SANAA, JUMAT — Pasukan pemberontak di Yaman, Houthi, mencapai Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandeb. Penguasaan itu membuat Houthi semakin dekat mengontrol total akses Laut Merah. Harga minyak pun bergejolak.
Sumber-sumber di pemerintahan Yaman mengonfirmasi pasukan Houthi di Perim alias Mayyum, Jumat (11/9/2029). Pulau itu dicapai sehari selepas Houthi merebut Mocha, pelabuhan Yaman di pesisir Laut Merah. Perim berjarak 75 kilometer dari Mocha.
”Perahu-perahu yang membawa pasukan Houthi menduduki Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah mundur dari pulau tersebut, Kamis lalu,” ungkap seorang pejabat lokal. ”Dengan menduduki Mayyun, Houthi menuntaskan pengambilalihan Bab el-Mandeb,” tambahnya.
Kepada kantor berita AFP, pejabat tersebut menjelaskan, pasukan Houthi ditempatkan di wilayah perbukitan. Mereka mengarahkan pantauan langsung ke arah Bab el-Mandeb.
Wakil Presiden Yaman Tarik Saleh, beberapa hari lalu, telah memperingatkan dampak penguasan Houthi pada Perim. Penguasaan atas Perim berarti mengendalikan akses Selat Bab el-Mandeb, alur selatan Laut Merah.
Sejak Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz praktis ditutup Teheran. Arab Saudi dan sejumlah eksportir minyak di Teluk Persia coba mengalihkan ekspor lewat Bab el-Mandeb.
Hal itu dimungkinkan karena Houthi masih menahan diri dari menyerang Arab Saudi. Sejak 2022, Houthi dan Arab Saudi yang menyokong Pemerintah Yaman menyepakati gencatan senjata
Namun, serangan Arab Saudi ke Bandara Sanaa pada 13 Juli 2026 membalik keadaan. Riyadh berkilah, kedatangan pesawat Iran yang membawa delegasi pelayat Houthi dari Teheran melanggar zona larangan terbang yang dikendalikan Arab Saudi.
Houthi tidak terima dan menuding Arab Saudi melanggar gencatan senjata. Maka, mereka menggencarkan lagi serangan ke sejumlah lokasi di Arab Saudi dan pasukan Pemerintah Yaman. Penguasaan Mocha lalu Perim, yang sebelumnya dikendalikan pasukan terafiliasi Pemerintah Yaman, kembali menunjukkan kesuksesan Houthi.
Pada Kamis malam-Jumat dini hari, Arab Saudi dilaporkan menyerang Houthi di Mocha. Walakin, serangan itu tak menghentikan laju pasukan Houthi menguasai titik-titik strategis.
Pusat koordinasi operasi kemanusiaan Yaman yang dikelola Houthi menyatakan, jalur pelayaran Laut Merah aman bagi semua perusahaan pelayaran, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi. Sebelumnya, Houthi menutup Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal terkait Israel dan pendukungnya.
Waktu itu, Houthi belum menguasai Mocha, apalagi Perim. Meski demikian, kapal-kapal terafiliasi Israel dan pendukungnya menjauhi Laut Merah.
Kendali Houthi atas Mocha sekaligus memperkuat daya tawar Iran dalam bernegosiasi dengan AS. Perang AS-Israel dan Iran yang berlangsung lebih dari enam bulan telah memicu lonjakan harga minyak hingga menembus di atas 100 dolar AS per barel.
Beberapa sumber dari Pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa pergerakan Houthi dilakukan dengan arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi menyatakan, negaranya yang bersatu dengan kedaulatan penuh di seluruh wilayahnya merupakan jaminan mendasar bagi keamanan Yaman, Arab Saudi, dan kawasan sekitarnya.
Seusai menguasai Perim atau Mayyun, Houthi kini mengincar Hanish. Gugusan kepulauan itu berada di barat laut Mocha. Jika berhasil mengusai Hanish, praktis Houthi akan mengontrol sepenuhnya Bab el-Mandeb.
Harga minyak
Babak baru pertempuran Houthi-Arab Saudi menambah tekanan pada harga minyak mentah. Harga minyak pekan ini terdongkrak dengan gelombang baru baku serang AS-Iran.
AS menyasar sejumlah tanker Iran. Sebagai pembalasan, Iran menyerang pangkalan dan kapal-kapal AS. Media AS, CBS, melaporkan sejumlah pesawat tempur AS di Jordania rusak akibat serangan Iran.
Rangkaian pertempuran di Timur Tengah itu membuat harga minyak mendekati 110 dolar AS per barel pada Kamis malam. Pada Jumat sore, harga Brent terkoreksi di kisaran 103 dolar AS per barel.
Penguasaan Perim oleh Houthi dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat hingga 25 persen pasokan minyak dan gas bumi global terganggu. Hingga 20 persen melewati Selat Hormuz, sisanya melewati Bab el-Mandeb menuju berbagai pembeli di Asia.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa pasokan minyak dari Arab Saudi ke pasar global hanya 6 juta barel per hari sepanjang Agustus 2026. Turun 2,3 juta barel per hari. Penurunan itu imbas gangguan fasilitas produksi dan distribusi di sekitar Laut Merah.
Arab Saudi telah mencoba mencari bantuan sekutunya untuk menyerang Houthi. Permintaan, antara lain, disampaikan ke AS dan Pakistan.
Washington dan Islamabad dilaporkan sama-sama menolak permintaan Riyadh untuk mengebom Houthi. Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dilaporkan dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump soal serangan itu. Trump menolak.
Pakistan, yang meneken Pakta Pertahanan dengan Arab Saudi pada 2026, menolak karena tiga alasan. Pertama, Islamabad tidak ingin berselisih dengan Iran yang mendukung Houthi. Iran-Pakistan berbagi 909 kilometer perbatasan darat.
Kedua, Pakistan tak ingin ada alasan pecah kerusuhan sektarian. Hingga 20 persen penduduk Pakistan pengikut Syiah. Terlibat menyerang Houthi yang Syiah bisa membuat Pakistan dipandang ikut konflik Sunni-Syiah. Selama puluhan tahun, telah terjadi kekerasan di antara pengikut Sunni-Syiah di Pakistan.
Soal pakta pertahanan, Islamabad berkilah bahwa Pakistan berkomitmen mempertahankan keutuhan teritorial Arab Saudi dan keamanan Kota Suci Mekkah serta Madinah. Pakistan menolak menyerang Yaman. (AFP/AP/REUTERS)
SANAA, JUMAT — Pasukan pemberontak di Yaman, Houthi, mencapai Pulau Perim di tengah Selat Bab el-Mandeb. Penguasaan itu membuat Houthi semakin dekat mengontrol total akses Laut Merah. Harga minyak pun bergejolak.
Sumber-sumber di pemerintahan Yaman mengonfirmasi pasukan Houthi di Perim alias Mayyum, Jumat (11/9/2029). Pulau itu dicapai sehari selepas Houthi merebut Mocha, pelabuhan Yaman di pesisir Laut Merah. Perim berjarak 75 kilometer dari Mocha.
Serial Artikel
Houthi Rebut Kota Pelabuhan Strategis di Yaman, Ekspor Minyak Saudi Terancam
Houthi menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman. Kota ini punya peran vital dalam mengendalikan pengiriman minyak lewat Laut Merah. Harga minyak pun kembali melonjak.
”Perahu-perahu yang membawa pasukan Houthi menduduki Pulau Mayyun setelah pasukan pemerintah mundur dari pulau tersebut, Kamis lalu,” ungkap seorang pejabat lokal. ”Dengan menduduki Mayyun, Houthi menuntaskan pengambilalihan Bab el-Mandeb,” tambahnya.
Kepada kantor berita AFP, pejabat tersebut menjelaskan, pasukan Houthi ditempatkan di wilayah perbukitan. Mereka mengarahkan pantauan langsung ke arah Bab el-Mandeb.
Wakil Presiden Yaman Tarik Saleh, beberapa hari lalu, telah memperingatkan dampak penguasan Houthi pada Perim. Penguasaan atas Perim berarti mengendalikan akses Selat Bab el-Mandeb, alur selatan Laut Merah.
Sejak Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, Selat Hormuz praktis ditutup Teheran. Arab Saudi dan sejumlah eksportir minyak di Teluk Persia coba mengalihkan ekspor lewat Bab el-Mandeb.
Hal itu dimungkinkan karena Houthi masih menahan diri dari menyerang Arab Saudi. Sejak 2022, Houthi dan Arab Saudi yang menyokong Pemerintah Yaman menyepakati gencatan senjata
Namun, serangan Arab Saudi ke Bandara Sanaa pada 13 Juli 2026 membalik keadaan. Riyadh berkilah, kedatangan pesawat Iran yang membawa delegasi pelayat Houthi dari Teheran melanggar zona larangan terbang yang dikendalikan Arab Saudi.
Houthi tidak terima dan menuding Arab Saudi melanggar gencatan senjata. Maka, mereka menggencarkan lagi serangan ke sejumlah lokasi di Arab Saudi dan pasukan Pemerintah Yaman. Penguasaan Mocha lalu Perim, yang sebelumnya dikendalikan pasukan terafiliasi Pemerintah Yaman, kembali menunjukkan kesuksesan Houthi.
Pada Kamis malam-Jumat dini hari, Arab Saudi dilaporkan menyerang Houthi di Mocha. Walakin, serangan itu tak menghentikan laju pasukan Houthi menguasai titik-titik strategis.
Pusat koordinasi operasi kemanusiaan Yaman yang dikelola Houthi menyatakan, jalur pelayaran Laut Merah aman bagi semua perusahaan pelayaran, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi. Sebelumnya, Houthi menutup Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal terkait Israel dan pendukungnya.
Serial Artikel
Rudal Houthi Tembus Jantung Israel
Iron Dome sampai THAAD gagal melindungi Israel dari rudal Houthi. Israel terguncang.
Waktu itu, Houthi belum menguasai Mocha, apalagi Perim. Meski demikian, kapal-kapal terafiliasi Israel dan pendukungnya menjauhi Laut Merah.
Kendali Houthi atas Mocha sekaligus memperkuat daya tawar Iran dalam bernegosiasi dengan AS. Perang AS-Israel dan Iran yang berlangsung lebih dari enam bulan telah memicu lonjakan harga minyak hingga menembus di atas 100 dolar AS per barel.
Beberapa sumber dari Pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa pergerakan Houthi dilakukan dengan arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi menyatakan, negaranya yang bersatu dengan kedaulatan penuh di seluruh wilayahnya merupakan jaminan mendasar bagi keamanan Yaman, Arab Saudi, dan kawasan sekitarnya.
Seusai menguasai Perim atau Mayyun, Houthi kini mengincar Hanish. Gugusan kepulauan itu berada di barat laut Mocha. Jika berhasil mengusai Hanish, praktis Houthi akan mengontrol sepenuhnya Bab el-Mandeb.
Harga minyak
Babak baru pertempuran Houthi-Arab Saudi menambah tekanan pada harga minyak mentah. Harga minyak pekan ini terdongkrak dengan gelombang baru baku serang AS-Iran.
AS menyasar sejumlah tanker Iran. Sebagai pembalasan, Iran menyerang pangkalan dan kapal-kapal AS. Media AS, CBS, melaporkan sejumlah pesawat tempur AS di Jordania rusak akibat serangan Iran.
Rangkaian pertempuran di Timur Tengah itu membuat harga minyak mendekati 110 dolar AS per barel pada Kamis malam. Pada Jumat sore, harga Brent terkoreksi di kisaran 103 dolar AS per barel.
Penguasaan Perim oleh Houthi dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat hingga 25 persen pasokan minyak dan gas bumi global terganggu. Hingga 20 persen melewati Selat Hormuz, sisanya melewati Bab el-Mandeb menuju berbagai pembeli di Asia.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan bahwa pasokan minyak dari Arab Saudi ke pasar global hanya 6 juta barel per hari sepanjang Agustus 2026. Turun 2,3 juta barel per hari. Penurunan itu imbas gangguan fasilitas produksi dan distribusi di sekitar Laut Merah.
Arab Saudi telah mencoba mencari bantuan sekutunya untuk menyerang Houthi. Permintaan, antara lain, disampaikan ke AS dan Pakistan.
Serial Artikel
Arab Saudi Dapat Payung Nuklir Pakistan
Sejak 1967, Pakistan menyediakan pasukan bagi Arab Saudi. Kini, Pakistan memberi payung nuklir untuk keamanan Arab Saudi.
Washington dan Islamabad dilaporkan sama-sama menolak permintaan Riyadh untuk mengebom Houthi. Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dilaporkan dua kali menelepon Presiden AS Donald Trump soal serangan itu. Trump menolak.
Pakistan, yang meneken Pakta Pertahanan dengan Arab Saudi pada 2026, menolak karena tiga alasan. Pertama, Islamabad tidak ingin berselisih dengan Iran yang mendukung Houthi. Iran-Pakistan berbagi 909 kilometer perbatasan darat.
Kedua, Pakistan tak ingin ada alasan pecah kerusuhan sektarian. Hingga 20 persen penduduk Pakistan pengikut Syiah. Terlibat menyerang Houthi yang Syiah bisa membuat Pakistan dipandang ikut konflik Sunni-Syiah. Selama puluhan tahun, telah terjadi kekerasan di antara pengikut Sunni-Syiah di Pakistan.
Soal pakta pertahanan, Islamabad berkilah bahwa Pakistan berkomitmen mempertahankan keutuhan teritorial Arab Saudi dan keamanan Kota Suci Mekkah serta Madinah. Pakistan menolak menyerang Yaman. (AFP/AP/REUTERS)