Selama tiga triwulan beruntun, Neraca Pembayaran Indonesia mencatatkan defisit. Ada apa? Kok bisa?
24 Nov 2025 14:27 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
JAKARTA, KOMPAS — Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI mencatatkan defisit senilai 6,4 miliar dollar AS pada triwulan III-2025. Ini merupakan ketiga kalinya NPI mengalami defisit secara beruntun sepanjang 2025 sekaligus menandai pelemahan ketahanan eksternal domestik.
Sejak triwulan I-2025, NPI defisit senilai 0,7 miliar dollar AS. Defisit berlanjut dan bahkan melebar menjadi 6,7 miliar dollar AS pada triwulan II-2025. Pada triwulan III-2025, NPI defisit 6,4 miliar dollar AS. Alhasil, hingga September 2025, defisit NPI mencapai 13,91 miliar dollar AS.
Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, memperkirakan, tren defisit NPI kemungkinan besar masih akan berlanjut sampai dengan akhir 2025. Padahal, selama ini, NPI cenderung lebih banyak mencatatkan kinerja surplus, alih-alih defisit.
Selama periode 1981-1996, misalnya, NPI mencatatkan surplus sebanyak 12 kali, dan defisit hanya 4 kali. Pada 1997 dan 1998, NPI mengalami defisit terlebar sepanjang sejarah. Lalu, selama periode 1999-2024, NPI membukukan surplus sebanyak 18 kali dan defisit 7 kali.
”Ketahanan eksternal cukup jelas mengalami penurunan, meski belum bisa dikatakan sangat lemah. Kondisi ini cukup rentan, terlebih jika ada gejolak eksternal pada tahun mendatang,” kata Awalil pada Senin (24/11/2025), saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/24/e3725110df1079d00d1242ba9152d56f-Screenshot_2025_11_24_123112.png)
Merujuk laporan NPI yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), defisit NPI pada triwulan III-2025 dipengaruhi oleh defisit neraca transaksi finansial yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus neraca transaksi berjalan. Defisit tersebut seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global.
Neraca transaksi berjalan membukukan surplus senilai 4 miliar dollar AS atau 1,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ini berbanding terbalik dengan triwulan sebelumnya yang menorehkan defisit 2,7 miliar dollar AS (0,8 persen PDB).
Surplus neraca transaksi berjalan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang disertai dengan penurunan defisit neraca jasa. Sejalan dengan itu, neraca pendapatan primer turut mengalami penyusutan defisit.
Defisit neraca transaksi finansial justru melebar hampir 150 persen, dari 3,58 miliar dollar AS di triwulan II-2025 menjadi 8,14 miliar dollar AS di triwulan III-2025.
Sebaliknya, defisit neraca transaksi finansial justru melebar hampir 150 persen, dari 3,58 miliar dollar AS di triwulan II-2025 menjadi 8,14 miliar dollar AS di triwulan III-2025. Pelebaran ini disebabkan oleh defisit investasi portofolio dan lainnya yang melebihi surplus investasi langsung.
Padahal, Awalil mencatat, selama belasan tahun neraca transaksi finansial hampir selalu mencatatkan surplus. Namun, nilainya turun signifikan pada 2020 dan 2021. Pada 2022, transaksi finansial mengalami defisit senilai 9,16 miliar dollar AS.
Selanjutnya, neraca transaksi finansial kembali mencatatkan surplus senilai 9,85 miliar dollar AS pada 2023 dan 17,63 miliar dollar AS pada 2024. Sebaliknya, selama triwulan I hingga triwulan III-2025, neraca transaksi finansial menorehkan defisit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/11/c4b910d60bc43230d1228f713daf9bcf-20250811_090342.jpg)
Secara kumulatif, defisit transaksi finansial selama sembilan bulan telah mencapai 12,16 miliar dollar AS. Ini disebabkan oleh rendahnya aliran modal asing yang masuk, yakni 5,49 miliar dollar AS. Padahal, selama 2024, arus modal asing masuk mencapai 44,63 miliar dollar AS.
