Intelijen Ukraina Diduga Bantu Kelompok Oposisi Suriah Serbu Aleppo

Motor serangan Aleppo, Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sudah lama ditetapkan AS dan sekutunya sebagai kelompok teror. Ukraina diduga membantu HTS dan kelompok lain.

03 Des 2024 09:36 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

DAMASKUS, SELASA — Serangan kubu oposisi Suriah di Aleppo diduga melibatkan pasukan khusus dan intelijen Ukraina. Kerja sama militer Suriah-Rusia diduga menjadi alasan Kyiv menggandeng kelompok teror menurut berbagai negara sekutu Ukraina tersebut.

Hingga Selasa (3/12/2024), pasukan Suriah-Rusia terus menggempur berbagai lokasi kubu oposisi. Kantor Staf Umum Angkatan Bersenjata Suriah mengumumkan serangan ke Aleppo, Hama, dan Idlib sepanjang Senin. Serangan itu diklaim menyasar lima pos komando dan tujuh gudang senjata.

Sejumlah media Suriah, seperti Sham FM dan Syria Times, mengutip sumber militer soal rangkaian serangan itu. Jet tempur Rusia-Suriah dilibatkan dalam serangan tersebut. Selain gedung dan gudang, serangan juga dilancarkan terhadap konvoi kendaraan.

Pemerintah Suriah menyebut lawan mereka, Hayat Tahrir al-Sham (HTS), sebagai kelompok teroris. Mengacu pada daftar Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, HTS ditetapkan AS sebagai kelompok teror sejak Mei 2018.

Pendahulu dan penerus HTS juga ditetapkan Deplu AS sebagai kelompok teror. HTS, menurut AS, merupakan penerus dari Jabhat Al Nusra (JAN), kelompok teror di Suriah yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

Pada Juli 2016, Abu Mohammad al-Jolani yang merupakan salah satu pemimpin JAN mengumumkan pembubaran JAN dan memutus hubungan dengan Al Qaeda. Kelompok itu berganti nama menjadi Jabhat Fatah al-Sham. Pada Januari 2017, bersama sejumlah kelompok milisi lain, Al-Jolani mengumumkan pembentukan HTS.

Tujuan HTS, menurut Al-Jolani, mengusir Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) serta milisi sokongan Iran dari Suriah. Lembaga kajian AS, CSIS, menyebut HTS berkoordinasi dan didukung Turki.

Milisi HTS kerap baku tembak dengan kelompok bersenjata Kurdi di perbatasan Turki-Suriah. Bagi Turki, sejumlah kelompok bersenjata Kurdi merupakan teroris.

Peneliti Center for New American Security, Nicholas Heras, juga menyebut HTS berkongsi dengan Turki. Meski demikian, ia tidak menampik HTS kerap baku tembak dengan berbagai kelompok bersenjata lain yang juga disokong Turki.

Pasukan oposisi Suriah dari kelompok Kurdi, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), di kota Tal Rifaat, Suriah, pada 2 Desember 2024
Pasukan oposisi Suriah di kota Maarat al-Numan, Aleppo pada 30 November 2024
Pasukan oposisi Suriah memeriksa peluncur roket di Aleppo pada 29 November 2024

Jumlah milisi

Pada Oktober 2022, Kantor Intelijen Nasional AS menaksir HTS punya hingga 10.000 milisi. HTS, menurut DNI, terutama beroperasi di Idlib dan Aleppo.

Sementara menurut Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah atau Syrian Observatory For Human Rights (SOHR) di Inggris, HTS kini diperkuat 30.000 milisi. Adapun analis Middle East Institute (MEI) Inggris, Charles Lister, menyebut bahwa 20 persen milisi HTS merupakan warga asing. Selain dari Timur Tengah, mereka juga berasal dari Asia Tengah dan Asia Selatan. Bahkan, sebagian milisi berasal dari Eropa.

HTS disebut menguasai hingga 3.600 kilometer persegi dari 6.000 km persegi wilayah Idlib. Wilayah yang dikendalikan HTS berada di perbatasan Suriah-Turki.

HTS membentuk pemerintahan sipil yang memungut pajak dan cukai dari perdagangan lintas batas dengan Turki. Mereka juga memungut cukai dari pedagang di dalam wilayah Idlib. ”Mereka mengembangkan kekuatan yang diperoleh dari mengatur perdagangan antarnegara di Idlib. Itu membantu pembiayaan dan pengembangan kekuatan mereka,” papar Heras dari Center for New American Security.

Pada Agustus 2024, setelah lama tidak terdengar kabarnya, Al-Jolani menyiarkan perintah perlawanan terhadap militer Suriah. Ia melarang milisi HTS menyerah dan meminta mereka melawan habis-habisan.

Ukraina terlibat

Perintah itu diungkap dua bulan setelah tersiar kabar unit-unit pasukan khusus Ukraina menyerang sejumlah posisi pasukan Rusia di Suriah. Media yang berpusat di Kyiv, Kyiv Post, melaporkan rangkaian serangan itu.

Pada Juni 2024, unit Khimik dari Direktorat Intelijen Militer (HUR) Ukraina dilaporkan menyerang pasukan Suriah di dekat Dataran Tinggi Golan. Selanjutnya, pada Juli 2024, Kyiv Post menyiarkan video dan foto serangan Khimik ke sejumlah lokasi di sekitar Aleppo.

Anggota Khimik kembali melancarkan serangan sejenis pada September 2024. Sasarannya gudang peluru di pos terdepan pasukan Rusia-Suriah di Aleppo.

Dalam laporan pada 1 Desember 2024, Kyiv Post menulis Khimik tidak hanya menyerang berbagai pos pasukan Rusia-Suriah di Aleppo dan sekitarnya. Khimik juga melatih milisi HTS dan berbagai kelompok bersenjata anti-Pemerintah Suriah.

Laporan itu diungkap beberapa hari selepas HTS dan sejumlah kelompok milisi menyerang berbagai pos pasukan Suriah di Aleppo dan Idlib. Dalam serangan kilat itu terlihat antara lain penggunaan pesawat nirawak.

Metode operasi pesawat itu mirip metode yang kerap digunakan pasukan Ukraina saat menyerang Rusia. Pasukan Ukraina belajar metode serangan itu dari AS dan sekutunya. (AFP/REUTERS/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra