Henderson dan Wembley, Jimat Kejayaan Berulang Crystal Palace

Aksi kiper Dean Henderson dan tuah Stadion Wembley kembali tercatat dalam sejarah Palace. Di balik itu, Pelatih Oliver Glasner menguak rahasia utama kejayaan timnya.

11 Agt 2025 02:03 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, MINGGU — Sebelum Mei 2025, Crystal Palace tidak pernah merasakan gelar juara di level tertinggi. Hanya dalam tiga bulan setelah itu, tim asuhan Pelatih Oliver Glasner sukses memenangi dua trofi beruntun. Sepasang gelar juara tersebut sama-sama diraih di Stadion Wembley dengan aksi heroik kiper Dean Henderson.

Setelah Manchester City di partai puncak Piala FA, giliran Liverpool menjadi korban terbaru. Palace mengangkat trofi Community Shield lagi seusai menang atas Liverpool dalam adu penalti 3-2 di Stadion Wembley, Minggu (10/8/2025) malam WIB. Laga berlanjut ke adu tos-tosan seusai imbang 2-2 selama 90 menit waktu normal.

”Saya menyukai (perasaan) ini,” kata Glasner tentang kejayaan berulang di Wembley. ”Saya harus memberikan kredit besar untuk para pemain. Kami berhasil bangkit dan menentukan laga lewat adu penalti. Kami memperlihatkan level yang sama dengan Liverpool. Itu adalah performa yang hebat. Saya bangga dengan tim ini,” lanjutnya.

Tuah Wembley seolah berpihak kepada Palace. Tim asal London itu tertinggal dua kali lewat aksi pemain debutan Liverpool, penyerang Hugo Ekitike dan bek sayap Jeremie Frimpong. Namun, mereka selalu bisa bangkit. Palace bahkan memaksa babak adu penalti berkat gol penyeimbang pemain sayap Ismailla Sarr pada menit ke-77.

Berbicara penalti di Wembley, Palace lagi-lagi diuntungkan. Masih teringat jelas, aksi heroik Henderson saat menggagalkan penalti pemain City, Omar Marmoush, di pengujung laga pada Mei lalu. Benar saja, sang kiper ternyata masih membawa kepercayaan diri dari peristiwa bersejarah tersebut.

Tiga penendang Liverpool gagal memasukkan bola. Tembakan eksekutor pertama Mohamed Salah tidak menemui sasaran. Penendang selanjutnya Alexis Mac Allister dan Harvel Elliott bisa digagalkan oleh Henderson. Dengan bantuan contekan di botol minum, kiper tim nasional Inggris itu sukses keluar sebagai pahlawan.

Pemain pengganti Crystal Palace Justin Devenny mengeksekusi penalti kelima ke gawang Liverpool dalam pertandingan Community Shield di Stadion Wembley, London, Minggu (10/8/2025) malam WIB. Gelandang 21 tahun itu sukses menjadi penentu kemenangan Palace atas Liverpool dalam adu penalti 3-2.

Saking ajaib kombinasi Henderson dengan Wembley, Pelatih Liverpool Arne Slot sampai kebingungan dengan apa yang terjadi dengan para pemain andalannya. ”Jika tim lain melewatkan dua penalti, seharusnya Anda bisa menang. Kenyataannya kami tidak. Mo (Salah), Alexis, dan Harvey biasanya bisa memasukkan penalti,” ujar Slot.

Laga ditutup dengan sempurna oleh pemain pengganti Palace, Justin Devenny, yang menjadi penendang kelima. Gelandang 21 tahun itu menebus rasa penasarannya lewat keberhasilan penalti. Adapun sentuhan pertamanya di lapangan, setelah masuk pada injury time 90+4, nyaris berubah gol kemenangan Palace.

Sejarah baru kembali tercipta untuk Palace. Setelah merasakan gelar pertama Piala FA pada tiga bulan lalu, mereka berhasil menjuarai Community Shield saat tampil sebagai tim debutan. Tidak tanggung, Eberechi Eze dan rekan-rekan meraih prestasi itu dengan menumbangkan tim juara Liga Inggris dalam dua edisi terakhir.

Rahasia di balik kesuksesan beruntun itu ternyata tidak berhubungan dengan hal-hal mistis dan magis. Glasner membocorkan resep rahasianya seusai selebrasi juara. Kata pelatih asal Perancis itu, dia mempertontonkan video kepada para pemain yang berisi tentang kebahagiaan para pendukung setelah menjuarai Piala FA.

”Saya menunjukkan video itu tepat sebelum kami berangkat ke Wembley (hari ini). Kami menyebut itu sebagai penghargaan emosional. Berdiri di sini, di hadapan para penggemar dengan emosi dan perasaan ini, Anda tidak bisa membeli hal tersebut dengan uang apa pun di dunia. Para penggemar pantas mendapatkan hal terbaik,” jelas Glasner.

Crystal Palace's goalkeeper Dean Henderson reacts after a save during penalty shootout during the FA Community Shield final soccer match between Liverpool and Crystal Palace at Wembley Stadium in London,Sunday, Aug. 10, 2025. (AP Photo/Dave Shopland)

Itu yang membuat Palace tidak pernah menyerah setelah tertinggal untuk kedua kali pada menit ke-21. Mereka justru mampu membalikkan situasi di paruh kedua. ”Si Elang”, julukan Palace, membuat Liverpool sulit keluar dari separuh lapangan sendiri. Mereka pun menyudahi laga dengan percobaan tembakan lebih banyak 14-12.

Slot turut memuji tim lawan. ”Kami menghadapi tim bagus. Mereka selalu menyulitkan kami sejak musim lalu dan itu terulang lagi hari ini. Kami mampu menciptakan banyak peluang, tetapi kami juga kemasukan dua gol yang mana terlalu banyak di laga seperti ini,” tutur pelatih asal Belanda tersebut.

Kekalahan Liverpool tidak lepas dari penampilan buruk Salah. Kandidat terkuat peraih penghargaan pemain terbaik di Inggris edisi 2025 itu seolah menghilang. Dia hanya menciptakan satu tembakan selama 90 menit dan gagal memenangi duel (0-6) dan menciptakan dribel sukses (0-1). Hari buruk semakin lengkap dengan kegagalannya di adu penalti.

Setelah berjaya lagi di Wembley, Palace ternyata belum bisa tenang. Mereka masih memiliki satu pertarungan lagi sebelum musim baru dimulai. Si Elang sedang menunggu putusan banding dari Pengadilan Arbitrase Olahraga di Lausanne setelah kehilangan spot Liga Europa. Putusan akan keluar pada Senin ini. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan