Neraca Transaksi Finansial 2025 Tertekan, NPI Dibayangi Defisit

Transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus berkat adanya instrumen SRBI. Dibanding pasar saham dan SBN, aliran modal asing jauh lebih banyak masuk ke SRBI.

21 Feb 2025 20:28 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Meski mencatatkan surplus yang cukup signifikan, neraca transaksi modal finansial diperkirakan melandai seiring dengan ketidakpastian global. Di sisi lain, pemerintah masih dibayangi oleh surat utang jatuh tempo yang menggelembung dalam beberapa tahun mendatang.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2024 mencatatkan surplus 7,2 miliar dollar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus tahun lalu yang mencapai 6,3 miliar dollar AS. Alhasil, posisi cadangan devisa per akhir Desember 2024 tercatat 155,7 miliar dollar AS, meningkat dibandingkan posisi akhir 2023 yang sebesar 146,4 miliar dollar AS.

Surplus NPI pada 2024 terutama ditopang oleh kinerja neraca transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus 16,4 miliar dollar AS atau meningkat 65 persen dibandingkan tahun lalu. Capaian tersebut mampu menutup defisit neraca transaksi berjalan yang meningkat empat kali lipat pada 2024, yakni 8,9 miliar dollar AS.

Ekonom senior Bright Institute, Awalil Rizky, menjelaskan, surplus yang terjadi pada neraca transaksi modal dan finansial terutama didorong oleh aliran masuk investasi asing melalui surat berharga. Aliran investasi asing secara bersih yang masuk melalui surat berharga pada 2024 mencapai 12,21 miliar dollar AS, berbalik dibandingkan pada 2022 yang justru tercatat keluar sebesar 6,86 miliar dollar AS.

”Transaksi finansial yang surplus cukup besar hingga mencapai 16,36 miliar dollar AS pada 2024 belum tentu bisa diraih lagi pada 2025 ini. Hal ini mengingat kondisi keuangan global dan kebijakan The Fed (bank sentral AS) yang membuat arus modal ke Indonesia bisa relatif melandai,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (21/2/2025).

STANFORD, CALIFORNIA - APRIL 03: Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell berbicara pada Forum Masyarakat, Pemerintah, dan Bisnis Stanford di Universitas Stanford, 3 April 2024 di Stanford, California, Amerika Serikat. (Photo by JUSTIN SULLIVAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Menurut Awalil, surplus transaksi modal dan finansial sangat terbantu oleh instrumen baru di pasar keuangan, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dibandingkan dengan pasar saham yang mencatatkan beli neto nonresiden sebesar Rp 15,61 triliun dan surat berharga negara (SBN) yang sebesar Rp 71,9 triliun, SRBI mampu menggaet investasi portofolio asing hingga Rp 167,83 triliun.

Sebagai gambaran, SRBI baru diluncurkan oleh Bank Indonesia pada September 2023. Selain itu, transaksi aset alias modal milik penduduk Indonesia yang keluar dari pasar keuangan domestik pada 2024 sebesar 3,99 miliar dollar AS, menyusut dibandingkan dengan 2022 yang sebesar 5,05 miliar.

Quote

Pemerintah dan BI mesti berkoordinasi lebih kuat terkait hal ini, agar bauran instrumen tidak meningkatkan risiko eksternal. Setidaknya, diperoleh komposisi yang optimal untuk mengurangi beban pembayaran eksternal.

Di sisi lain, surplus pada transaksi investasi portofolio selama belasan tahun dinilai membantu ketahanan eksternal Indonesia. Hal ini menambah cadangan devisa, sekaligus membantu mengatasi kondisi transaksi berjalan yang sering defisit.

Secara keseluruhan, transaksi investasi portofolio pada 2024 mencatatkan surplus sebesar 8,22 miliar dollar AS meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan 2023. Selain itu, transaksi portofolio tersebut berbalik menjadi surplus setelah mencatatkan defisit pada 2022 yang sebesar 11,63 miliar dollar AS.

Di lain pihak, surplus transaksi finansial investasi portofolio pada 2024 setidaknya dapat menambal penyusutan surplus transaksi finansial investasi langsung. Adapun surplus transaksi finansial investasi langsung menyusut, dari 18,06 miliar dollar AS pada 2022 menjadi 14,5 miliar dollar AS pada 2024.

