Hasil Liga Champions: Goyahnya Reputasi ”Liga Terbaik Dunia” Liga Inggris

Tak ada satu pun dari enam wakil Inggris di Liga Champions yang meraih kemenangan pada laga pertama babak 16 besar. Klaim liga terbaik dunia pun dipertanyakan.

12 Mar 2026 11:56 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

Kemenangan besar Real Madrid atas Manchester City terasa seperti pukulan telak yang menggema jauh melampaui dinding Santiago Bernabeu. Pertandingan itu memuncaki realitas klub Liga Inggris musim ini di Liga Champions, mereka tak sebaik yang mereka kira. Hanya dalam waktu 24 jam, klaim Inggris sebagai kompetisi terkuat di dunia tergoyahkan, tergerus oleh performa yang jauh dari standar yang mereka banggakan.

City, yang selama ini digadang‑gadang sebagai simbol dominasi Inggris di Eropa, berada dalam posisi yang sulit. Kekalahan telak City di Bernabeu, 0-3, Kamis (12/3/2026) dini hari WIB, terjadi hanya sehari setelah Spurs dihajar Atletico Madrid 2-5, juara bertahan Liga Inggris Liverpool dibekuk Galatasaray 0-1, sedangkan Newcastle United bermain imbang 1-1 saat menjamu Barcelona.

Pada hari yang sama, pemuncak klasemen Liga Inggris, Arsenal, juga hanya mampu bermain imbang 1-1 di kandang Leverkusen, klub yang kini menghuni peringkat keenam klasemen Bundesliga. Nasib naas juga dialami Chelsea yang dibekuk klub Perancis, Paris Saint-Germain, 2-5.

Laga di Bernabeu menunjukkan DNA Real Madrid yang sesungguhnya, sebagai raja Liga Champions dengan 15 gelar juara. Mereka tampil dengan ketenangan khas tim yang sudah sering menghadapi momen besar. Federico Valverde mencetak hattrick pada babak pertama, sebuah gambaran betapa tajamnya Real dalam memanfaatkan celah dan rapuhnya City di tengah tekanan.

Rangkaian hasil laga pertama babak 16 besar Liga Champions ini bukan sebuah kebetulan, melainkan potret situasi yang lebih luas. Chelsea menunjukkan ketidakstabilan ketika mereka runtuh di babak kedua menghadapi PSG.

Gawang Chelsea yang dijaga kiper Filip Jorgensen kebobolan gol keempat PSG pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions di Paris, Kamis (12/3/2026) dini hari WIB.

Liverpool tersandung oleh klub Turki, sementara Arsenal hanya mampu meraih hasil imbang di Jerman yang terasa lebih sebagai upaya bertahan hidup ketimbang pernyataan ambisi. Pasukan Mikel Arteta membutuhkan tendangan penalti Kai Havertz pada menit terakhir untuk selamat dari kekalahan setelah tertinggal oleh gol Robert Andrich menit ke-46.

Klaim Liga Inggris sebagai liga terbaik di dunia salah satunya didasari oleh kenyataan performa mereka sebelum babak 16 besar. Musim ini mereka mendominasi, dengan enam klub lolos ke babak 16 besar, lima di antaranya lolos langsung dengan meraih posisi pada delapan besar fase liga.

Arsenal bahkan tampil fenomenal. Mereka mencetak sejarah dengan meraih hasil sempurna delapan kemenangan pada fase liga. Hasil di Leverkusen mengakhiri rekor tersebut. Sebelum laga, menurut analisis superkomputer Opta, Arsenal memiliki peluang 86,7 persen untuk lolos, Liverpool 79 persen, City 69 persen, Newcastle 36,4 persen, sedangkan Spurs 35,5 persen.

Akan tetapi, setelah pertandingan pekan ini, klub yang bisa dinilai masih berpeluang besar lolos ke babak perempat final tinggal Arsenal yang akan menjamu Leverkusen pekan depan, yaitu dengan 77,9 persen. Liverpool juga masih memiliki peluang lebih besar dibandingkan tim lain karena menjamu Galatasaray di Anfield, dengan 53,8 persen kans lolos.

Adapun City, Chelsea, Spurs, meskipun akan bermain di kandang, bakal kesulitan untuk membalik ketertinggalan. City hanya memiliki kans 9,4 persen lolos, Chelsea 7,3 persen, dan Spurs 3,3 persen.

Ekspresi gelandang Arsenal Kai Havertz (tengah) setelah terkena kartu kuning pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions melawan Bayer Leverkusen di Leverkusen, Rabu (11/3/2026).

Newcastle, meskipun mengimbangi Barca, harus bermain di kandang lawan pada laga kedua. Menurut Opta, peluang mereka masih relatif lebih baik, yaitu 32,3 persen. Bisa dilihat, skor prediksi enam klub Inggris kini lebih rendah dibandingkan sebelum laga pertama.

Mantan pemain Inggris, Stephen Warnock, sepakat dengan prediksi Opta. ”Saya pikir peluangnya ada di tangan Liverpool dan Arsenal, jauh lebih besar daripada tim lain,” kata Warnock kepada BBC Sport.

”Laga Newcastle bisa dikatakan masih imbang, sedangkan defisit gol terlalu besar bagi tim-tim lain yang kalah, karena kita bisa melihat tim-tim yang mereka hadapi akan kembali mencetak gol. Lini belakang Chelsea melakukan banyak kesalahan. City rentan di lini belakang. Spurs benar-benar kacau,” tambah Warnock.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa klub Liga Inggris kesulitan pada babak 16 besar Liga Champions? Sulit memang menarik kesimpulan dari hanya satu laga. Namun, hal itu setidaknya memperlihatkan bahwa klub Liga Inggris tak boleh memandang sebelah mata klub-klub Eropa lain, bahkan yang bukan berasal dari lima liga top.

Banyak teori bermunculan, misalnya dari kelelahan fisik dan mental karena tempo Liga Primer yang berintensitas tinggi, ditambah kurangnya jeda pada musim dingin. Ada juga klaim karena keterbatasan skuad, dengan jumlah laga yang banyak membutuhkan skuad yang dalam dan berkualitas tinggi, yang tidak dimiliki semua tim Inggris, belum karena masalah cedera dan skorsing.

Spain Champions League Soccer

Tim Inggris juga bertemu lawan relatif sulit, terutama City, Chelsea, Spurs, dan Newcastle. Alasan lainnya adalah karena performa bagus pada fase liga membuat klub-klub Inggris harus menjalani laga tandang pada leg pertama, yang biasanya dianggap keuntungan karena leg kedua sebagai partai penentu akan dimainkan di kandang sendiri. Sayangnya, performa tandang klub-klub Inggris tersebut ternyata jauh dari standar sehingga mereka malah bakal kesulitan untuk membalik keadaan pada leg kedua.

Entah apa alasannya, performa klub Liga Inggris tidak seharusnya begitu buruk kalau mengikuti klaim mereka sebagai liga terbaik dunia. Pada akhirnya, kompetisi Eropa menuntut sesuatu yang lebih: kecerdasan dan fleksibilitas taktik serta ketenangan dalam menghadapi tekanan di panggung terbesar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji