Petenis Tunisia, Ons Jabeur, tak pernah menjuarai turnamen WTA Doha. Namun, dia selalu kembali ke sana karena diterima dengan hangat oleh publik Qatar.
11 Feb 2025 14:25 WIB · Olahraga
Tak seperti Iga Swiatek yang tiga kali juara secara beruntun, hasil terbaik Ons Jabeur pada turnamen WTA Doha hanya dua kali perempat final. Akan tetapi, salah satu ajang tenis di Timur Tengah itu begitu melekat di hati Jabeur.
Jabeur melaju ke babak kedua WTA 1000 Doha 2025 setelah mengalahkan McCartney Kessler dengan skor 6-2, 6-0 pada babak pertama yang berlangsung Senin (10/2/2025). Di babak kedua, petenis Tunisia ini akan berhadapan dengan unggulan ketujuh asal China, Zheng Qin Wei.
Penampilan Jabeur di Doha menjadi yang ketujuh sejak dia pertama kali tampil pada 2012 karena diberi wildcard oleh panitia. Namun, dalam debutnya itu dan pada tahun-tahun berikutnya (kecuali saat absen pada 2014) hingga 2019, Jabeur selalu kalah pada laga awal. Kecuali pada 2016 karena tampil sejak fase kualifikasi, Jabeur selalu bermain sebagai petenis wildcard.
”Saat itu terasa sangat sulit. Saya mendapat undian berat dan tidak punya pengalaman, tetapi tuan rumah tidak menyerah pada saya dengan terus memberi wildcard. Saya pun merasa sangat diterima oleh publik Doha,” tutur Jabeur dalam laman resmi WTA.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/58718971-f07e-4286-9a6e-99f74da53564_jpg.jpg)
Demi bisa merasakan kemenangan, Jabeur bermain juga pada nomor ganda di Doha, yaitu pada 2012, 2016, dan 2018. Dia berpartner dengan Fatimah Al-Nabani (Oman) pada 2012 dan bersama pemain Qatar pada dua kesempatan lain, yaitu Olla Mourad pada 2016 dan Mubaraka Al Naimi, dua tahun berikutnya. Namun, Jabeur tetap tak bisa merasakan kemenangan.
Berselang tujuh tahun sejak pertama kali menginjakkan kaki di Khalifa International Tennis and Squash Complex dan setelah sepuluh kali kalah beruntun (tanpa menang satu kali pun), momen bagi Jabeur di Doha akhirnya datang pada 2019.
Kemenangan pertama dirasakannya bersama Alison Riske saat mengalahkan Nicole Melichar-Martinez/Kveta Peschke pada babak pertama dengan skor 2-6, 6-3, 11-9 setelah menggagalkan match point lawan. Jabeur/Riske pun bertahan hingga semifinal.
Setahun kemudian, Jabeur akhirnya memperoleh kemenangan pada nomor tunggal, tiga kali beruntun, hingga lolos ke perempat final. Dia pun menyebut performanya pada 2020 menjadi yang terbaik di Doha. Petenis yang saat ini berusia 30 tahun tersebut bahkan masih menyimpan video ketika penonton menyambut kemenangannya. Pada tahun yang sama, Jabeur menembus perempat final WTA 1000 untuk kedua kalinya, yaitu di Cincinnati.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/992e8dce-274e-4609-b3e0-665deea12df5_jpg.jpg)
Perempat final kedua di Doha dicapai pada 2022, sebelum dia absen pada tahun berikutnya. Dua perempat final itu berbeda jauh dengan pencapaian Swiatek di Doha yang menjadi juara pada 2022-2024. Petenis Polandia ini membuka jalan untuk juara empat kali beruntun ketika memenangi babak kedua atas Maria Sakkari, 6-3, 6-2.
Dalam rentang 2022-2023, Jabeur mendapat pencapaian terbaik dalam kariernya sebagai petenis profesional, yaitu dengan menjuarai WTA 1000 Madrid 2022, menjadi finalis Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2022, serta finalis Wimbledon 2022 dan 2023. Jabeur pun menempati posisi tertinggi dalam ranking dunia yang pernah ditempatnya, yaitu peringkat kedua. Semua itu menjadikannya sebagai petenis Afrika dan bangsa Arab dengan prestasi tertinggi.
Namun, pada musim kompetisi 2024, performanya terganggu cedera bahu dan lutut hingga absen pada empat turnamen WTA 1000 dan AS Terbuka. Maka, ketika bisa bermain baik, Jabeur, yang saat ini menempati ranking ke-35 dunia, sangat bersyukur. Dia menunjukkan itu, salah satunya, saat tampil pada WTA 500 Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pekan lalu. Meskipun kalah dari Elena Rybakina pada perempat final, Jabeur bisa memperlihatkan permainan terbaik yang hilang selama setahun sebelumnya.
”Bisa bermain pada level tinggi saat melawan petenis ranking sepuluh besar dunia sangat berarti bagi saya. Itu memberi kepercayaan diri yang besar untuk tampil di sini,” kata petenis yang mendapat julukan ”Minister of Happyness” itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/11/5edd56ca-42ad-41b1-8538-a8ae53cfb609_jpg.jpg)
Jabeur membutuhkan rasa percaya diri itu dan performa yang lebih baik saat melawan Zheng, Selasa. Apalagi, dia selalu kalah dalam dua pertemuan dari peraih medali emas tunggal putri Olimpiade Paris 2024 tersebut, yakni di WTA Toronto 2022 dan AS Terbuka 2023.
Bisa bermain pada level tinggi saat melawan petenis ranking sepuluh besar dunia sangat berarti bagi saya.
Selain usia yang bertambah, Jabeur bercerita bahwa dirinya hari ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia berusaha untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri, faktor yang membuatnya kalah pada tiga final Grand Slam.
”Sikap seperti itu ternyata tidak membantu. Saya berharap perubahan di lapangan dan luar lapangan bisa membawa saya pada hasil yang lebih baik. Saya yakin bisa kembali ke performa terbaik dengan tidak melihat lagi ke belakang,” kata petenis yang tetap memelihara keinginan untuk menjuarai Grand Slam tersebut. (AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra