Menurut Trump, ada beberapa hal yang sudah disetujui AS-China. Namun, isu lain belum mencapai kesepakatan, misalnya terkait penjualan cip ke China.
30 Okt 2025 12:46 WIB · Internasional
AP
BUSAN, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akhirnya bertemu di Busan, Korea Selatan, Kamis (20/10/2025). Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi kedua pemimpin untuk menstabilkan hubungan setelah ketegangan akibat perang dagang yang berkepanjangan. Namun, hasil pertemuan tersebut belum jelas.
Trump dan Xi bertemu menjelang perhelatan konferensi tingkat tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2025 di Kota Gyeongju. Busan adalah kota pelabuhan yang terletak sekitar 76 kilometer dari Gyeongju. Helikopter Trump mendarat pukul 10.17 waktu setempat, sedangkan pesawat kepresidenan Air China mendarat 10 menit kemudian.
Pertemuan berlangsung sekitar pukul 11.00 waktu Busan atau 09.00 WIB. The Guardian melaporkan, pertemuan berlangsung selama 1 jam dan 40 menit. Trump dan Xi keluar gedung lalu berjabat tangan dan masuk ke mobil masing-masing.
”Kami akan mengadakan pertemuan yang sangat sukses, saya yakin. Tetapi, dia adalah seorang negosiator yang sangat tangguh,” kata Trump saat mereka pertama bertemu dan berjabat tangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/08ccad5f-8b97-441d-a85f-d312ea084f28_jpg.jpg)
Kedua pemimpin lalu berpindah ke ruangan. Saat keduanya duduk, Trump kembali mengapresiasi pertemuan tersebut. Xi selanjutnya membacakan pernyataan yang berisi kesediaan untuk bekerja sama meskipun terdapat perbedaan.
”Mengingat kondisi nasional kita yang berbeda, kita tidak selalu sependapat. Wajar jika kedua negara dengan ekonomi terbesar dunia ini sesekali berselisih,” tutur Xi melalui seorang penerjemah.
Xi turut menyoroti keberhasilan tim dari China dan AS mencapai konsensus dasar dalam menghadapi isu-isu utama di Kuala Lumpur, Malaysia, pekan lalu. Dia meyakini, pembangunan China berjalan seiring dengan visi Trump, Make America Great Again (MAGA).
Pertemuan itu juga membahas berbagai masalah utama di kawasan, tetapi tidak dirinci secara detail masalah yang dimaksud. Walakin, Xi menawarkan agar China dan AS, sebagai dua negara besar, untuk sama-sama memikul tanggung jawab dan bekerja sama mengatasi masalah global untuk kebaikan kolektif.
”China dan AS semestinya menjadi mitra dan teman. Itulah yang diajarkan sejarah dan yang dibutuhkan realitas. Saya siap untuk bekerja bersama Anda untuk membangun fondasi solid untuk hubungan China-AS dan menciptakan suasana kondusif untuk perkembangan kedua negara,” tutur Xi.
Baik Trump maupun Xi masing-masing didampingi enam pejabat tinggi. Dari AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, Kepala Staf Susie Wiles, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan Duta Besar AS untuk China David Perdue hadir.
Sementara itu, Xi datang bersama Menteri Luar Negeri Wang Yi, Wakil Menteri Luar Negeri Ma Zhaoxu, Menteri Perdagangan Wang Wentao, Wakil Perdana Menteri He Lifeng, dan Kepala Staf Cai Qi. Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Zheng Shanjie juga ada.
Ini adalah pertemuan tatap muka pertama Trump dan Xi setelah bertemu di Jepang pada 2019. Sejak Trump terpilih kembali sebagai presiden, Januari lalu, mereka telah berbicara melalui sambungan telepon sebanyak tiga kali dan beberapa kali berkirim surat.
Setelah pertemuan itu selesai, Trump dan Xi tidak memberi komentar apa pun pada media. Trump dijadwalkan langsung pulang ke Washington DC, AS. Xi akan lanjut mengikuti KTT APEC 2025.
Gedung Putih belum merilis detail lengkap dari pertemuan tersebut. Saat berbicara kepada para wartawan di pesawat Air Force One, Trump menggambarkan pertemuan mereka ”luar biasa”. Sejumlah keputusan telah dibuat.
”Kami telah mencapai kesimpulan tentang banyak poin yang sangat penting, dan kami akan menyampaikannya kepada Anda sebentar lagi,” ujar Trump.
Mengenai obat terlarang fentanil, kata Trump, Beijing akan bekerja keras untuk menghentikan alirannya ke AS. Trump setuju memangkas tarif terkait fentanil. Dengan demikian, tarif total untuk China turun dari 57 persen menjadi 47 persen.
China juga akan segera mulai membeli kedelai dari AS setelah sempat mengalihkan pembelian ke negara-negara Amerika Selatan. Menjelang KTT APEC 2025, China tercatat membeli kargo kedelai AS.
Trump dan Xi juga membahas perang di Ukraina. ”Ukraina muncul dengan sangat kuat. Kami telah membicarakannya sejak lama, dan kami berdua akan bekerja sama untuk melihat apakah kami dapat menyelesaikan sesuatu,” ucap Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/4159e32a-213e-47c8-860c-3313d030dd8a_jpg.jpg)
Trump melanjutkan, kedua pemimpin menyetujui hampir semua hal. Tetapi, ada beberapa hal yang belum disepakati, termasuk penjualan cip oleh Nvidia. Sebelumnya, AS melarang ekspor cip canggih ke China dengan alasan keamanan nasional.
”Kami berfokus pada pengendalian ekspor logam tanah jarang China, dan mereka akan terus melakukannya, yang merupakan hal yang cukup penting,” kata Trump.
Baru-baru ini, China membatasi ekspor logam tanah jarang (LTJ) yang sangat penting untuk industri berteknologi tinggi. China mendominasi sekitar 70 persen penambangan LTJ dan 90 persen pemrosesan LTJ di dunia, menurut Center for Strategic and International Studies di Washington.
Carsten Holz, ekonom di Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong, mengatakan, AS memiliki posisi tawar yang lebih lemah terkait LTJ. Washington bergantung pada mineral penting dari China.
Dalam jamuan makan malam bersama pemimpin anggota APEC lainnya, Rabu (29/10/2025), Trump tertangkap kamera sedang berbicara di mikrofon tentang pertemuan dengan Xi nanti. Menurut dia, pertemuan akan berlangsung sekitar tiga atau empat jam. Nyatanya, pertemuan berlangsung tidak sampai dua jam.
”Pertemuan yang lebih singkat dari perkiraan tersebut kemungkinan menunjukkan bahwa kedua belah pihak hanya fokus pada isu-isu yang telah disepakati sebelumnya,” kata Shan Guo, pengamat di Hutong Research, Shanghai, kepada Al Jazeera.
Negosiasi kesepakatan perdagangan AS-China sebetulnya tengah berpacu dengan waktu. Batas waktu akan negosiasi berakhir pada 10 November 2025 meski AS telah memperkirakan akan ada penambahan waktu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/30/f33712735562ed7a0dba63431cac9b5a-000_82G87YL.jpg)
Gedung Putih telah mengisyaratkan harapan agar pertemuan di Busan menjadi pembuka bagi pertemuan selanjutnya. Trump sudah menyatakan kemungkinan bahwa kedua pemimpin akan saling berkunjung ke negara masing-masing nanti.
Dalam pernyataan terbaru di Air Force One, Trump mengatakan akan berkunjung ke China pada April 2026. Menurut dia, Xi juga akan mengunjungi AS setelah itu.
Namun, AS-China masih mempunyai isu lain yang menjadi ganjalan bagi hubungan kedua negara. Selama ini, Beijing tidak menyukai langkah AS yang terkesan ”mendukung” kemerdekaan Taiwan. Isu ini tidak muncul dalam pembicaraan Trump-Xi.
Adapun beberapa menit sebelum pertemuan di Busan, Trump memerintahkan Pentagon untuk memulai uji coba senjata nuklir setara dengan China dan Rusia. Langkah ini bisa menjadi ganjalan baru. Trump tidak memberikan detail atau menanggapi pertanyaan dari seorang jurnalis tentang pengumuman nuklirnya yang mengejutkan itu. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria Leba, Sekar Gandhawangi dari Beijing, ChinaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto