Felix dan Farrel memimpin di kualifikasi, tetapi tertinggal di final. Akhir perjalanan tim renang tidak seindah di awal, tetapi hasil keseluruhan sudah cukup baik.
15 Des 2025 22:12 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
BANGKOK, KOMPAS - Hujan emas tim renang Indonesia di hari-hari awal tidak berlanjut hingga penghujung lomba SEA Games Thailand 2025. Potensi dua emas di hari terakhir, dari Felix Viktor Iberle dan Farrel Armandio Tangkas, melayang. Walaupun terkesan antiklimaks, tim renang patut diapresiasi dari hasil keseluruhan.
Paceklik emas terjadi pada hari terakhir perlombaan renang di Stadion SAT, Bangkok, Thailand, Senin (15/12/2025). Felix di 50 meter gaya dada putra dan Farrel di 200 meter gaya punggung putra sempat memuncaki peringkat kualifikasi pada pagi hari. Namun, di final pada malam hari, keduanya gagal berjaya.
Felix gagal mempertahankan emas 50 meter gaya dada karena hanya mampu finis dengan catatan 28,02 detik. Perenang blasteran Jerman itu tertinggal dari wakil Singapura, Chun Ho Chan (27,68 detik) dan wakil Malaysia, Andrew Zheng Yen Goh (27,96 detik). Dia harus puas dengan medali perunggu.
Felix merupakan salah satu perenang yang ditargetkan meraih emas oleh Pengurus Besar Akutik Indonesia. "Tidak terlalu bagus. Terkadang-kadang, rencana tidak berjalan sesuai harapan. Saya tidak merasa terlalu baik (dalam penampilan hari ini)," kata Felix yang mencatat waktu lebih baik saat kualifikasi (28 detik).
Harapan emas dari Farrel juga pupus. Dia sempat memimpin di kualifikasi dengan unggul hampir tiga detik dari pesaing dekat. Namun, perenang veteran Singapura, Zheng Wen Quah, ternyata menyiapkan kejutan di final. Berlomba dari jalur satu, di sisi paling kanan, Zheng finis tercepat dengan catata 2 menit 0,62 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/15/8da43e26a7b944eb9f7b032d707bc698-DSC09179.JPG)
Zheng ternyata menyimpan tenaga saat kualifikasi. Terbukti, waktunya di kualifikasi dan final terpaut hampir sepuluh detik. Beberapa perenang top banyak yang sengaja tampil tidak maksimal di kualifikasi. Selain bisa menghemat tenaga, mereka juga ingin berlomba dari jalur paling pojok agar tidak terpantau perenang lain.
Farrel tidak bisa berbuat banyak, harus puas dengan raihan perak lewat catatan 2 menit 1,63 detik. Catatan terbaik dalam karier Farrel yang merupakan rekor nasional 200 meter punggung, 2 menit 1,16 detik, bahkan tidak bisa melewati waktu Zheng. "Jadi aku nggak bisa lihat Zheng juga, tetapi ya sudah lah. Tidak apa-apa," katanya.
Lewat hasil itu, tim renang berhasil mengumpulkan total 3 emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Itu sudah melampaui target Kementerian Pemuda dan Olahraga (3 emas) dan pencapaian di edisi Kamboja 2023 (3 emas, 1 perak, 3 perunggu). Adapun tiga emas Indonesia datang pada dua hari awal lomba lewat Jason Donovan Yusuf (2 emas) dan Masniari Wolf.
Prestasi Indonesia memang terlihat stagnan dengan perolehan tiga emas. Namun, prestasi tidak bisa hanya dilihat hanya dari jumlah medali. Penting untuk menyertakan konteks. Walaupun emas tidak bertambah, tim renang benar-benar mampu memperlihatkan potensi terbaik dari para perenang muda. Regenerasi mulai terlihat.
Indonesia tidak lagi bertumpu terhadap perenang veteran I Gede Siman Sudartawa. Peraih sembilan emas SEA Games tersebut hanya menyumbang satu perunggu di Thailand. Peran itu digantikan Jason, 18 tahun, yang mencuri emas di dua nomor spesialis Siman, yaitu 50 meter dan 100 meter punggung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/15/82388a4e18f22d30d560d3b94f9e4f24-DSC09977.JPG)
Ini momentum karena banyak yang muda-muda. Saya berharap ke depan ini dukungan pemerintah. Jangan anak-anak ini nggak punya arah tujuan.
Siman merupakan perenang terakhir di tim Indonesia yang lahir pada 90-an. Sang legenda hidup telah memutuskan pensiun di Thailand. Sekarang, semua perenang merupakan kelahiran 2000 ke atas. Salah satu perenang belia yang paling menjanjikan, selain Jason, adalah Adelia Chantika Aulia (14).
Chantika sudah meraih perunggu 200 meter gaya punggung putri di usia yang masih sangat muda. Sang debutan juga menjadi penantang medali di beberapa nomor, seperti di 100 meter punggung. "Bayangkan dia di SEA Games ke depan. Dia bisa menjadi tulang punggung Indonesia," kata pelatih tim renang Indonesia Albert C. Sutanto.
Medali-medali perak saat ini, di nomor 100 kupu-kupu putra (Joe Aditya) dan 200 meter punggung putra (Farrel) bisa berubah jadi emas pada masa depan. Seperti diketahui, Zheng yang sudah berusia 29 tahun berniat pensiun setelah SEA Games ini. Zheng merupakan penguasa di nomor-nomor tersebut.
Perenang 18 tahun, Nadia Aisha Nurzami, turut unjuk gigi dengan memecahkan dua kali rekornas 50 meter gaya bebas putri. Walaupun belum berhasil meraih medali, Nadia sudah menunjukkan potensi besarnya. Menariknya, rekornas sebelumnya adalah milik Chantika. Dua bintang baru itu sudah menanti untuk diorbitkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/c0a1180f52ce81110ef3256ba7b5999d-FAK_5845.jpg)
"Ini momentum karena banyak yang muda-muda. Saya berharap ke depan ini dukungan pemerintah. Jangan anak-anak ini nggak punya arah tujuan. Jadi (idealnya) memang harus kita pelatnaskan terus. Nah yang medali-medali ini harus dibina terus untuk proyeksi ke Asian Games atau lolos ke Olimpiade," tegas Albert.
Menurut Albert, prestasi tim di Thailand sudah melebihi ekspektasi dengan kondisi persiapan terbatas. Pelatnas renang sempat terganggu efisiensi biaya dari pemerintah. Mereka sempat hanya bisa memfasilitasi atlet untuk program pelatnas. Adapun program itu sangat minim perlombaan dan tidak ada kamp latihan di luar negeri.
Sampaikan dukungan Anda untuk atlet Indonesia
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Retma Wati