Serangan Houthi membuktikan masih ada poros perlawanan dukungan Iran atas Israel. Serangan Houthi juga menjatuhkan citra Israel sebagai kekuatan militer utama.
03 Jan 2025 19:06 WIB · Internasional
Serangan roket dari Gaza sudah reda, gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebabon sudah berjalan setelah perang Israel–Hamas pecah pada 7 Oktober 2023. Namun, Israel belum bisa bernapas lega, serangan udara Houthi hingga kini masih terus berlangsung.
Houthi merupakan kelompok perlawanan yang saat ini mengontrol Yaman. Dari negara itu, Houthi terus mengobarkan perlawatan terhadap Israel. Serangan Houthi mengakibatkan ratusan ribu warga Israel harus berulangkali masuk ke lubang perlindungan. Maskapai internasional pun beroperasi dengan waspada saat melintasi ruang udara di sekitar Israel.
Dalam konteks perlawanan Palestina atas pendudukan Israel, Houthi merupakan benteng perlawanan terakhir melawan zionisme.
Houthi atau kelompok Ansar Allah merupakan gerakan yang muncul pada 1990-an di Yaman. Dalam laporan Al Jazeera 12 Januari 2024, Houthi mulai dikenal dunia tahun 2014 ketika berhasil merebut pemerintahan di Yaman. Para pengamat menilai, Houthi bukan sekadar proksi Iran karena Houthi memiliki agenda sendiri.
”Ini seperti saling rebut posisi dalam pertarungan antara Israel dan Houthi,” kata Yoni Yovel (31), yang mengungsi dari Israel utara untuk menghindari roket Hizbullah ke kota Tel Aviv Jaffa. Malang tak bisa ditolak, di Jaffa, apartemennya juga rusak berat akibat rudal yang ditembakkan Houthi dari Yaman.
Sebaliknya, Israel juga terus menyerang Houthi dengan berulangkali membombardir pelabuhan, fasilitas minyak, dan bandara di sekitar Sanaa, ibu kota Yaman, yang berjarak 2.000 kilometer dari Israel.
Di tengah segala tekanan itu, Houthi terus bertahan dan melawan. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi tiap hari menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke Israel.
Pemerintah Israel berulangkali mengancam akan menghabisi pemimpin Houthi, Abdul Malik Al Houthi, dan berusaha menggalang para pemimpin dunia untuk melawan Houthi.
Di tengah segala tekanan itu, Houthi terus bertahan dan melawan. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi tiap hari menembakkan rudal dan pesawat nirawak ke Israel.
Walau tidak menimbulkan kerugian hebat, serangan yang dilancarkan demi mendukung perjuangan Hamas di Jalur Gaza membuat kehidupan sehari-hari di Israel terganggu. Banyak maskapai asing masih menutup penerbangan ke Israel sehingga mengakibatkan sektor pariwisata terganggu.
Di lautan pun, serangan Houthi di Laut Merah mengakibatkan Pelabuhan Israel di Eilat nyaris mati. Berbagai kapal niaga memilih rute menghindari Laut Merah dan merapat ke pelabuhan Israel di Laut Tengah yang menimbulkan biaya angkut dan asuransi meroket.
Serangan-serangan Houthi juga membuktikan masih ada poros perlawanan dukungan Iran terhadap Israel. Serangan-serangan Houthi juga menjatuhkan citra Israel sebagai kekuatan militer utama di kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/5b942f22-5494-424f-a5fd-a7b28b7fdd6a.jpg)
”Mereka, Houthi, adalah satu–satunya perlawanan yang tersisa saat ini. Houthi adalah tantangan yang berbeda,” kata peneliti di Institut Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv, Danny Citrinowicz.
Mulai aktif terlibat tidak lama setelah Hamas melancarkan serangan ke Israel 7 Oktober 2023, Houthi dengan semangat solidaritas ikut melancarkan serangan. Sasarannya kapal–kapal niaga yang terkait dengan Israel yang melintasi Selat Bab El Mandeb yang sempit (hanya membentang sekitar 25 kilometer dengan Pulau Perim di tengahnya).
Menurut Associated Press, serangan tersebut pada perkembangannya turut menyasar kapal-kapal yang tidak terkait dengan Israel sehingga mengganggu perekonomian dunia. Jalur Selat Bab El Mandeb tersebut merupakan ujung selatan dari Terusan Suez yang menghubungkan Eropa-Asia.
Sepanjang perang Gaza, Houthi mengawali serangan ke Israel dengan mengincar Kota Pelabuhan Eilat, lalu berkembang ke pusat hunian warga hingga metropolitan di Tepi Laut Tengah, yakni kota Tel Aviv.
Houthi menegaskan, serangan tersebut ditujukan untuk menekan Israel dan sekutu Barat yang mendukung serangan zionis di Jalur Gaza. Sebagian besar korban serangan Israel di Gaza ialah perempuan dan anak-anak yang secara keseluruhan melampaui 43.000 jiwa.
Sebagai balasan, Amerika Serikat–sekutu utama–Israel, bersama koalisi berulangkali menyerang pusat persenjataan dan depot senjata Houthi.
Sepanjang perang Gaza, Houthi mengawali serangan ke Israel dengan mengincar Kota Pelabuhan Eilat, lalu berkembang ke pusat hunian warga hingga metropolitan di Tepi Laut Tengah, yakni kota Tel Aviv. Serangan semakin gencar dilakukan beberapa pekan terakhir.
”Terdengar suara gemuruh di malam hari. Putriku menduga itu peluru kendali. Dia terkejut dan terbangun lalu menjerit histeris,” kata Ibrahim Sosa (53), warga Jaffa di dekat lokasi yang diserang Houthi.
Israel terus membalas dan bersumpah akan meningkatkan daya serang jika Houthi tidak menghentikan serangan.
”Kami akan memburu semua pemimpin Houthi dan menghabisi mereka seperti kami lakukan di tempat lain,” kata Menteri Pertahanan Israel Katz sesaat setelah jet-jet tempur Israel menyerang Houthi, pekan lalu.
Rangkaian serangan Israel berdampak mematikan dan mengakibatkan sejumlah korban jiwa. Juru Bicara Militer Israel (Tzahal) Laksamana Muda Daniel Hagari mengatakan kepada Associated Press bahwa sasaran serangan ialah fasilitas militer yang digunakan Houthi melancarkan serangan, termasuk untuk menyelundupkan senjata dan aktivitas ekonomi mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/08/447cf36c7b84e066b56f97cdbaee37e9-000_36LU2CU.jpg)
Hagari mengakui, perang melawan Houthi akan berjalan rumit meski Israel memiliki keunggulan udara. Houthi masih mampu terus melawan, bahkan membobol pertahanan udara Israel dibandingkan Hamas, Hizbullah, dan Iran yang berhasil diredam Israel dalam 15 bulan terakhir.
”Israel sudah bertahun-tahun mengenal lawan-lawannya seperti Hamas, Hizbullah, dan Iran. Data intelijen dan kemampuan manuver darat dengan mudah dilakukan. Namun, di Yaman, situasi jauh berbeda. Skala operasi yang dilakukan tidak sama,” kata peneliti senior dan mantan militer Israel di lembaga Pusat Kajian Begin-Sadat, Eyal Pinko, di Israel.
Yaman tidak berbatasan langsung di Israel karena terletak di selatan Arab Saudi dan Jordania. Israel pun tidak mudah menggelar operasi darat seperti serangan ke Gaza dan Lebanon untuk menghabisi Houthi. Israel harus mengatur operasi lintas udara yang rumit untuk menggempur Yaman dengan hasil akhir yang dipertanyakan.
Eyal Pinko menambahkan, pihak Houthi pun terus belajar dan memperbaiki diri dari pengalaman berperang bertahun–tahun menghadapi koalisi militer pimpinan Arab Saudi. Mereka paham cara menghadapi gempuran serangan udara, lalu melancarkan serangan balik.
Bertahun-tahun silam, ketika Houthi masih aktif sebagai kelompok perlawanan bersenjata di Yaman, Israel belum memandang perlu untuk mendalami kelompok tersebut. Ternyata Houthi menjadi semakin kuat dan berkuasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/08/02/e3c2ebb9-1ccb-494e-8ec8-a044a3da0658.png)
Dalam menghadapi Hamas, bertahun–tahun operasi intelijen berhasil membantu Israel melancarkan operasi untuk menghadapi Hamas. Ketika menghadapi Hizbullah, Israel juga berhasil menyusup hingga ke dalam inti organisasi perlawanan itu sehingga mampu melakukan serangan teror penyeranta. Israel juga berhasil menghantam bungker rahasia pemimpin Hizbullah, yaitu Hassan Nasrallah.
Bahkan, di Iran, Israel bisa menghabisi pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di sebuah apartemen di Teheran, dan menghantam jaringan pertahanan udara Iran dalam serangan udara Oktober 2024.
Akan tetapi, intel dasar soal Houthi dan gelar kekuatan dari Houthi tidak banyak diketahui Israel. Dampaknya, serangan balasan Israel menjadi tumpul.
Daniel Hagari mengakui operasi intelijen Israel di Yaman menjadi isu penting. Tzahal sedang memperbaiki kinerja intelijen di Yaman.
Hingga Israel memiliki pemahaman mendalam mengenai musuh mereka, Houthi, Israel masih harus mengalami serangan demi serangan udara dari Yaman ke Israel.
”Tidak ada jalan keluar singkat. Walau perang di Gaza berakhir, ancaman terhadap Israel belum lenyap,” kata Citrinowicz.
(AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Bonifasius Josie Susilo H