Hujan bulan Juli bukan lagi anomali yang datang sesekali, melainkan penyimpangan yang menjadi pola baru karena suhu Bumi yang terus memanas.
09 Jul 2025 07:00 WIB · Kolom
Pada tahun-tahun biasa, bulan Juli adalah waktu ketika langit Jakarta dan sekitarnya menjadi terik, udara kering dan polusi menyesakkan dada. Di masa lalu, anak-anak diajarkan bahwa Juli adalah puncak kemarau. Itu karena monsun dari Australia meniupkan hawa dingin dari gurun dan kering. Tapi tahun ini, narasi itu berubah.
Minggu pertama di bulan ini, hujan turun hampir setiap hari. Bukan gerimis, melainkan hujan deras yang mengguyur dari siang hingga malam, menyebabkan banjir. Saluran air meluap, rumah terendam, kendaraan mogok, dan langit muram.
”Kemarau basah diprediksi hingga Oktober 2025,” demikian penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dikutip di sejumlah media. Tapi, ada apa dengan cuaca kita? Bukankah tahun ini El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi netral?
Jawabannya memang tidak mudah. Sebab, langit kini menyimpan mekanisme lebih kompleks dari sekadar musim. Salah satunya adanya Quasi-Biennial Oscillation (QBO), angin stratosfer yang berputar tiap dua hingga tiga tahun di atas khatulistiwa, berganti arah dari timur ke barat, lalu balik lagi. Dan kini, QBO sedang dalam fase timuran (easterly/QBOE).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/07/cd2ddd7c2cebf02613865afaa61e1210-IMG_20250707_214446.jpg)
Bagi masyarakat awam, angin di langit setinggi 20 kilometer mungkin terdengar jauh. Namun, justru di ketinggian itulah dinamika cuaca bumi tropis dibentuk.
QBOE menciptakan kondisi yang memperkuat konveksi: saat udara panas dan lembab naik, membentuk awan tinggi yang lalu meledak jadi hujan deras. Jika ini bertemu dengan denyut basah dari Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang hujan yang bergerak melintasi tropis, maka dampaknya bisa luar biasa. Hujan bisa menggila.
Itulah yang terjadi. Data atmosfer dari BMKG dan NASA menunjukkan QBOE aktif bersamaan dengan hadirnya gelombang MJO di atas wilayah Indonesia.
Ditambah lagi, suhu muka laut di Samudra Hindia dan Pasifik barat lebih panas dari biasanya. Lautan panas adalah bahan bakar bagi badai. Maka terbentuklah awan kumulonimbus yang menjulang, hujan deras, dan banjir di bulan Juli.
Perubahan ini bukan sekadar anomali. Ini bagian dari krisis iklim yang telah mengganggu jam biologis musim di wilayah tropis. Dulu, penduduk di Jakarta dan wilayah lain Indonesia di selatan khatulistiwa, bisa mengandalkan pola sederhana, kemarau dari Mei sampai Oktober, musim hujan dari November sampai April.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/13a145367a3361f021ca2e3657d4a7af-20250708PRI13HR.jpg)
Sekarang semua itu menjadi relatif. ”Juli kemarau” bisa berubah menjadi ”Juli banjir”, dan tak ada yang bisa menjamin bahwa musim akan datang tepat waktu.
Pemanasan global membuat laut semakin panas dan udara semakin lembab. Dengan tiap kenaikan suhu 1 derajat celsius, atmosfer bisa menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air.
Sekarang semua itu menjadi relatif. ”Juli kemarau” bisa berubah menjadi ”Juli banjir”, dan tak ada yang bisa menjamin bahwa musim akan datang tepat waktu.
Hal ini mengakibatkan ketika hujan turun, ia tak hanya basah, tapi ekstrem. Tidak lagi teratur, tapi meledak. Tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pertanian, perikanan, infrastruktur, dan perencanaan kota.
Jakarta bukan satu-satunya yang merasakan. Di belahan dunia lain, fenomena ekstrem tengah berlangsung hampir serempak. Di Texas, Amerika Serikat, banjir besar akibat badai menghanyutkan rumah dan kendaraan pekan lalu, menewaskan puluhan orang yang tengah berlibur di musim panas, dan ribuan orang mengungsi.
Di Eropa, sejak akhir Juni hingga awal Juli 2025, gelombang panas ekstrem memecahkan rekor suhu hingga 46 derajat celsius di Spanyol dan Portugal, serta 33–40 derajat celsius di Inggris, Perancis, Italia, dan Jerman. Rekor suhu ini seharusnya muncul pada Agustus, bukan Juni–Juli.
Penelitian terbaru dari ClimaMeter–CNRS/INSG menunjukkan gelombang panas kali ini 2,5 derajat celsius lebih panas dan 2 milimeter per hari lebih kering dibandingkan peristiwa serupa masa lalu.
Gangguan signifikan ini hanya mungkin karena perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Suhu laut Mediterania dan Atlantik juga mencatat rekor, mendukung munculnya kubah panas (thermal domesi) ekstrem dan kondisi panas berkepanjangan.
Di Afrika Timur, pola musim hujan yang kacau mengancam ketahanan pangan jutaan orang. Sementara di Antartika, suhu mencatat rekor tertinggi musim dingin, memicu mencairnya lapisan es yang selama ini stabil.
Fenomena-fenomena ini bukan kebetulan. Mereka adalah cerminan dunia yang sedang berubah secara sistemik. Cuaca ekstrem yang makin sering, kian parah, dan makin sulit diprediksi adalah bagian dari krisis iklim global yang telah lama diperingatkan para ilmuwan. Dan kini, kita hidup di dalamnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/16/e9dc41bf-d908-4e39-9e95-76ce4721765d.jpg)
Lebih penting lagi, kita perlu menyadari bahwa musim kini tak sekadar ritme alam, tapi medan politik dan moral. Musim yang kacau karena ”mesin iklim” dunia terguncang oleh emisi karbon, deforestasi, dan kerakusan energi. Dunia ini tak hanya memanas, ia jadi makin tak stabil.
Karena itu, kita perlu dua hal sekaligus, yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi berarti menekan sumber-sumber pemanasan global seperti energi kotor, industri boros karbon, dan deforestasi. Sementara adaptasi berarti membangun sistem sosial dan infrastruktur yang lentur, untuk menghadapi ketidakpastian musim dan cuaca.
Jika Sapardi Djoko Damono dulu menulis puisi ”Hujan Bulan Juni” sebagai tanda kesetiaan yang tak terucap, hari ini hujan bulan Juli adalah isyarat dunia yang mulai tak mengenal musim. Inilah zaman ketika cuaca tak lagi setia pada kalender.
Ketidakberaturan ini bukan lagi anomali yang datang sesekali, tetapi penyimpangan yang menjadi pola baru. Kita bakal makin sering melihat langit mengirim hujan saat seharusnya matahari bersinar, dan demikian sebaliknya. Panas menyengat di negeri-negeri yang dulu bersalju, serta lahan hijau di negeri-negeri gurun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/08/80f4c83f8c363694899b64e59870af4c-20250708PRI7HR.jpg)
Hujan dan banjir bulan Juli ini mengingatkan kita bahwa waktu untuk menunda telah habis. Kita tidak bisa lagi menganggap badai sebagai kejutan.
Ia kini adalah tamu tetap dari dunia yang memanas. Kita harus segera bertindak. Untuk bumi. Untuk satu sama lain. Sebelum langit berhenti memberi isyarat, dan hanya menurunkan bencana demi bencana.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase