Dinamika cuaca masih menunjukkan pola peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Cuaca cerah pada siang hari dapat berubah menjadi hujan saat sore atau malam hari.
23 Mei 2025 16:15 WIB · Iptek
JAKARTA, KOMPAS — Beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi masih kerap terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek. Dinamika cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia ini masih menunjukkan pola peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani menyampaikan, berdasarkan analisis klimatologi terkini pada dasarian II Mei 2025, hanya 11 persen zona musim di wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Sementara 73 persen zona musim masih berada pada musim hujan.
”Hal ini menunjukkan bahwa hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (23/5/2025).
Dinamika cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan pola peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau dikenal dengan masa pancaroba. Pada periode ini, pola cuaca cenderung cerah pada pagi hingga menjelang siang hari, lalu berubah menjadi hujan disertai petir pada sore hingga malam hari.
Hujan ini tidak hanya diakibatkan mekanisme konvektivitas lokal yang sering terjadi pada masa peralihan, tapi juga dipengaruhi dinamika atmosfer berskala lebih luas. Dinamika atmosfer ini seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin, serta adanya gangguan tropis di barat daya Bengkulu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/29e664a81e0ab1fbe7f93e7f963e8295-FAK_7387.jpg)
Dari analisis BMKG, saat ini MJO terpantau aktif secara spasial di wilayah selatan Indonesia dan diprediksi konsisten berada di wilayah tersebut hingga beberapa hari mendatang. Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial juga cenderung persisten berada di sebagian wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan.
Fenomena-fenomena tersebut berpotensi memberikan pengaruh signifikan dalam memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan, khususnya di bagian selatan dan tengah Indonesia.
Hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Sementara sirkulasi Siklonik diprediksi berada di perairan barat Lampung, Laut Jawa, Laut Sulawesi, dan di Laut Seram, yang membentuk daerah konvergensi memanjang di Samudra Hindia barat Lampung. Kondisi itu juga berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan sebagai salah satu indikator terjadi cuaca ekstrem.
Di sisi lain, pergerakan massa udara kering dari Benua Australia tetap mengindikasikan penurunan curah hujan di sebagian daerah seiring masuknya musim kemarau. Hal ini memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan serta kenaikan tinggi gelombang di Samudra Hindia Barat Daya Lampung hingga selatan Nusa Tenggara Timur atau NTT.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/6063169095798d2688dc3588ecfa735d-20250522WEN2.jpg)
Terkait dengan prospek cuaca sepekan ke depan, BMKG memperkirakan cuaca di Indonesia selama periode 23-29 Mei 2025 umumnya didominasi kondisi berawan hingga hujan ringan. Namun, perlu juga mewaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di beberapa daerah.
Selain itu, beberapa wilayah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang. Wilayah itu meliputi, antara lain, Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, dan Papua Selatan.
Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut awal musim kemarau tahun 2025 mulai terjadi sejak April dan akan berlangsung secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, musim kemarau tahun 2025 diprediksi akan berlangsung lebih singkat daripada biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.
”Awal musim kemarau di Indonesia diprediksi tak terjadi secara serempak. Pada April 2025, sebanyak 115 zona musim memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan meningkat pada Mei dan Juni, seiring meluasnya wilayah yang terdampak, termasuk sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua,” tuturnya.
Fenomena iklim global, seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), saat ini berada dalam fase netral. Hal ini menandakan tidak adanya gangguan iklim besar dari Samudra Pasifik ataupun Samudra Hindia hingga semester II tahun 2025.
Kendati demikian, suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung lebih hangat dari normal. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga September yang dapat memengaruhi cuaca lokal di Indonesia.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus 2025. Beberapa wilayah, seperti Jawa bagian tengah hingga timur, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku, diperkirakan mengalami puncak kekeringan pada Agustus.
Terkait sifat musim kemarau 2025, sekitar 60 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal, 26 persen wilayah mengalami kemarau lebih basah dari normal, dan 14 persen wilayah lainnya lebih kering daripada biasanya.
”Durasi kemarau diprediksi lebih pendek daripada biasanya di sebagian besar wilayah meski terdapat 26 persen wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih panjang, terutama di sebagian Sumatera dan Kalimantan. Wilayah yang mengalami musim kemarau lebih basah bisa menjadi peluang untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi,” kata Dwikorita.
Penulis:
Pradipta Pandu MustikaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati