Kalender Jawa dan hitungan angka diam-diam melekat pada keputusan presiden. Dari SBY dengan angka 9, Jokowi dengan Rabu Pon, hingga Prabowo dengan simbol angka 8.
20 Sep 2025 19:14 WIB · Politik & Hukum
Di Istana Kepresidenan, angka dan hari tertentu kerap lekat dengan peristiwa yang terkait dengan keputusan politik presiden. Fenomena itu ditemukan dari satu presiden ke presiden berikutnya. Dalam menentukan hari, misalnya, ada yang tampak mengikuti kalender Jawa, tetapi ada juga yang meninggalkan jejak angka tertentu.
Dari Presiden ke-6 RI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Presiden Prabowo Subianto, hari dan angka tertentu senantiasa hadir mewarnai panggung politik. Ada yang menyebutnya kebetulan, ada pula yang melihatnya sebagai strategi. Tetapi, yang pasti, pola itu sering muncul dalam peristiwa penting yang dibuat kepala negara.
Presiden Prabowo, misalnya, tiga kali melakukan reshuffle atau perombakan kabinet dengan kombinasi angka yang jika dijumlahkan atau dikurangi memberikan jejak angka delapan. Reshuffle pertama digelar 19 Februari 2025, ketika Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi Satryo Brodjonegoro digantikan Brian Yuliarto.
Perombakan kabinet jilid II berlangsung 8 September 2025. Saat itu 4 menteri dan 1 wakil menteri dilantik di Istana Negara. Adapun perombakan kabinet ketiga dilakukan 17 September 2025 dengan melantik 2 menteri, 3 wakil menteri, serta sejumlah pejabat setingkat badan dan lembaga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/20f1ff11-d504-4032-842e-a32b7d50be8a_jpg.jpg)
Ketiga tanggal reshuffle itu sama-sama mengandung unsur delapan. Angka 19, contohnya, jika kombinasi angka itu dilakukan pengurangan dalam komposisi 9-1, maka menjadi 8. Pada perombakan kedua, tanggal 8 langsung dipilih. Sementara 17 jika dijumlahkan juga menghasilkan 8.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengaku tidak menyadari unsur angka delapan dalam tiga kali waktu reshuffle kabinet. ”Aku malah baru tahu ini, minta tolong nanti dikirim penjelasannya, aku malah baru tahu hitung-hitungannya ini, yakin. Yakin, baru tahu,” ujarnya, di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Presiden Prabowo pun kerap mengidentifikasi momen dalam perjalanan kariernya, termasuk di politik, terkait dengan angka 8.
Presiden Prabowo pun kerap mengidentifikasi momen dalam perjalanan kariernya, termasuk di politik, terkait dengan angka 8. Saat menjadi Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus, Prabowo diberi sandi 08. Angka 08 tersebut kerap dimaknai sebagai pertanda bahwa Prabowo akan menjadi Presiden ke-8 RI.
Menurut Prabowo, dirinya mungkin sudah ditakdirkan untuk menjadi Presiden ke-8 RI. Selain mendapatkan sandi 08, Prabowo juga dilantik menjadi Presiden di tahun 2024. Jika keempat angka dijumlahkan, maka menjadi 8. ”Jadi, saya menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia di tahun 8,” ujar Prabowo saat pidato politik peringatan HUT Ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Jawa Barat, 15 Februari 2025.
Bahkan, peringatan ulang tahun Gerindra itu juga dimaknai memiliki unsur 8. Sebab, jika angka 17 dijumlahkan pun menjadi angka 8. ”Dan, hari ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia berdiri di sini pada ulang tahun ke-17. 1+7=8,” kata Prabowo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/17/6319f932-eb89-441f-9ceb-f1dec98a1f58_jpg.jpg)
Berbeda dari Prabowo, Presiden ke-7 RI Joko Widodo identik dengan kalender Jawa. Dalam banyak reshuffle, Jokowi memilih hari Rabu Pon, weton atau hari lahirnya. Dalam kepercayaan Jawa, weton dianggap hari istimewa yang bisa menentukan arah keberuntungan seseorang.
Selama dua periode pemerintahannya, Jokowi empat kali melakukan reshuffle di hari Rabu Pon. Dimulai pada reshuffle pertama di 12 Agustus 2015, 27 Juli 2016, 23 Desember 2020, dan 21 Februari 2024. Untuk mengumumkan pencabutan status pandemi Covid-19, Jokowi juga memilih Rabu Pon, yakni 21 Juni 2023.
Meskipun demikian, ada pula empat reshuffle yang dilakukan Jokowi pada Rabu Pahing. Momentum itu terjadi pada 17 Januari 2018, 15 Agustus 2018, 15 Juni 2022, dan 22 November 2023. Pola ini memperlihatkan konsistensi Jokowi terhadap hitungan hari dalam kalender Jawa ketika akan melakukan reshuffle.
Sementara itu, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut memiliki kedekatan dengan angka sembilan. SBY lahir di Pacitan pada 9 September 1949. Partai Demokrat yang digagasnya juga dideklarasikan pada 9 September 2001 dengan jumlah awal 99 anggota.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/18/2a59d4d2faaea0800ff940b7b947707f-20250918AGS_7.jpg)
Wisnu Nugroho dalam buku Pak Beye dan Politiknya mengungkapkan, lukisan rusa yang ada di salah satu ruangan Istana di era SBY seluruhnya berjumlah sembilan. Kemudian, saat Wisnu iseng menghitung lampu yang ada di pendopo Cikeas, kediaman SBY, juga semuanya berjumlah sembilan.
Peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional, Wasisto Raharjo Jati, menilai fenomena penggunaan kalender Jawa dan angka tertentu merujuk pada ”hoki politik”. Presiden memercayai berupa hari baik atau angka yang secara simbolis melekat secara personal dalam keyakinan masing-masing.
Fenomena penggunaan kalender Jawa dan angka tertentu merujuk pada ”hoki politik”.
Ia mencontohkan, angka delapan yang kerap lekat dengan momen keputusan politik yang diambil Presiden Prabowo bisa saja dikaitkan dengan budaya China. Angka 8, dalam fengsui, diyakini sebagai angka keberuntungan dan terkait dengan kesejahteraan. Angka 8 juga melambangkan infinity, simbol matematika yang menunjukkan konsep tak terbatas.
Sedangkan Jokowi yang kerap memutuskan kebijakan penting saat Rabu Pon mengacu pada weton atau hari lahir menurut kalender Jawa. Bagi orang Jawa, weton diyakini merupakan hari penting untuk berkontemplasi demi kehidupan yang baik. Begitu pula angka 9 yang identik dengan SBY dalam kultur Jawa melambangkan puncak tertinggi. Sebab, angka 9 merupakan angka tertinggi karena angka selanjutnya adalah 0, bukan 10 karena 0 tidak ada dalam kultur Jawa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/09/e84e66f2-713a-4ef1-8105-a841d5518ddf_jpg.jpg)
Menurut dia, kepercayaan presiden terhadap hoki politik tidak terlepas dari pengaruh kultural kultus dewa raja yang masih melekat hingga era modern. Mereka memercayai bahwa seorang pemimpin itu harus bisa menyeimbangkan makro dan mikro kosmos. Faktor hoki politik itu adalah pengaruh dukungan alam semesta selaku makro kosmos terhadap pemimpin selaku mikro kosmos.
”Menjadi pemimpin di Indonesia, khususnya yang berpusat di Jawa, kalau tidak punya pegangan kultural dan spiritual yang dipraktikkan, dipercaya kekuasaannya tak akan bertahan lama,” kata Wasisto.
Pengajar Sosiologi di Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono, menjelaskan, dalam lingkup budaya Jawa, angka, hari, dan tanggal tidak sekadar penanda waktu, tetapi sekaligus simbol jalannya kehidupan. Sering kali sederet angka itu dijadikan penentu arah langkah manusia. Untuk itu, elite politik sekelas presiden juga kerap menjadikannya pedoman, khususnya yang memiliki latar belakang Jawa.
”Hidup itu semacam cokro manggilingan (roda yang berputar). Kadang naik, kadang turun, kadang dihormati, kadang dimarahi. Dalam falsafah Jawa, itu semua bisa dihitung dan ditandai. Jadi, ada hari-hari baik dan hari-hari kurang baik yang bisa dihindari,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/b6c5e33159626a3a46d947e7dcbabd63-20250723DRA015.JPG)
Konsepsi semacam itu, lanjut Drajad, bertahan sekian lama didasari situasi hidup yang sering kali serba tidak pasti. Seolah ada hal-hal di luar kuasa manusia yang ikut mengatur naik dan turunnya nasib seseorang. Lantas, manusia berusaha mencari hal-hal yang lebih jelas dan terukur melalui angka dan hari baik. Diharapkan, pemilihan angka dan hari baik akan membawa kebaikan pula untuk hajatan penting yang tengah diadakan seseorang.
Sebagai sesama manusia, para presiden termasuk orang yang juga diselimuti ketidakpastian. Di satu sisi, sosok itu mesti mengambil keputusan-keputusan penting yang menentukan kelanjutan hidup banyak orang. Risikonya akan sangat besar jika seorang pemimpin negara salah mengambil keputusan.
Pelantikan menteri baru dipilih pada tanggal-tanggal yang diyakini baik oleh seorang presiden.
Terkait perombakan kabinet, kata Drajad, seorang presiden pasti menginginkan agar sosok-sosok menteri penggantinya bekerja dengan baik. Bukan malah memperburuk kinerja pemerintah dan menampilkan tindak tanduk yang tidak berempati kepada masyarakat. Lantas, pelantikan menteri baru dipilih pada tanggal-tanggal yang diyakini baik oleh seorang presiden.
”Angka baik atau hari baik itu akan membuat seorang pemimpin mengambil keputusan ketika jiwa dan pikirannya terang. Harapannya, hasil keputusannya akan baik. Penanda-penanda angka dan tanggal ini menjadi rambu-rambu untuk memperkecil ketidakpastian,” tutur Drajad.
Dalam riuh panggung kekuasaan, angka dan hari hadir bagai bisikan sunyi yang menuntun pemimpin negeri. Ia menjadi jembatan antara rasionalitas politik dan keyakinan kultural dalam menghadapi ketidakpastian.
Penulis:
Iqbal Basyari, Nino Citra AnugrahantoEditor:
Madina NusratPenyelaras Bahasa:
Retma Wati