerkez dan Van Dijk. Kerkez kebingungan karena terkunci oleh keberadaan bek sayap Daniel Munoz. Sarr memanfaatkan celah dengan berlari di antara kedua pemain Liverpool tersebut.
Posisi Frimpong juga patut dipertanyakan. Dia berdiri sekitar satu langkah dari garis offside Liverpool. Walaupun posisinya tidak berpengaruh terhadap gol kedua Palace, pemahaman bertahan Frimpong bisa menjadi masalah di masa depan. Adapun di Bayer Leverkusen, dia lebih banyak bermain sebagai gelandang sayap dalam formasi 3-5-2.
Di tim asuhan Slot, Frimpong bermain sebagai bek sayap dalam formasi 4-2-3-1. Dia diharapkan bisa menggantikan peran Trent Alexander-Arnold yang sering menjadi titik lemah di pertahanan. Tanggung jawab bertahan sang pemain bertubuh mungil itu jauh lebih besar bersama Liverpool dibandingkan di Leverkusen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/68f1e51d-4c89-4300-b3c6-1f4152b0a2df_jpeg.jpg)
”Mungkin kami butuh sedikit penyesuaian dalam bertahan,” kata Slot seusai laga. ”Kami tidak banyak kecolongan peluang, tetapi banyak kemasukan gol. Kami kemasukan beberapa gol versus Athletic Bilbao dan Milan (pada laga pramusim). Jadi, kami pastinya harus melakukan sesuatu agar bisa lebih baik lagi,” ucapnya kemudian.
Salah mungkin memang sedang tidak dalam malam terbaik. Hal itu bisa dilihat dari eksekusinya saat adu penalti yang melambung tinggi di atas mistar. Catatan statistik sang penyerang juga jauh dari standar. Dia hanya menciptakan satu tembakan, gagal memenangi duel (0-6) ataupun menciptakan dribel sukses (0-1) sepanjang 90 menit.
Terlepas dari itu, Salah sebenarnya kurang mendapat suplai dari rekan-rekannya, terutama dalam situasi transisi saat pertahanan lawan belum siap. Salah lebih sering mendapatkan bola ketika para bek Palace sudah berjaga dalam blok pertahanan rendah. Semuanya terasa serba sulit bagi peraih Sepatu Emas Liga Inggris 2024-2025 itu.
Apalagi, skema serangan Liverpool juga berubah. Salah tidak lagi beroperasi sendirian di sayap kanan. Dia harus berbagi ruang dengan Frimpong yang sering maju membantu serangan. Frimpong tidak seperti Alexander-Arnold yang lebih banyak bergerak ke area sentral atau menempati posisi gelandang.
Kami mengganti empat pemain. Anda pasti butuh waktu, baik untuk beradaptasi dari sisi serangan maupun bertahan. - Arne Slot -
Hasilnya, sisi kanan Liverpool agak padat. Perhatian pemain lawan terfokus di sisi tersebut. Belum lagi, ”Si Merah” kehilangan pemain sayap Luis Diaz yang biasa mengancam sisi kiri lawan lewat aksi dribel. Pengganti Diaz, Cody Gakpo, cenderung lebih sering bergerak ke tengah. Salah pun semakin kesulitan mencari ruang.
Tidak hanya itu, Liverpool juga terlihat mulai merindukan umpan-umpan panjang Alexander-Arnold. Pelayanan dari sang bek sayap biasanya memanjakan Salah ketika momen transisi serangan balik. Belum ada sosok yang bisa menggantikan peran tersebut di Wembley.
Frimpong hanya melakukan dua kali umpan panjang selama bermain penuh di waktu normal. Pada laga pertemuan Liverpool versus Palace sebelumnya, akhir Mei lalu, Alexander-Arnold melesatkan 13 kali umpan panjang walaupun hanya tampil pada 45 menit kedua. Maka, terlihat dengan jelas perbedaan peran kedua bek sayap tersebut.
Serangan Liverpool dinilai lebih cair dengan kehadiran pemain baru, seperti gelandang Florian Wirtz dan penyerang Hugo Ekitike. Mereka terlibat menyumbang asis dan gol untuk membuka keunggulan Liverpool di Wembley. Namun, kenyataannya, serangan mereka tidak lebih baik dari Palace.
Palace mencatatkan peluang besar lebih banyak dibandingkan dengan Liverpool (4-3) dan juga unggul dalam jumlah tembakan (14-12). Tidak hanya itu, tim asuhan Oliver Glasner itu pun mencatat nilai peluang dua kali lipat lebih baik daripada Liverpool, 2,12 - 1,11 xG (expected goals).
Slot mengakui, masih banyak masalah yang harus dipecahkan menjelang musim baru. Namun, hal itu baginya sama sekali tidak mengkhawatirkan. Alasannya, mereka masih dalam fase transisi. ”Kami mengganti empat pemain. Anda pasti butuh waktu, baik untuk beradaptasi dari sisi serangan maupun bertahan,” tuturnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/11/df25489a-6f4b-4d67-a1a0-ed43c2687176_jpeg.jpg)
Penampilan di Community Shield bisa saja menjadi sinyal bahaya untuk Liverpool. Hanya saja, performa dalam satu laga tidak bisa menggambarkan utuh kisah Salah dan rekan-rekan di musim baru. Mereka masih belum menyelesaikan aktivitas transfer walaupun sudah belanja hampir 300 juta pound sterling.
Gelandang bertahan Ryan Gravenberch juga belum tampil karena urusan pribadi. Seperti diketahui, Gravenberch merupakan sosok yang mampu menjembatani serangan dan membentengi pertahanan. ”Gravenberch adalah kehilangan yang sangat besar. Bagi saya, dia adalah pemain terbaik Liverpool musim lalu,” kata mantan kiper Liverpool, Chris Kirkland, kepada BBC Sport.
Bagi Liverpool, hasil di Wembley itu bisa juga menjadi pertanda keberkahan. Semua tergantung dari konteks dan sudut pandang. Adapun dari 14 pemenang terakhir Community Shield, hanya satu tim yang bisa menjadi juara Liga Inggris pada akhir musim. Sisanya terkena kutukan juara dari kompetisi hiburan tersebut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji