Dari kamera CCTV, pergerakan pelaku terpantau bergerak dari Monas menuju Salemba. Aktivis Kontras, Andrie Yunus, diduga sudah diikuti sejak keluar dari Kantor YLBHI.
16 Mar 2026 16:49 WIB · Politik & Hukum
KOMPAS/HARIS FIRDAUS
JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 86 kamera pemantau (CCTV) diteliti untuk mendeteksi pergerakan pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus. Dari analisis tersebut, para pelaku diduga merupakan orang terlatih karena terbilang tenang dalam menjalankan aksinya.
Hal ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (16/3/2026). Dia mengatakan, dalam menelusuri pergerakan pelaku, pihaknya meneliti 86 kamera pemantau yang tersebar di jalur yang dilalui pelaku.
”Dari 86 CCTV itu, terekam 2.610 gambar dalam bentuk video dengan durasi 10.320 menit. Oleh karena itu, kami membutuhkan waktu beberapa hari untuk menganalisis rekaman video tersebut,” kata Iman.
Hasilnya, terduga pelaku yang terdiri dari empat orang tersebut telah mengikuti pergerakan korban sejak sebelum kejadian penyiraman air keras. ”Mereka bergerak dari arah Jakarta Selatan menuju titik kumpul, yakni di depan Stasiun Gambir,” katanya.
Dengan menggunakan dua sepeda motor, keempat pelaku menyusuri Jalan Ir H Juanda menuju Jalan Medan Merdeka Barat, lalu ke arah Tugu Tani. ”Mereka berkendara melingkari Monas ke Tugu Tani,” ujar Iman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/216be388186016f540cb8fde91fb8754-Direktur_Reserse_Kriminal_Umum_Polda_Metro_Jaya_Komisaris_Besar_Iman_Imanuddin.JPG)
Dari sana, mereka mengikuti korban sejak dari Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), lalu membuntuti korban yang mengisi bahan bakar di SPBU Cikini. Sembari menunggu korban mengisi bensin, para pelaku membuntuti korban di Jalan Diponegoro hingga di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.
”Lalu, di Jalan Salemba 1, tepatnya di persimpangan Talang, para pelaku melakukan aksinya menyiram korban dengan asam kuat (air keras),” ucap Iman.
Setelah menyiram korban, kata Iman, pelaku melarikan diri ke arah berbeda. Pelaku pertama dan kedua yang saling berboncengan mengarah ke Jalan Salemba Raya menuju Senin, kemudian ke arah Jalan Kramat jaya, menuju Tugu Tani. ”Dari kawasan Tugu Tani, mereka bergerak ke arah Stasiun Gondangdia. Dari sana menuju ke Jakarta Selatan,” katanya.
Adapun sepeda motor kedua yang ditumpangi pelaku ketiga dan keempat kabur dari Salemba menuju Jalan Pangeran Antasari II, Jakarta Selatan, lalu ke Jalan Matraman dan berlanjut ke Jatinegara, Jakarta Timur.
Dari sana, mereka ke Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta timur. Dari rekaman CCTV tersebut, setelah kejadian, salah satu pelaku mengganti pakaian dan berpencar ke wilayah Kalibata, Ragunan, dan Bogor.
Dari analisis tersebut, Iman menduga keempat terduga pelaku merupakan orang terlatih. ”Mereka (pelaku) memiliki ketenangan dalam melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain menuju ke lokasi kejadian. Dan, setelah melakukan aksinya mereka baru melaju dengan kecepatan tinggi,” ujar Iman.
Iman bersyukur karena beberapa CCTV yang dijadikan alat bukti memiliki resolusi yang cukup tinggi sehingga di beberapa tempat, pergerakan pelaku terekam dengan cukup jelas.
”Nomor polisi kendaraan yang digunakan pun terekam. Hanya saja, kami masih menganalisis karena ada 260 kemungkinan dari penggunaan pelat nomor tersebut,” ucapnya.
Walau sudah mengantongi alat bukti dan pergerakan pelaku, polisi mengaku belum menangkap para pelaku. ”Kami belum melakukan upaya paksa karena masih menunggu hasil uji forensik dari sidik jari atau DNA yang tertinggal di wadah air keras dan helm yang ditinggalkan pelaku,” ujar Iman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/dfd34b47d42dad63a46241dbc089f7a5-1001436215.jpg)
Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Reynold EP Hutagalung mengatakan, hingga saat ini, pihaknya sudah memeriksa tujuh saksi. Empat saksi, di antaranya, pemilik CCTV, warga yang menolong korban, dan saksi yang turut mengejar pelaku.
Adapun kondisi korban mengalami luka bakar di wajah bagian kanan hingga dada, lalu luka bakar di kedua tangannya.
Selain itu, pihaknya juga sudah membawa sejumlah alat bukti, termasuk helm yang ditemukan di Jalan Salemba menuju RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). ”Helm itu cocok dengan helm yang digunakan pelaku saat mengendarai motornya,” kata Reynold. Saat ini helm tersebut sudah dibawa ke Puslabfor Bareskrim Polri untuk keperluan pemeriksaan sidik jari dan DNA.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri menuturkan, jajarannya berkomitmen untuk mengusut perkara ini secara profesional, transparan, dan akuntabel sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. ”Setiap langkah yang dilakukan pada fakta alat bukti dan hasil pendalaman penyidik secara obyektif,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/8cbed96c96891eff11470057ac8d9d6b-IMG_4813.jpeg)
Perkembangan penanganan perkara akan disampaikan secara berkala dalam waktu satu sampai dua hari ke depan sesuai dengan hasil penyidikan yang berkembang. Asep pun mengajak semua pihak untuk bersama menjaga situasi tetap kondusif dan tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
”Mohon doa dan dukungan agar penanganan perkara ini dapat diselesaikan dengan tuntas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ucap Asep.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim