Israel masih bingung menentukan cara membalas Houthi. Tak mudah mencari pengkhianat di Yaman yang mau bekerja untuk Israel
26 Des 2024 11:30 WIB · Internasional
Ancaman dua petinggi Israel dijawab Houthi dengan serangan dua hari berturut-turut. Meski tahu mayoritas rudal dan pesawat nirawaknya akan dicegat, Houthi tetap menyerang Israel.
Pada Rabu (25/12/2024) waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, militer Israel atau tzahal mengumumkan Ashkelon jadi sasaran serangan Houthi. Kota itu berada di perbatasan Israel-Gaza.
Beberapa jam sebelum Ashkelon, sejumlah kota di Israel juga jadi sasaran serangan Houthi. Puing-puing rudal Houthi dan roket pencegat Israel bertebaran di rumah sebagian warga.
”Kami sudah peringatkan, berhenti membunuhi bayi dan anak-anak di Gaza,” demikian pernyataan sejumlah akun media sosial Houthi soal serangan ke Israel.
Sudah lebih dari setahun Houthi mengumumkan menyerang Israel dan pendukungnya sebagai solidaritas kepada warga Gaza. Houthi berulang kali menyatakan, serangan itu akan dihentikan apabila Israel berhenti menghancurkan Gaza, Lebanon, dan Tepi Barat.
Serangan pada Rabu melanjutkan serangan pada Selasa. Serangan dilancarkan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengancam Houthi. Ancaman dilontarkan pada Senin (23/12/2024).
Di parlemen, Netanyahu mengumumkan telah memerintahkan tzahal menghancurkan berbagai fasilitas Houthi di Yaman. Sementara Katz secara terpisah mengancam para petinggi Houthi.
”Saya mau menyampaikan pesan jelas kepada mereka: kami telah mengalahkan Hamas, kami telah mengalahkan Hizbullah, dan kami telah membutakan pertahanan Iran serta merusak kapasitas produksinya,” ujar Katz seraya menyebut Houthi sebagai sasaran terakhir.
Kami sudah peringatkan, berhenti membunuhi bayi dan anak-anak di Gaza.
Israel, kata Katz, akan menghabisi para pemimpin Houthi. ”Seperti yang kami lakukan terhadap Haniyeh (Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh), Sinwar (Kepala Biro Politik Hamas Yahya Sinwar), dan Nasrallah (Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah). Kami akan lakukan di Hodeidah dan Sanaa,” lanjut Katz pada Senin malam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/30/87d24818-2f7d-482b-9a0f-de3988b8c62f_jpg.jpg)
Berselang beberapa jam selepas ancaman Katz, sirene peringatan serangan meraung di sejumlah lokasi di Israel. Rudal dan pesawat nirawak Houthi mengarah ke Israel. Berbagai media Israel dan Amerika Serikat menyebut, jutaan orang bergegas masuk ke tempat perlindungan.
Serangan berlanjut sampai Rabu (25/12/2024). Meski bisa dicegat, serangan itu memicu ketakutan pada jutaan orang. Warga Israel di berbagai kota bergegas mencari tempat perlindungan.
Analis Israel, Seth J Frantzman, menyatakan bahwa hampir semua rudal dan pesawat nirawak Houthi ke Israel bisa dicegat. Houthi tahu itu. Meski demikian, Houthi terus menyerang Israel.
Frantzman menduga, setidaknya ada tiga alasan Houthi terus menyerang. Pertama, menciptakan ketakutan. Dugaan itu terbukti dengan fakta warga Israel harus secara rutin masuk ke tempat perlindungan gara-gara serangan Houthi. Nyaris tidak ada pekan di Israel tanpa ketakutan dari serangan Houthi.
Houthi tidak gentar meski terus diserang Israel.
Alasan kedua, Houthi kini praktis menjadi satu-satunya yang terkuat di antara kelompok perlawanan sokongan Iran. Hamas dan Hizbullah diragukan bisa terus berperang dengan kondisi sekarang. Para pemimpin tewas, cadangan persenjataan hancur. Kelompok di Irak tidak punya persenjataan sebaik Houthi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/24/558b095d-5e9a-491d-9853-9226b961f002_jpg.jpg)
Sementara Houthi diduga memiliki beragam persenjataan dan pendukung operasi tempur yang lebih maju. Rudal-rudal Houthi berulang kali mencapai Israel.
Hal itu menjadi alasan ketiga serangan: menguji teknologi persenjataan. Serangan ke Israel dan ke Laut Merah menjadi kesempatan Houthi dan pendukungnya menguji persenjataan mereka dan lawan. Houthi akan tahu kinerja persenjataan mereka dan lawan.
Serangan berulang bisa menemukan pola cara Israel dan sekutunya bertahan. Beberapa kali Houthi bisa menjebol pertahanan Israel yang digadang amat tangguh.
Di sisi lain, Israel dan sekutunya tidak tinggal diam. Mereka juga mempelajari pola serangan Houthi.
Dengan satelit di langit dan mata-mata di darat, Israel dan sekutunya memantau lokasi Houthi mengatur dan melancarkan serangan. Lokasi-lokasi itu yang jadi sasaran serangan Israel dan sekutunya.
Pada Minggu (22/12/2024), jet-jet Israel menyerang Sanaa dan Hodeidah di Yaman. Serangan itu menewaskan setidaknya sembilan warga sipil.
Amerika Serikat dan sekutunya juga rutin menyerang berbagai lokasi di Yaman. Alasannya sama dengan Israel: menyerang fasilitas dan infrastruktur perang Houthi.
AS dan sekutunya sudah hampir satu dekade rutin menyerang Houthi. Meski demikian, rangkaian serangan itu tidak kunjung menggentarkan, apalagi melumpuhkan, Houthi.
”Houthi tidak gentar meski terus diserang Israel. Hanya serangan besar-besaran terhadap para pemimpin dan gudang senjatanya, seperti dilakukan kepada Hizbullah, bisa melumpuhkan Houthi,” kata analis Israel, Ron Ben-Yishai, kepada koran Yedioth Ahronoth.
Analis lain, Yossi Yehoshua, menyebut bahwa Houthi malah yakin akan bisa terus menyerang Israel. Serangan itu disebutnya sebagai cara Houthi menunjukkan diri sebagai penanggung jawab pembelaan terhadap Israel.
Frantzman dan Yehoshua sepakat, Houthi mau menunjukkan diri sebagai pemimpin perlawanan kepada Israel dan sekutunya. Sebab, Houthi kini tidak punya pesaing lagi seperti Hamas dan Hizbullah kehilangan banyak kekuatan dalam setahun terakhir.
Israel, kata Yehoshua, masih bingung menentukan cara menghadapi Houthi. ”Apakah dengan serangan besar-besaran ke Iran atau ke Yaman?” ujarnya kepada Yedioth Ahronoth.
Ia tidak yakin serangan ke Iran bisa berdampak serius kepada Houthi. Pengaruh Iran ke Houthi, menurut Yehoshua, berbeda dari pengaruh kepada Hizbullah dan Hamas.
Ada juga dua masalah lain yang menghambat serangan besar ke Houthi: keterbatasan intelijen dan jarak. Yaman terletak 2.000 kilometer dari pangkalan terdekat Israel. Serangan sejauh itu membutuhkan perencanaan dan dukungan logistik yang kompleks.
Kalau mau serangan besar, berarti Israel harus meluncurkan bom dalam jumlah besar. Karena jaraknya, berarti perlu bahan bakar dan banyak pesawat untuk membawa bom banyak-banyak. Paling sedikit 10 pesawat tempur ditambah tanker udara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/19/d53653b9-3cdf-415b-9910-5dc46f12b124_jpg.jpg)
Konvoi sebesar itu rentan terlacak lalu diserang lawan. Serangan lawan bisa dihindari dan dielakkan kalau Israel dan sekutunya punya data intelijen memadai.
Soal ini, menurut Yehoshua, kemampuan Israel dan sekutunya amat lemah di Yaman. Memang tetap banyak orang tak suka Houthi di Yaman. Walakin, kondisi di Yaman berbeda dengan Suriah, Lebanon, atau Gaza yang bersebelahan dengan Israel.
Selama puluhan tahun Israel telah mengembangkan jaringan mata-mata di Lebanon, Suriah, dan Palestina. Ada banyak warga lokal jadi kaki tangan Israel. Kaki tangan itu membantu Israel mengidentifikasi sasaran.
Di Yaman, terutama karena jarak, Israel kesulitan mengembangkan jaringan sejenis. Tak mudah mencari warga yang mau berkhianat dan membantu Israel. Akibatnya, data intelijen susah dikumpulkan di Yaman. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Nur Adji