Gunung berapi dihayati melampaui fakta-fakta geologisnya saja, gunung berapi juga adalah ruang hidup yang lekat dengan yang gaib dan sakral.
18 Jul 2025 20:41 WIB · Kolom
Bumi adalah raga yang senantiasa bergerak dan berdenyut. Terkadang, manusia terkecoh dengan apa yang tampak di permukaan, bumi acap kali disalahartikan dianggap bagai sebongkah benda yang mati dan statis. Keberadaan gunung berapi menjadi petanda gejolak kehidupan yang berada di dalam inti bumi. Dari kawah dan kaldera yang menganga, bayangkan kedahsyatan energi yang terpendam di dalam bumi.
Gunung berapi adalah gapura, yang memungkinkan kita menjelajahi ke dalam pengetahuan tentang lapisan-lapisan yang berada di perut bumi. Erupsi gunung berapi terjadi ketika tekanan magma dari dalam bumi mendorongnya ke permukaan. Pergeseran lempeng tektonik serta tekanan pada lapisan mantel bumi adalah faktor-faktor yang menyebabkan magma tersebut mencuat, meletus menjadi semburan lahar yang berpijar.
Apa yang terjadi di dalam bumi adalah mukjizat yang mencengangkan. Bumi adalah entitas yang berdegup, seraya tungku primordial yang telah membara semenjak miliaran tahun lamanya. Misteri tentang perut bumi menginspirasikan imajinasi bagi beberapa karya sastra terkemuka, seperti The Journey to The Center of The Earth (1864), karya klasik dari penulis asal Perancis, Jules Verne, begitu pula larik-larik puisi yang berkisah tentang neraka dari Dante Alighieri dalam karyanya The Divine Comedy (1320).
Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik dapat dikatakan sebagai wilayah yang sarat dengan aktivitas letusan gunung berapi. Kita memiliki ratusan gunung berapi yang tersebar di berbagai pulau yang berkelindan dengan pandangan hidup, budaya, hingga spiritualitas masyarakat yang bermukim di sekitarnya. Memahami gunung berapi dalam hal ini tidak saja terkait melakukan mitigasi kebencanaan, lebih mendalam dan menyeluruh lagi, memahami sejarah gunung berapi tersebut dapat membantu kita mengerti masyarakat lokal beserta ikatannya dengan lingkungan hidup.
Seorang vulkanolog bernama Clive Oppenheimer dalam karyanya yang berjudul ”Mountains of Fire, The Secret Lives of Volcanoes” (2023) menelusuri laju bara di tubuh bumi. Ia mencermati sejarah gunung-gunung berapi di seluruh dunia serta bagaimana sains kian berkembang dalam memahami kompleksitas fenomena gunung berapi. Dalam perkembangan vulkanologi sebagai bidang ilmu, memahami apa yang memicu erupsi vulkanik menjadi kunci utama dalam rangka melakukan suatu perkiraan.
Perret beranggapan bahwa gunung berapi itu adalah organisme yang dinamis.
Oppenheimer menyebutkan dua perintis dalam bidang vulkanologi yakni Frank Alvord Perret dan Thomas Jaggar, dua tokoh ini melakukan pengamatan yang amat rinci terhadap aktivitas vulkanik di beberapa daerah; seperti Gunung Vesuvius dan Gunung Pelée. Perret dan Jaggar terdorong untuk meneliti gunung berapi dari rasa peduli terhadap kemanusiaan. Perret beranggapan bahwa gunung berapi itu adalah organisme yang dinamis. Ia pun yakin bahwa melalui observasi yang sistematis, erupsi dapat diprediksi sehingga fatalitas bencana dapat dihindari. Sains tidak harus selalu secara dingin dan rigid memahami fisik daripada alam, bahkan dalam hal ini, membaca gunung berapi layaknya menekuni suatu naskah purba yang ditulis oleh tangan waktu.
Ada yang transendental dari gunung berapi tersebut, paling tidak itu yang disampaikan oleh Oppenheimer ketika mempelajari budaya orang-orang Indonesia tentang gunung berapi. Gunung berapi dihayati melampaui fakta-fakta geologisnya saja, gunung berapi juga adalah ruang hidup yang lekat dengan yang gaib dan sakral. Masyarakat di gunung Merapi, Jawa Tengah, memercayai bahwa Merapi adalah kerajaan bagi makhluk alus, sedangkan masyarakat adat Hindu Bali meyakini bahwa Gunung Agung merupakan sumbu dari dunia, begitu pula di Flores, suku Lio melakukan ritual serta meninggikan Danau Kelimutu yang berada di puncak Gunung Kelimutu sebagai tempat arwah-arwah bersemayam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/27/1f60b4fe-3890-4f38-8b1c-fc7152f20e57.jpg)
Mustahil ditampik dualitas dari makna gunung berapi bagi manusia, pada satu sisi ia adalah simbol katastrofe dan kematian, namun pada sisi lainnya, ia pun menandakan pembaharuan, suatu proses kemunculan kehidupan baru. Betapa menggentarkannya saat menyusuri sejarah letusan gunung berapi, seperti Toba, Tambora, dan Krakatau. Peristiwa itu mengingatkan manusia betapa rapuhnya ia di hadapan azmat alam.
Melalui mata para seniman kita mampu merasakan kekaguman sekaligus kegentaran kepada gunung berapi.
Letusan supervulkan Toba yang terjadi 74.000 tahun yang lalu nyaris memusnahkan umat manusia, penyusutan drastis itu diperkirakan hanya menyisakan sekitar 3000-10.000 individu yang sintas. Letusan gunung Tambora pada 1815 menyebabkan kematian hampir seratus ribu jiwa, debu vulkanik yang mencapai atmosfer atas, berdampak pada dunia sehingga dikenal sebagai ”Tahun Tanpa Musim Panas”. Begitu juga dengan letusan gunung Krakatau pada 1883 yang suaranya begitu memekakkan seperti ledakan yang merobek cakrawala.
Masyarakat Indonesia dengan orang-orangnya yang bernaung di kaki gunung berapi perlu terus merangkai ilmu pengetahuan yang berpadu padan dengan kearifan lokal serta kepekaan seni dalam menafsirkan hubungannya dengan gunung berapi. Melalui mata para seniman kita mampu merasakan kekaguman sekaligus kegentaran kepada gunung berapi, seperti lukisan ”Merapi” (1865) karya Raden Saleh atau puisi ”Penunggu Gunung Berapi” (1955) oleh WS Rendra. Dalam novel The Volcano Lover (1992) oleh Susan Sontag dan Gemuruh (2024) oleh Hilmi Faiq, kita dapat meresapi, mengapa manusia terpesona, bahkan terobsesi, dengan gunung berapi, suatu keindahan yang tak terpisahkan dari kehancuran.
Seperti yang disampaikan dalam puisi ”Gunung Agung” (2018), karya Wayan Jengki Sunarta:
”Kami tahu, lahar itu
Akan melumat kami tanpa sisa
Abu itu akan bikin langit kelam
Tapi bakti kami adalah keniscayaan…”
Saras Dewi, Pengajar Filsafat di Universitas Indonesia
Penulis:
Saras DewiEditor:
Moh. Hilmi Faiq