”Bisa dikatakan, Indonesia pada tahun ini tidak menarik bagi modal asing. Mereka lebih memilih negara lain, atau balik ke negaranya. Ditambah perubahan portofolio yang cukup signifikan pada emas dan kripto, yang mengurangi alokasi jenis investasi portofolio dan investasi lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, investor pasar keuangan global saat ini cenderung beralih ke aset keuangan yang relatif aman (safe haven), seperti emas, kripto, serta kurs dollar AS. Sebaliknya, para investor mengurangi kepemilikan surat utang, termasuk obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpendapat, defisit NPI dan transaksi finansial berpotensi mengganjal pertumbuhan jika dibiarkan berlarut-larut tanpa respons kebijakan yang jelas.
”Defisit transaksi finansial menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan sebagian bantalan pembiayaan eksternal melalui portofolio, pinjaman, dan instrumen keuangan lain,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/85cc06f59f4348bf715aa15de0019713-20251119TOK16.jpg)
Besarnya defisit NPI, menurut Syafruddin, cenderung menekan nilai tukar rupiah, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, dan meningkatkan volatilitas pasar saham. Selain itu, investor global akan menuntut premi risiko lebih tinggi sehingga biaya pendanaan pemerintah dan korporasi naik.
Akibatnya, kualitas ketahanan eksternal sangat bergantung pada kemampuan otoritas menjaga kepercayaan investor dan mengelola arus modal. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan kenaikan suku bunga acuan ditempuh sebagai upaya untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Syafruddin menambahkan, biaya pendanaan bagi dunia usaha akan meningkat dan rencana ekspansi dapat tertunda. Selain itu, sektor riil akan terdampak melalui kenaikan biaya impor bahan baku, beban pembayaran utang valuta asing (valas), serta penundaan investasi baru di sektor manufaktur, infrastruktur, dan jasa modern.
Dengan kata lain, defisit NPI berpotensi mengerem pertumbuhan, jika tidak diimbangi reformasi struktural dan kebijakan yang meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko tetap terkendali.
Sebaliknya, surplus transaksi berjalan justru memberi ruang bagi perekonomian untuk tetap tumbuh. Surplus transaksi berjalan senilai 1,1 miliar dollar AS secara kumulatif sembilan bulan menunjukkan fondasi sektor riil masih bekerja: ekspor, jasa, dan pendapatan luar negeri masih mampu menghasilkan devisa bersih.
”Dengan kata lain, defisit NPI berpotensi mengerem pertumbuhan, jika tidak diimbangi reformasi struktural dan kebijakan yang meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko tetap terkendali,” kata Syafruddin.
Syafruddin berpendapat, defisit NPI dapat menjadi sinyal peringatan yang mendorong pembenahan, bukan pemicu pesimisme berkepanjangan. Untuk itu, prospek ke depan akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dan BI yang konsisten, transparan, dan fokus pada produktivitas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/16/c882bb33236138886d193e4416506838-20250716TOK22.jpg)
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, berpendapat, defisit NPI akan berdampak terhadap pasar keuangan dan pertumbuhan seiring tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dari sisi transaksi berjalan, surplus tersebut lebih didorong oleh penurunan impor ketimbang kenaikan ekspor sehingga tidak terlalu mencerminkan prospek ekonomi yang positif. Maka dari itu, impor barang modal dan bahan produksi perlu ditingkatkan.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, NPI tetap terjaga baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Ini didukung oleh surplus transaksi berjalan dan prospek penanaman modal langsung seiring prospek positif perekonomian domestik.
”Secara keseluruhan, NPI 2025 diprakirakan tetap berdaya tahan, dengan transaksi berjalan keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada pada kisaran surplus 0,1 persen sampai dengan defisit 0,7 persen dari PDB,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan November 2025, pada Rabu (19/11/2025), secara daring.
Prospek NPI pada 2026 diperkirakan tetap baik. Hal ini didukung oleh defisit transaksi berjalan yang rendah dan sehat, serta aliran modal yang meningkat sejalan prospek ekonomi Indonesia yang lebih baik.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2025 meningkat menjadi sebesar 149,9 miliar dollar AS. Ini setara pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase