Houthi telah berkembang dari kelompok pemberontak lokal di Yaman menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam geopolitik Timur Tengah.
17 Mar 2025 15:32 WIB · Internasional
Serangan terakhir Amerika Serikat terhadap kelompok Houthi di Yaman terjadi pada 15 Maret 2025, ketika jet-jet tempur AS menyerang markas Houthi di Sanaa dan Saada. Serangan ini menewaskan setidaknya 53 orang dan melukai hampir 100 lainnya.
Serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Houthi yang diklaim melancarkan pembajakan dan serangan terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Menurut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Houthi telah melakukan serangan terhadap Angkatan Laut AS sebanyak 174 kali dalam 18 bulan terakhir serta menargetkan kapal-kapal komersial sebanyak 145 kali.
Presiden AS Donald Trump berjanji untuk menggunakan kekuatan mematikan sampai Houthi berhenti menyerang dan memperingatkan Iran untuk bertanggung jawab atas aksi kelompok tersebut. Sebagai balasan, Houthi menyerang militer AS dengan rudal dan drone, menargetkan kapal induk USS Harry Truman dan kapal perang pendampingnya.
Serangan ini menandai salah satu eskalasi terbesar dalam konflik antara AS dan Houthi sejak perang Hamas-Israel dimulai pada Oktober 2023. Sebelumnya, AS dan Inggris beberapa kali melancarkan serangan terhadap Houthi sebagai respons terhadap ancaman pada jalur perdagangan global di Laut Merah. Namun, serangan kali ini berbeda karena ada pernyataan langsung dari Trump yang menegaskan bahwa aksi militer tidak akan berhenti sampai Houthi benar-benar kehilangan kemampuan untuk menyerang kapal-kapal di jalur pelayaran tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa AS akan terus melakukan serangan udara terhadap posisi Houthi sampai kelompok itu menghentikan serangannya.
Laut Merah sangat penting karena menghubungkan Eropa dengan Asia melalui Terusan Suez dan Selat Bab al-Mandab. Jalur ini digunakan untuk mengangkut sekitar 12 persen dari total perdagangan dunia, termasuk minyak dan barang-barang konsumsi. Akibat ancaman dari Houthi, banyak perusahaan pelayaran memilih untuk mengalihkan rute mereka melalui Tanjung Harapan di Afrika, yang lebih panjang dan mahal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/26/bcd6522a-ab53-4377-b31f-97a38d640b35_gif.gif)
Pengalihan rute menambah biaya logistik, memperpanjang waktu pengiriman, dan meningkatkan harga barang di pasar global. Dalam jangka panjang, gangguan di Laut Merah dapat berdampak besar pada rantai pasok global dan ekonomi internasional.
Kelompok Houthi bermula di Yaman pada 1990-an dan dikenal secara internasional sejak berhasil merebut pemerintahan Yaman pada tahun 2014. Kelompok ini berakar dari komunitas Syiah Zaydi di Yaman utara dan telah lama berselisih dengan pemerintahan yang didukung oleh Arab Saudi dan sekutu-sekutunya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/17/8cd460c8-980a-4fc7-a89d-7114cd2015d3_jpg.jpg)
Houthi mengklaim bahwa mereka berjuang untuk membela hak-hak rakyat Yaman dari intervensi asing dan dominasi Barat. Sejak mengambil alih Sanaa, kelompok ini menghadapi berbagai intervensi militer dari koalisi pimpinan Arab Saudi, yang didukung oleh AS dan sekutu-sekutunya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Houthi telah memperkuat kemampuannya dengan mengembangkan rudal balistik dan drone yang mampu mencapai Israel serta kapal-kapal di Laut Merah. Mereka juga memiliki jaringan intelijen yang kuat dan kemampuan logistik yang memungkinkan untuk bertahan dari serangan udara berkepanjangan.
Meskipun AS dan Israel telah berulang kali menargetkan fasilitas militer Houthi, kelompok ini masih mampu melancarkan serangan dengan efektivitas yang tinggi. Keberhasilan mereka dalam menghadapi kekuatan militer besar menunjukkan Houthi bukan sekadar kelompok bersenjata biasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/21/5fbb1562-7a22-47cf-978b-5d94c23340bc_jpg.jpg)
Dalam konstelasi kekuatan di Timur Tengah, masa depan Houthi tampaknya masih akan memiliki pengaruh, terutama karena mereka telah membuktikan kemampuan militer yang cukup signifikan. Dengan kemampuan melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta mengganggu jalur perdagangan global, Houthi menempatkan diri sebagai ancaman nyata bagi kepentingan Barat dan sekutu-sekutunya.
Keberhasilan Houthi dalam bertahan dari serangan militer bertahun-tahun menunjukkan bahwa kelompok ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Israel, AS, dan Inggris telah berulang kali menyerang fasilitas militer Houthi, tetapi serangan-serangan tersebut belum mampu sepenuhnya menghentikan kelompok ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, Houthi semakin meningkatkan serangannya terhadap kapal-kapal di Laut Merah sebagai bagian dari solidaritas terhadap Palestina. Mereka menenggelamkan dua kapal dan menyita satu kapal lain, menyebabkan keresahan di industri pelayaran global. Meskipun beberapa negara mencoba menekan Houthi melalui diplomasi, kelompok ini tetap bersikeras bahwa mereka akan terus menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel dan sekutunya. Beberapa analis militer percaya bahwa Houthi menggunakan konflik ini sebagai alat untuk memperkuat posisinya di dalam negeri dan meningkatkan pengaruhnya di kawasan.
Di masa mendatang, Houthi kemungkinan besar akan tetap menjadi bagian dari dinamika konflik regional. Jika perang di Gaza terus berlanjut, Houthi dapat terus menggunakan aksi militernya sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Namun, jika tekanan militer AS dan sekutunya meningkat secara drastis, Houthi bisa kehilangan kekuatan dan wilayahnya di Yaman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/07/11/a0df8c98-8a98-405e-a55b-16d39dae6605_jpg.jpg)
Faktor lain yang dapat menentukan masa depan Houthi adalah stabilitas politik di Yaman. Jika terjadi perang saudara yang lebih besar, Houthi mungkin akan menghadapi ancaman dari kelompok-kelompok bersenjata lain di dalam negeri. Selain itu, posisi Arab Saudi terhadap Houthi turut berperan penting, karena ada indikasi bahwa Riyadh lebih memilih jalur diplomasi daripada konflik berkepanjangan.
Kesimpulannya, Houthi telah berkembang dari kelompok pemberontak lokal menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam geopolitik Timur Tengah. Eskalasi konflik di Laut Merah menunjukkan bahwa kelompok ini masih mampu menantang kekuatan besar seperti AS dan sekutunya.
Selama konflik Israel-Palestina dan ketegangan dengan Iran masih berlanjut, Houthi kemungkinan akan tetap menjadi pemain utama di kawasan, baik sebagai ancaman militer maupun sebagai alat tekanan geopolitik. Sementara itu, dunia internasional masih menghadapi tantangan besar dalam menangani ancaman Houthi, baik melalui jalur diplomasi maupun melalui operasi militer yang lebih intensif.
Catatan: Ringkasan dibuat berdasarkan sejumlah artikel di Kompas.id dengan bantuan mesin kecerdasan buatan (AI) generatif serta tetap melalui pemeriksaan dan pengeditan oleh editor Kompas.
Berikut adalah artikel yang dijadikan bahan untuk membuat artikel ringkasan:
Penulis:
RedaksiEditor:
Mukhamad Kurniawan