Infografik Neraca Transaksi Berjalan dan Nilai Tukar Rupiah

Risiko ke depan

Awalil berpendapat, ketergantungan terhadap SRBI memiliki risiko tersendiri, karena SBN dan pasar modal kalah saing dibandingkan SRBI. Selain itu, imbal hasil SRBI yang lebih tinggi dari SBN akan menekan transaksi berjalan pada komponen pendapatan primer.

”Pemerintah dan BI mesti berkoordinasi lebih kuat terkait hal ini, agar bauran instrumen tidak meningkatkan risiko eksternal. Setidaknya, diperoleh komposisi yang optimal untuk mengurangi beban pembayaran eksternal,” ujarnya.

Ke depan, dengan pelebaran transaksi berjalan dan berkurangnya surplus transaksi finansial, NPI pada 2025 berpotensi mengalami defisit. Dengan kata lain, ketersediaan cadangan devisa turut berpotensi menurun atau sekurangnya hanya secara terbatas sehingga dapat memperlemah fundamental nilai tukar rupiah.

Pegawai perusahaan penukaran uang asing Valuta Artha Mas di ITC Kuningan, Jakarta, menghitung dan melihat kondisi lembaran uang rupiah, Jumat (27/12/2024). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) kemarin, nilai tukar rupiah Rp 16.251 per dollar AS. Dipengujung tahun, rupiah terus melemah terhadap dollar hingga tembus Rp 16 ribu per dollar AS.

Di lain pihak, peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, berpendapat, kewajiban surat utang oleh pemerintah dalam transaksi investasi portofolio berbalik surplus dari sejak triwulan IV-2024. Artinya, pemerintah cenderung lebih banyak menerbitkan surat utang baru ketimbang membeli surat utang.

”Ini sejalan dengan pembiayaan defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Risikonya adalah tentu beban fiskal kita untuk pembayaran utang ke depannya akan semakin besar. Ini yang perlu diwaspadai,” tuturnya saat dihubungi dari Jakarta.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan, utang jatuh tempo pemerintah yang berasal dari pinjaman dan SBN pada 2025 mencapai Rp 800,33 triliun. Jumlah ini meningkat menjadi Rp 803,19 pada 2026, sebesar Rp 802,61 triliun pada 2027, sebesar Rp 719,81 triliun pada 2028, serta sebesar Rp 622,3 triliun pada 2029.

Quote

Perkembangan tersebut menyebabkan besarnya preferensi investor global untuk menempatkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dollar AS masih tinggi dan menekan berbagai mata uang dunia. Ketidakpastian global yang tetap tinggi terus memerlukan respons kebijakan yang kuat sehingga dapat memitigasi dampak rambatannya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Selain itu, Riefky melanjutkan, neraca transaksi modal dan finansial pada 2025 diperkirakan akan mengalami tekanan. Hal ini tidak lepas dari faktor risiko akibat ketidakpastian global yang memicu potensi arus modal keluar (outflow)  dari Indonesia.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang tinggi berdampak pada ekspektasi penurunan suku bunga AS yang lebih terbatas. Kemudian, kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS tetap tinggi, meski sedikit menurun seiring meningkatnya permintaan investor global.

”Perkembangan tersebut menyebabkan besarnya preferensi investor global untuk menempatkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dollar AS masih tinggi dan menekan berbagai mata uang dunia. Ketidakpastian global yang tetap tinggi terus memerlukan respons kebijakan yang kuat sehingga dapat memitigasi dampak rambatannya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tuturnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, di Jakarta, Rabu (19/2/2025).

BI memperkirakan, NPI 2025 diprakirakan terjaga didukung oleh defisit transaksi berjalan yang tetap sehat dalam kisaran defisit 0,5-1,3 persen dari produk domestik bruto (PDB), serta berlanjutnya surplus transaksi modal dan finansial. Prakiraan surplus transaksi modal dan finansial dipengaruhi persepsi positif investor pada prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik.

Deretan crane untuk mengangkat kontainer di Jakarta International Container Terminal, Jakarta, Rabu (15/1/2025). Badan Pusat Statistik mengumumkan neraca perdagangan Indonesia surplus 31,4 miliar dollar AS selama 2024. Angka surplus tersebut melemah atau lebih rendah dari surplus neraca perdagangan 2023 yang mencapai 36,93 miliar dollar AS. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 15-01-2025


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta