Houthi menguasai kota pelabuhan Mocha di Yaman. Kota ini punya peran vital dalam mengendalikan pengiriman minyak lewat Laut Merah. Harga minyak pun kembali melonjak.
11 Sep 2026 11:26 WIB · Internasional
AP Photo/STR
SANAA, JUMAT — Houthi merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mocha di Yaman, Kamis (10/9/2026). Kelompok itu memperkuat posisinya di Selat Bab el-Mandeb, salah satu akses ke Laut Merah yang menjadi jalur penting pelayaran minyak global. Kondisi ini mengancam ekspor minyak Arab Saudi.
Pasukan Houthi bergerak maju menyusuri pesisir Laut Merah menuju pulau-pulau strategis di sekitarnya. Jalur perairan ini menjadi andalan Saudi untuk mengekspor minyak setelah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Mocha terletak sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb. Sekitar 12 persen perdagangan global dikirim melalui perairan yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden tersebut.
Pusat koordinasi operasi kemanusiaan Yaman yang dikelola Houthi menyatakan jalur pelayaran Laut Merah aman bagi semua perusahaan pelayaran, kecuali kapal-kapal milik Saudi. Eskalasi konflik Houthi dan Saudi meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/11/d6eb37184a07bc47e521949fa00a9881-wires_photo_21_.jpg)
Kedua pihak saling serang sehingga membuat situasi di Timur Tengah semakin memanas. Saudi adalah sekutu penting AS di kawasan. Sementara Houthi merupakan proksi Iran di Yaman.
Juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, mengatakan, operasi kelompok tersebut bersifat defensif dan akan berhenti begitu serangan terhadap Yaman dihentikan. Houthi menuding Saudi bertanggung jawab atas serangan udara yang menghantam sebuah penjara di Provinsi Jawf, Yaman bagian utara. Setidaknya tujuh orang tewas, termasuk seorang anak, dalam serangan tersebut.
Houthi membalasnya dengan menyerang sejumlah fasilitas energi di kawasan Arab Saudi selatan. Serangan ini melukai lebih dari 70 orang dan membuat operasional fasilitas yang terdampak dihentikan sementara.
Saat ini, pasukan Pemerintah Yaman dan sekutunya sedang bergerak ke arah selatan menyusuri pesisir Laut Merah menuju Dhubab di Selat Bab el-Mandeb. Mereka menyatakan penguasaan atas Dhubab merupakan kunci untuk menguasai selat itu. Dhubab berjarak sekitar 50 kilometer dari Mocha. Kedua kota berada di Provinsi Taiz yang terletak di barat daya Yaman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/11/c0bba5cff2cce5cde37aad52ded6684d-wires_photo_22_.jpg)
Kendali Houthi atas Mocha sekaligus memperkuat daya tawar Iran dalam bernegosiasi dengan AS. Perang AS-Israel dan Iran yang berlangsung lebih dari enam bulan telah memicu lonjakan harga minyak hingga menembus di atas 100 dolar AS per barel.
Beberapa sumber dari Pemerintah Yaman mengatakan kepada Reuters bahwa pergerakan Houthi dilakukan dengan arahan langsung dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi menyatakan, negaranya yang bersatu dengan kedaulatan penuh di seluruh wilayahnya merupakan jaminan mendasar bagi keamanan Yaman, Arab Saudi, dan kawasan sekitarnya.
Ia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk eskalasi militer Houthi. Menurut dia, salah satu tindakan yang perlu diambil adalah menerapkan langkah-langkah yang melarang pasokan senjata, komponen, teknologi, dan keahlian militer kepada milisi tersebut yang selama ini dianggap memicu konflik.
Pasukan Houthi bergerak maju menyusuri pesisir Laut Merah menuju pulau-pulau strategis di sekitarnya. Jalur perairan ini menjadi andalan Saudi untuk mengekspor minyak setelah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil menyatakan, pihaknya tetap konsisten mendukung perdamaian di Yaman. Namun, negaranya akan mengambil segala langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan Houthi.
”Komitmen Saudi terhadap deeskalasi dan dukungan bagi solusi politik tidak boleh dibiarkan menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh milisi ini untuk melanjutkan serangan serta mengancam keamanan Kerajaan (Saudi) dan kawasan,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan konflik Yaman tidak dapat diselesaikan melalui blokade atau tindakan militer terhadap Houthi. Kementerian itu menyerukan dialog untuk mengakhiri konflik tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/11/b1ab007af5692c9c898ad4ff4544631d-wires_photo_23_.jpg)
”Perdamaian di Yaman tidak dapat dipaksakan melalui bom dan tekanan eksternal. Perdamaian bermula dari negosiasi tulus yang didasarkan pada peta jalan yang telah disepakati oleh pihak-pihak terkait,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei dilansir dari media Iran, Tasnim.
Al Jazeera melaporkan, letak geografis Mocha menjadikan penguasaan kota ini sebagai perhatian global. Lokasinya strategis karena dekat dengan Selat Bab el-Mandeb yang merupakan urat nadi vital bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk menuju Laut Tengah melalui Terusan Suez.
”Penguasaan atas Mocha dapat memberikan kelompok Houthi kendali mutlak di sepanjang selat Bab el-Mandeb,” tulis laporan itu.
Faktor kunci yang membuat Houthi menguasai kota tersebut adalah penarikan mundur Pasukan Perlawanan Nasional (National Resistance Forces) dari medan tempur. Faksi militer propemerintah Yaman ini dibentuk pada 2017 untuk melawan kelompok Houthi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/11/1d1c84cb8de7a6bbd923505f91a0e970-wires_photo_24_.jpg)
Analis kebijakan pertahanan Wolfgang Pusztai mengatakan, kendali Houthi atas Mocha menjadi titik balik dalam perang saat ini. Menurut dia, hal itu dapat berujung pada runtuhnya kekuatan Pemerintah Yaman di wilayah selatan.
”Pelabuhan Mocha adalah pelabuhan terakhir yang sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah yang diakui secara internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik di Yaman dan kawasan sekitarnya. Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk mengakhiri siklus serangan dan serangan balasan serta menahan diri semaksimal mungkin.
Semua pihak diharapkan mematuhi kewajiban masing-masing berdasarkan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional. Selain itu, menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara di kawasan tersebut serta menjamin perlindungan terhadap warga sipil dan obyek sipil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/24/9b3af00a0ba24b3a9cb34fe2f6ef54d4-20260223TAM_06.JPG)
”Indonesia menegaskan kembali perlunya semua pihak mengedepankan dialog dan diplomasi serta kembali pada proses politik yang inklusif, yang dipimpin dan dimiliki oleh pihak Yaman sendiri, demi mencapai penyelesaian politik yang komprehensif dan berkelanjutan, dengan tetap menghormati persatuan, kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Yaman,” tulis pernyataan Kemlu RI di media sosial X.
Konflik di Yaman semakin memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Harga minyak dunia pun kembali melonjak. Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional melonjak hingga 4 persen melampaui 105 dolar AS per barel.
Kondisi itu sekaligus memberikan tekanan kepada Presiden AS Donald Trump yang popularitasnya kian merosot. Trump semakin kesulitan untuk mencari cara dalam menyelesaikan perang Iran. Ia memprediksi perang akan berakhir setelah pemilu sela AS pada November mendatang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/10/18d95faa5c83610c735865083f5cebbf-cropped_image.jpg)
Dalam acara televisi Fox News, Trump ditanya apakah ia menyesali perang dengan Iran mengingat dampaknya terhadap pemilu. ”Jika saya harus mengulanginya, saya akan melakukan hal yang persis sama,” ujar Trump.
Semula, tujuan Trump menyerang Iran adalah untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Iran berulang kali menegaskan tidak berencana mengembangkan senjata nuklir. Fasilitas nuklir hanya digunakan untuk tujuan damai, termasuk di bidang energi dan penelitian.
Iran merespons serangan AS dan Israel dengan memblokade Selat Hormuz. Distribusi minyak dari kawasan Teluk tersendat. Harga minyak pun melambung. AS pun menggeser prioritasnya dengan lebih fokus menurunkan harga minyak yang telah banyak dikeluhkan oleh rakyatnya. (Reuters/AP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase